Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Mulai Bekerja


__ADS_3

Untuk yang pertama kalinya bagi Kayna menginjakkan kakinya di gedung besar dengan tinggi menjulang ke atas. Kayna merasa sedikit gemetar. Bekerja di perusahaan dengan setatusnya yang masih pelajar jelas sesuatu yang langka. Baginya, teramat beruntung sampai bisa mendapatkannya.


"Sore tuan Natta," sapa beberapa pegawai yang melihat kedatangan Natta bersama dengan seorang gadis.


Hanya mengangguk disertai senyum tipis, Natta tetap melangkah pasti ke depan. Sesekali ia ingin menarik tangan Kayna untuk digenggamnya, namun setiap kali Natta mencoba mengambil tangan Kayna, gadis itu menolaknya dengan cara menjauhkan tangannya.


Keduanya masih menggunakan seragam sekolahnya. Dan itu jelas menarik perhatian karyawan kantor yang lain.


Apa lagi sudah cukup lama Natta memang tidak ke kantor atau membantu urusan bisnis pak Rian. Dengan kedatangan Natta sekarang sudah pasti mereka dapat menyimpulkan bos mudanya akan kembali bekerja seperti dulu.


"Natta," panggil sekertaris ayahnya.


Bukan seorang perempuan cantik dengan tubuh seksi, melainkan seorang laki-laki yang masih sangat muda jika dilihat. Mungkin jarak usia Natta dengan pemuda tersebut hanya sekitar 3-4 tahun saja.


"Bang Rio, kenapa?" tanya Natta membuat pemuda yang Natta panggil sebagai bang Rio itu tersenyum tipis.


Ia sempat melirik ke arah Kayna yang juga mengukir senyum tipis dengan anggukan di kepalanya. Namun hanya sekilas saja karena ia kembali menatap Natta yang sudah cukup lama tidak bertemu.


"Ikut saya Nat, ruangan kamu sekarang dipindah sama pak Rian," beritahu Rio sempat membuat Natta mengernyit. Lalu setelahnya mengangguk tidak keberatan.

__ADS_1


"Antarkan saya bang," titah Natta diangguki oleh Rio.


Memilih untuk terus diam, Kayna hanya mengikuti kemana langkah Natta berpijak. Ia sendiri masih bingung harus melakukan apa, terlebih ini untuk pertama kalinya Kayna akan bekerja dengan Natta.


"Kamu anak bu Mita bukan?" tanya Rio membuat Kayna menoleh.


Gadis itu mengangguk dengan senyum tipis yang sangat manis. "Iya pak," balas Kayna seketika membuat Natta menahan tawa.


Berbeda dengan Rio yang terkekeh seraya menggeleng. "Panggil kak saja, kalau tidak bang Rio seperti Natta, usia kita tidak jauh berbeda," jelas Rio diangguki Kayna dengan senyum tipis.


Melihat Kayna yang memberi senyuman untuk Rio membuat Natta melirik kesal. Ia berpikir larangan Kayna untuk tersenyum kepada orang lain selain dirinya akan Natta terapkan nanti.


"Siapa nama kamu?" tanya Rio sebelum kepergiannya.


"Kayna," balas singkat Kayna.


Rio mengangguk diiringi senyum. "Ganti pakaianmu ya?" ujarnya lalu pamit pergi.


Seakan bingung dengan pekerjaan yang akan dilakukannya. Kayna menoleh ke arah Natta yang sudah tertidur di kursinya. Cowok itu sejak sampai di ruangannya langsung tertidur di kursi kebangsaannya.

__ADS_1


"Aku harus ngapain?" gumam Kayna bingung sendiri.


"Apa iya pekerjaan Natta di sini hanya untuk tidur?" decak Kayna melirik ke arah Natta.


Ia mulai memperhatikan ruangan di sekitarnya. Sangat luas dan bahkan gedung-gedung tinggi lainnya di sekitar kantor ayah Natta dapat dilihat olehnya dari ruangan Natta sekarang. Kayna sempat berdecak kagum. Ini gedung tertinggi yang pernah ia kunjungi. Dan akan menjadi keseharian Kayna mulai saat ini.


Tok


Tok


Tok


Pintu ruangan Natta diketuk dari arah luar. Tidak lama setelahnya seseorang masuk dengan beberapa paper bag yang dibawanya.


"Ini pakain untuk mbak Kayna selama bekerja, saya permisi," ujarnya sopan.


"Makasih mbak," balas Kayna diangguki dengan senyum oleh orang tersebut.


"Jadi baju kerja juga disiapin? kenapa nggak sekalian kendaraannya juga?" gumam Kayna sedikit becanda untuk dirinya.

__ADS_1


"Kamu mau Kay?"


__ADS_2