
Sejak kata-kata Natta tadi, Kayna jadi kurang fokus dengan segala sesuatunya, termasuk obrolan kedua orang tua Natta dan juga mama Mita yang ternyata ikut makan malam bersama dengan mereka. Terlebih sedari tadi, Natta sengaja sekali menjahilinya dengan terus menatap ke arahnya, sesekali Natta juga mengedipkan sebelah matanya yang membuat Kayna ingin muntah rasanya, namun tidak dipungkiri tindakan Natta itu sangat lucu menurutnya.
"Kayna, bagaimana menurut kamu?" tanya mama Mita tidak mendapat respon dari Kayna.
Gadis itu terlalu sibuk mengurusi kejahilan yang Natta tujukan untuknya.
"Kayna," tekan mama Mita seketika membuat Kayna menoleh.
"Em enak kok ma, tante om," balas Kayna tersenyum tipis.
Seketika itu juga kedua orang tua Natta tertawa seraya menggeleng mendengar jawaban dari Kayna. Sementara mama Mita menghela napas cukup dalam. Jika Natta, cowok itu sedang menahan tawanya agar tidak membuat Kayna semakin malu.
"Kamu ini dari tadi mikirin apa sih Kay? masa enak? memangnya Natta pernah ngapain kamu?" tanya pak Rian dengan tawanya.
"Maaf om, maksudnya gimana ya? makanan ini memang enak kok nggak kalah enak sama makanan di rumah om dan tante," jelas Kayna tampak bingung.
__ADS_1
"Jadi dari tadi kamu masih mikirin makanan yang di rumah Kay?" kini bunda Delia bertanya yang membuat Kayna langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan, bukan itu maksud aku tante." Kayna tampak tidak enal hati karena tidak mendengarkan apa yang mereka bicarakan. "Maaf Kay kuranf fokus, soalnya Natta dari tadi gangguin Kay," lanjutnya semakin tidak enak hati.
"Jadi karena Natta? kalau begitu saya yakin sih jawaban kamu pasti iya," ujar pak Rian tampak semangat.
"Jawaban? jawaban apa ya om?" Kayna masih bingung, namun juga penasaran dengan apa yang mereka maksudkan.
"Jawaban aku melamar kamu Kayna," ujar Natta seketika membuat Kayna terdiam dengan rasa terkejut yang teramat dalam.
"Kayna Givana, maukah kamu jadi pendamping hidup aku?" Natta membuka kotak tersebut di depan Kayna.
Terlalu cepat dan tidak mudah untuk Kayna percaya jika itu nyata. Gadis itu menatap mama Mita yang juga sedang menatapnya. Kepala mama Mita mengangguk perlahan, pertanda jika beliau memberi restu jika Kayna menerima lamaran dari Natta. Setelahnya Kayna menatap ke arah kedua orang tua Kayna. Hal yang sama dilakukan oleh kedua orang tua Natta.
"Mama restui kalian Kay," ujar mama Mita tanpas suara.
__ADS_1
Kembali menatap Natta yang sedang menunggu jawabannya, Kayna akhirnya mengangguk menerima lamaran dari Natta. Semua dilakukan secara sederhana dan sangat privasi. Karena memang Natta sendiri yang meminta kepada kedua orang tuanya. Jika Natta melamar Kayna seperti laki-laki kaya pada umumnya, Natra takut jika Kayna tidak menerima lamarannya karena setatus sosial. Natta selalu memikirkan hal kecil yang nantinya bisa saja terjadi. Terlebih Natta sendiri tahu jika Kayna sangat keras kepala.
"Makasih Kay, makasih banyak," ujar Natta memakaikan cincin yang sama dengan cincin yang akan dipakainya juga.
Kayna tersenyum tipis. Sejujurnya meski dia mengangguk, Kayna masih merasa seperti berada di mimpi. Namun pikirannya terpatahkan dengan pesan yang kembali dia dapat sekarang.
Nattaaa
Makasih calon istriku
Setelah membaca pesan yang Natta kirimkan. Kayna menatap Natta yang sedang tersenyum ke arahnya, diam-diam jemarinya mencubit tangannya untuk menyadarkannya dari mimpi indahnya.
"Auw!" pekik Kayna membuat semua yang berada di sana menatap Kayna bingung.
"Kenapa Kay?" tanya mama Mita mendapat gelengan kepala dari Kayna. "Bukan apa-apa ma."
__ADS_1
Ini nyata, bukan mimpi, dan dia benar-benar melamar aku? semudah itu kisah cintaku? batin Kayna menatap Natta di depannya.