
Sekitar pukul 3 siang mereka sampai di sebuah villa besar dengan perkebunan di sekelilingnya. Ada beberapa vila lain yang jaraknya tidak terlalu jauh dari vila yang akan mereka tempati.
Semua turun dengan bawaan masing-masing, tidak terlalu banyak karena rencananya hanya sampai minggu sore.
"Natta!" Sasa berlari kecil menghampiri mobil Dio. Lebih tepatnya menghampiri Natta yang baru saja turun dari mobil.
Tidak menjawab panggilan dari Sasa. Natta menoleh dan menatap ke arah Sasa yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.
"Boleh minta tolong kan? koper aku berat banget Nat nggak bisa bawanya, si Dirga juga udah pergi nggak tahu kemana," keluh Sasa dengan harapan agar Natta mau membantunya.
"Oke," singkat Natta membuat Sasa tersenyum senang.
"Yes," girang Sasa tanpa suara.
Setelah kepergian Natta dan Sasa menuju ke mobil Arka. Olin yang melihat kejadian tadi melirik ke arah Kayna. Tampak Kayna yang melihat kepergian Natta untuk membantu Sasa. Namun tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Olin. Pasalnya Kayna selalu bersikap demikian. Cuek di depan Natta namun terlihat peduli dari kejauhan.
"Kay," panggil Olin lirih.
"Ayo," sela Kayna membuat Olin menghela napas dalam.
Mereka semua masuk ke dalam vila besar yang memang sudah di sewa oleh Dio jauh sebelum mereka datang. Dio dengan bantuan Arka memang yang sudah menyiapkan liburan mereka kali ini.
"Wah...gede banget," ujar Olin tampak takjub.
Airin melirik ke arah Olin, begitu juga dengan Sasa yang melirik Olin meremehkan.
__ADS_1
"Norak," gumam Sasa ditujukan untuk Olin.
"Airin, kenapa mereka harus ikut sih?" tanya Sasa tidak suka dengan adanya Kayna juga Olin.
Airin menatap Sasa dengan diam. Lalu melirik ke arah Kayna dan juga Olin. "Mereka ikut karena diajak Dio," balasnya.
"Tetep aja harusnya nggak usah ikut, ganggu waktu liburan aja," lirih Sasa membuat Airin menatap Sasa dengan kesal.
"Kamu juga ikut karena aku Sa, jadi tolong jangan buat keributan," tekan Airin seketika membuat Sasa mendelik.
Airin berani sekali mengancamnya. Dan itu jelas tidak diterima oleh Sasa.
Lihat saja Airin aku bisa bikin kamu nggak kembali lagi dari sini Batin Sasa menatap kepergian Airin.
Karena cuaca di puncak dingin. Kayna dan Olin sedang membuat minuman hangat untuk menghangatkan tubuh mereka. Juga untuk anak-anak yang lain.
"Hmm," balas Kayna seperlunya.
"Aku nggak betah Kay liat kamu sana Natta kayak gini terus," ujar Olin tidak membuat Kayna menanggapi.
"Kenapa sih kalian nggak baikan aja?" lanjut Olin lagi.
"Natta juga udah terus mencoba buat baikkan sama kamu lagi kan Kay? jangan keras kepala dong Kay," masih terus mencoba membujuk Kayna agar mau berbaikan dengan Natta. Namun sepertinya hasilnya tetap nihil saja. Buktinya Kayna sama sekalo tidak menanggapi obrolan yang menyangkut tentang Natta.
"Ayo Lin bantu aku bawa ini ke depan," ajak Kayna lagi-lagi membuat Olin menghela napas panjang.
__ADS_1
"Lain di mulut lain di hati banget kamu Kay, jangan sampai kamu menyesal nantinya," lirih Olin geleng-geleng kepala.
Di ruang tengah vila. Tampak mereka semua yang sedang berkumpul seraya bernyanyi bersama. Tidak terkecuali Natta yang sedang membawa gitar yang entah dia dapat dari mana. Setahu Kayna tadi Natta hanya membawa ransel sedang yang mungkin isinya saja hanya beberapa baju.
"Minuman hangat datang," seru Olin membuat mereka teriak senang.
"Maap nih ya maap, yang pertama buat kak bos dulu," lirih Olin menaruh cangki besar di depan Dio.
"Yah..si endut mentang-mentang ada bosnya. Ini lagi liburan woy bukan kerja. Bedain lah!" kesal Dirga membuat Olin mendelik.
"Olin, selama masa liburan, kamu nggak perlu bersikap seperti biasa di kafe sama aku, di sini kita teman bukan pegawai dan atasan," ujar Dio diangguki oleh Olin setuju.
"Siap kak bos, eh maksudnya kak Dio!" kekeh Olin membuat mereka semua meneriaki Olin kompak.
"Wait...wait..." Sasa beranjak dari duduknya. Lalu mengambil dua gelas yang masih berada di nampan dan dibawa oleh Kayna.
Setelahnya gadis itu menghampiri Natta yang masih duduk di tempatnya.
"Natt, keluar yuk! suasana sore gini biasanya bagus lho," ajak Sasa membuat Kayna yang memang berada di sana mau tidak mau harus melihat usaha Sasa untuk mendekati Natta.
Dan hal itu membuat hatinya entah kenapa merasa tidak nyaman. Dada Kayna terasa bergemuruh di dalamnya. Meski dari luar tampak biasa aja.
Sebelum menjawab. Natta sempat menatap ke arah Kayna yang sudah duduk seperti tanpa mempedulikannya.
"Bentar, aku ambil jaket dulu," balas Natta membuat senyum Sasa seketika mengembang.
__ADS_1
Tanpa semuanya sadari. Ulah atau tindakan Sasa kepada Natta membuat dua gadis sekaligus yang berada di sana merasa tidak nyaman. Airin yang tetap harus menjaga sikapnya karena adanya Arka. Juga Kayna yang harus menahan sesak di dadanya.
Kata-kata Olin tadi yang mengingatkannya membuatnya terus kepikiran. Natta meski menyebalkan namun sangat banyak yang mengejar jika dilepaskan.