
Ceklek
Pintu ruang inap Kayna terbuka secara perlahan. Terlihat Kayna yang sedang tiduran dengan ponsel di tangannya. Gadis itu sedang berbalas pesan dengan Olin, juga memesan beberapa baju ganti kepada mama Mita yang tadi pamit untuk pulang.
Perlahan Natta mendekat dengan senyum simpul. Hal itu membuat Kayna sedikit menatap Natta dengan rasa penasaran.
Ia merasa aneh dengan gerak-gerik Natta yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Kay, ayo pulang!" ajak Natta seketika membuat bola mata Kayna membola.
Heran saja dengan ajakan Natta yang menurutnya sangat mustahil. Kemarin Kayna sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Aiden, dokter yang menanganinya, namun Natta sendiri yang memaksa Kayna untuk tetap tinggal sampai ia benar-benar pulih, dan kini apa yang Natta ucapkan sangatlah bertolak belakang dengan keinginannya kemarin.
"Kenapa? aku sudah mengurus semuanya. Aiden juga sudah memperbolehkan kamu pulang," beritahu Natta tetap membuat Kayna diam.
Gadis itu menghela napas cukup dalam sebelum berucap. Manik matanya menatap Natta yang sudah sibuk mengemasi barang-barang Kayna di rumah sakit.
"Kenapa mendadak?" Kayna terus mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Natta.
Kegiatannya terhenti. Natta menaruh tas sedang yang kini sudah diisi barang miliknya dan juga Kayna, lalu menghampiri Kayna dan berdiri tepat di depannya.
Tersenyum tipis untuk Kayna. Natta mengelus puncuk kepala Kayna dengan lembut.
"Karena aku sendiri yang mau merawat kamu," ujarnya membuat Kayna mengernyitkan keningnya bingung.
Antara mendengar apa yang Natta ucapkan, namun juga seperti tidak begitu yakin dengan apa yang dia dengarkan. Kata-kata Natta barusan seperti sebuah mimpi bagi Kayna.
__ADS_1
Masih dengan rasa bingungnya. Kayna kembali dibuat terkejut dengan tindakan Natta selanjutnya.
Cup
Untuk yang kedua kalinya Natta mengambil ciuman darinya. Bibir Kayna yang kembali menjadi targetnya, dihitung dari ketika itu sudah 3 kali Natta mencuri kecupannya, namun yang pertama Natta lakukan masih di pipinya. Dan kini Natta semakin berani saja.
"Nat-"
Ucapan Kayna seketika terhenti melihat tatapan dalam dari mata Natta. Entah kenapa niatnya ingin protes atau mengomel tiba-tiba seperti tertahan. Natta punya maghnet untuk menghentikan Kayna.
"Ayo, aku bisa gendong kamu kalau kamu merasa kesusahan," ujar Natta mendapat gelengan kepala dari Kayna.
Menurut apa yang dikatakan oleh Natta. Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Natta seakan sihir bagi Kayna. Gadis itu menuruti apa yang Natta inginkan atau perintahkan. Bahkan untuk sekadar menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan saja rasanya tidak mampu untuk Kayna lakukan.
Baru setelah sampai di mobil Natta. Kayna baru tersadar jika mama Mita sedang pulang untuk mengambilkan pakaian untuknya. Kayna menatap Natta dengan gelengan kepala pelan.
"Tentang tante Mita, kamu tenang aja Kay," balas Natta tidak dapat dimengerti oleh Kayna.
"Maksud kamu?" kening Kayna berkerut menatap Natta.
"Nanti kamu juga akan tahu," balas Natta menatap Kayna penuh arti. Setelahnya ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan parkir rumah sakit.
Selama di perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan, karena Kayna memilih untuk menutup matanya sebelum sampi ke rumahnya. Namun setelah mendengar suara asing yang juga dirasa tubuhnya seperti diangkat. Seketika itu juga Kayna terkejut setelah melihat ia berada digendongan Natta.
"Tolong yang itu juga dibawa mbak," titah Natta diangguki oleh asisten rumah tangganya sopan.
__ADS_1
"Natta!" Kayna reflek menatap wajah Natta yang cukup dekat dengannya.
"Udah bangun Kay?" tanya Natta tidak mendapat jawaban dari Kayna.
Gadis itu sibuk mengamati sekitar yang terlihat sangat asing. Bahkan setiap desain juga bangunannya jauh lebih besar dari ketika ia berkunjung ke apartemen milik Natta.
"Dimana?" tanya Kayna membuat Natta tersenyum tipis.
Karena ia sudah berada di ruang tamu. Di sana tidak hanya ada kedua orang tua Natta saja. Melainkan juga ada mama Mita yang entah bagaimana caranya, Natta meminta ijin beliau untuk merawat Kayna di rumahnya.
"Selamat datang Kayna," ujar bunda Delia reflek membuat Kayna menoleh.
Terbengong dengan keringat dingin mulai bercucuran. Kayna sangat terkejut juga gugup melihat kedua orang tua Natta juga mamanya sendiri. Ia gugup bukan main untuk meminta Natta melepaskannya.
"Turunkan aku," lirih Kayna dengan dada yang sudah sangat berdebar.
"Cium dulu," balas Natta berbisik.
Seketika Kayna melotot menatap Natta dengan kesal. Namun hanya berlangsung beberapa detik saja. Dalam keadaan genting seperti sekarang ini saja Natta masih sempatnya menggodanya.
"Natta turunkan Kayna," titah pak Rian akhirnya diangguki oleh Natta.
Setelah Kayna turun, bunda Delia dan mama Mita langsung menghampiri Kayna.
"Kayna, mau ya tinggal di sini untuk sementara waktu, saya lebih lega kamu dan Natta tinggal di sini dari pada di apartemen hanya berdua," ujar bunda Delia seketika membuat Kayna diam membeku di tempatnya.
__ADS_1
Ia menatap mama Mita dan juga bunda Delia secara bergantian.
Apa yang kamu rencanakan Natta? Batin Kayna dengan kepalan pada tangannya.