
Netra indah milik Kayna memperhatikan rintik hujan yang sudah beberapa menit turun. Seperti janji Natta tadi. Kayna sedang menunggu Natta menjemputnya. Terkesan aneh memang untuk seorang Kayna percaya dan bahkan luluh begitu saja dengan Natta yang terkesan usil dan jahil. Namun menyangkut tentang perasaan, jika seseorang sudah terbawa oleh perasaannya sendiri, sesuatu yang mustahil pun dapat dilakukannya.
Ceklek
Mama Mita datang menghampiri Kayna di kamarnya. Terlihat senyuman dari Kayna setelah kedatangan beliau. Hubungan Kayna dan mamanya sudah baik-baik saja. Meski tidak menjelaskan secara perinci, setidaknya Kayan sudah tahu kenapa bisa selama ini ia hidup tanpa seorang ayah di sisinya.
"Nunggu ojek Kay?" tanya mama Mita diangguki oleh Kayna.
Gadis itu biasanya memang memesan ojek online untuk berpergian termasuk berangkat kerja. Namun kali ini ojek yang Kayna tunggu sepesial tidak seperti biasanya.
Tidak lama setelah itu motor besar milik Natta terdengar sudah sampai di samping rumah. Sudut bibir Kayna seketika tertarik ke atas. Berbeda dengan mama Mita yang juga sudah mengenali suara motor Natta menampilkan wajah piasnya.
"Ma, Kay berangkat dulu ya? ojeknya udah dateng," pamit Kayna menyalami tangan mama Mita.
Hanya bisa mengangguk. Mama Mita memberikan senyum tipis untuk Kayna. Sejujurnya ada rasa ingin mencegah Kayna. Namun entah kenapa tidak beliau lakukan saat ini. Mungkin saja karena hubungan beliau dengan Kayna baru saja membaik tadi.
__ADS_1
"Cantik banget sih," puji Natta sontak membuat Kayna mendelik, namun tetap dipungkiri perasaan senang menyelimuti hatinya.
Lihat saja wajah Kayna memerah karena malu juga senang. Kedatangan Natta tanpa pujian yang baru saja dilontarkan juga sudah cukup membuat Kayna bahagia, namun Natta menambahnya dengan kata-kata yang semakin membuat Kayna senang juga semangat sore ini untuk bekerja.
"Ayo berangkat," ajak Kayna tanpa menjawab pujian dari Natta tadi.
Sebelum benar-benar menjalankan motornya meninggalkan rumah kontrakan Kayna. Natta sempat menoleh ke arah pintu. Tidak ada mama Mita di sana, padahal Natta tahu pasti jika beliau berada di rumah.
Begitu juga sebaliknya. Mama Mita yang sedari tadi mengintip dari jendela kecil kamar Kayna. Beliau melihat kedatangan Natta yang kini telah membawa anaknya pergi.
"Kamu baik Natta, tapi kenapa harus berbohong?" lirih mama Mita mengingatkan akan kejadian dirinya yang dulu.
"Natta, aku sama mama udah baik-baik aja," beritahu Kayan dengan senyumnya.
"Oh ya? bagus dong kalau gitu?" balas Natta seadanya.
__ADS_1
Kepala Kayna mengangguk. "Mama juga udah ceritain tentang ayah, tentang masa lalu mama," kini suara Kayna terdengar berbeda dari yang baru saja ia katakan tadi.
"Apapun masalahnya atau pun keadaannya, jangan sedih ya Kay? tetap semangat. Aku tahu kamu gadis yang luar biasa," ujar Natta diangguki oleh Kayna dengan senyum.
"Makasih Natta," balas Kayna seraya memegang pinggang Natta.
Sampai di kafe cinlok milik Dio. Keduanya sudah disambuy oleh Dio dengan tatapan yang berbeda. Ada perasaan cemburu melihat kedekatan Kayna dan Natta.
Menurut Dio apa hebatnya atau unggulnya Natta selain karena tampangnya? Natta selalu membuat masalah untuk Kayna. Namun Kayna justru bisa menerima begitu saja.
"Di," sapa Natta turun dari motor besar miliknya.
Terlihat Dio menyunggingkan senyumnya. "Natta tolong sampah di belakang buang sekarang, sudah menumpuk dan bau," ujar Dio setelah itu pergi meninggalkan Kayna dan Natta yang terdiam dengan saling tatap.
Beberapa detik berikutnya terdengar tawa dari Kayna . Gadis itu menggeleng seraya menepuk pundak Natta pelan. "Semangat ya Natta! hati-hati suka ada kecoaknya itu sampah," usil Kayna sengaja mengerjai Natta.
__ADS_1
"Kamu nggak mau bantuin aku Kay?" teriak Natta mendapat gelengan kepala dari Kayna tanpa menoleh ke arahnya.
"Ck, si Dio bener-bener," gumam Natta mulai kesal