Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Hampir Khilaf


__ADS_3

Pukul 10 malam. Kayna sudah terlelap dengan tidurnya, meski ia tidur di rumah orang lain, kamar yang asing dan bahkan belum pernah ia singgahi sebelumnya. Namun tidak menyurutkan Kayna untuk tidak menutup matanya atau mempertahankan matanya agar tetap terjaga. Rasa kantuk dan lelah sudah membuatnya terbawa ke alam mimpi sekarang. Bahkan sebelumnya Kayna memang tidak pernah tidur di tempat senyaman itu.


Meski ingin menolak, namun Kayna urungkan ketika kedua orang tua Natta sendiri yang meminta dirinya untuk tinggal.


Ceklek


Pintu kamar Kayna terbuka seketika. Lampu di kamar tersebut sudah tidak seterang tadi, tinggal pencahayaan dari lampu kecil yang memang nyaman untuk beristirahat. Natta dengan langkah sangat pelan masuk ke dalam kamar yang kini ditempati oleh Kayna. Dalam keadaan sangat sadar dan tidak mabuk sama sekali. Entah dorongan dari mana sampai membuat Natta nekat untuk masuk dan mempunyai keinginan yang lebih kepada Kayna. Bukan sekadar melihat keadaan Kayna saat ini saja.


Glek


Susah payah Natta menelan salivanya melihat wajah cantik Kayna dengan pencahayaan lampu yang tidak begitu terang. Kulit putih Kayna terlihat semakin menarik di matanya, dan Natta akui ia menyesali perbuatannya kini yang nekat masuk ke kamar Kayna.


"S**l," umpatnya mencoba untuk bersikap tenang.


Mengenyahkan segala pikiran negatif yang bersarang di otak jahatnya, Natta mencoba untuk mundur secara perlahan. Dengan keadaan malam yang sangat sunyi, di rumahnya sendiri juga disuguhkan dengan wajah Kayna saja sudah membuatnya hampir kalap. Apa lagi jika melihat tubuh Kayna yang memang indah dan sangat menarik perhatian. Mendadak jiwa pemimpin Natta seperti hilang tergantikan dengan pria brengs*k yang mudah tergoyah disuguhkan gadis secantik Kayna.


"Tahan Nat," lanjutnya lagi mencoba untuk keluar dari kamar.


Setelah berhasil sampai di depan kamar Kayna. Natta baru bisa bernapas dengan lega. Ia menggelengkan kepalanya dengan pikiran kotornya sendiri tadi. Selangkah lagi apa yang dilakukannya akan merubah kehidupan Kayna dan juga Natta sendiri. Beruntung tingkat kewarasan Natta tidak dikuasi oleh niat jahat yang ada pada dirinya.


Pagi harinya. Kayna sudah bangun lebih pagi dari biasanya, meski ia tidak pernah bangun siang atau terlambat, namun ini jauh lebih pagi lagi dari biasanya, tidur di ranjang yang sangat empuk membuatnya nyaman dan bisa beristirahat dengan tenang, tidak tahu saja jika tadi malam hampir saja ada singa yang akan memangsanya.


Kayna sendiri tidak enak hati jika bangun lebih siang lagi di rumah keluarga yang terpandang, sementara ia hanya menumpang dengan alasan dari anaknya yang masih kurang ia percayai sampai sekarang, baginya, alasan yang Natta berikan agar ia tinggal di rumahnya tidaklah kuat, namun kedua orang tua Natta sendiri yang meminta dan membuat Kayna segan untuk tidak mengiyakan.


Ceklek


Kayna membuka pintu kamarnya. Di depannya sudah ada paper bag yang ternyata berisi seragam sekolah.


"Keluarga di sini cenayang atau apa sih? tahu aja yang aku butuhin sekarang," gumam Kayna melirik ke arah kiri dan kanan. Setelahnya ia kembali masuk ke kamar untuk mandi dan siap-siap pergi ke sekolah.

__ADS_1


Tidak terlalu khawatir dengan segala peralatan sekolah seperti buku dan lainnya, karena Kayna sangat yakin nanti pasti akan ada kejutan lagi mengenai buku dan semua semua peralatan sekolah yang dibutuhkannya akan tersedia. Tanpa menunggu lama lagi Kayna segera bergegas menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan bersiap, diliriknya jam yang masih menunjukkan pukul 6 pagi. Sempat terkejut karena ternyata Kayna bisa bangun sepagi itu. Dan mungkin saja tadi ketika ia baru membuka matanya langit pun masih terlihat gelap.


Langkahnya pelan menuju ke ruang tengah. Kayna bingung sendiri harus melakukan apa, namun setelah melihat beberapa asisten rumah tangga yang sedang sibuk menyiapkan sarapan membuatnya berinisiatif untuk ikut membantu. Setidaknya dia tidak lagi bingung berada di rumah tersebut.


"Mbak, aku bantuin ya?" ujar Kayna seketika membuat asisten rumah tangga tersebut menoleh ke arah Kayna.


"Nggak usah kak, kakak duduk aja," asisten rumah tangga tersebut tidak memperbolehkan Kayna untuk membantunya. Bukan tanpa sebab ia mengatakan hal itu, namun ia tidak ingin sampai terkena marah dari tuan mudanya.


"Nggak papa, aku bingung mau ngapain," ujar Kayna dengan mata dibuat memelas. "Ya, ya, ya... please....," lanjutnya lagi berusaha meyakinkan.


Dengan sedikit berat hati. Asisten rumah tangga tersebut akhirnya memperbolehkan Kayna untuk ikut membantunya. Namun hanya pekerjaan yang ringan-ringan saja.


"Ya sudah, kakak tolong ambilkan gelas minum saja yang ada di belakang ya? nanti dibawa ke sini," ujarnya diangguki oleh Kayna dengan semangat.


"Siap," balas Kayna mengacungkan jempolnya.


"Lho Kay, udah bangun?" bunda Delia datang dari arah kolam berenang.


Kedatangan beliau membuat Kayna terkejut dan hampir saja menjatuhkan gelas yang sudah berada digenggaman tangannya. Beruntung hal itu tidak sampai terjadi.


"Tante," merasa gugup, Kayna meringis canggung sendiri.


"Kamu haus Kay?" tanya bunda Delia dijawab Kayna dengan gelengan kepala juga senyum tipisnya.


"Enggak tante, aku mau naruh ini di meja makan," balas Kayna apa adanya.


Bunda Delia mengerutkan keningnya bingung. Segera beliau menghampiri Kayna dan mengambil alih gelas yang sedang dibawa oleh Kayna.

__ADS_1


"Kamu nggak usah aneh-aneh deh, udah cantik pakai seragam juga, sini biar tante yang bawa ini kamu tolong bangunin Natta di kamarnya ya? Kamar Natta pojok atas sana," beritahu beliau diangguki oleh Kayna.


Menurut saja apa yang dikatakan oleh ibu dari atasannya itu. Hanya membangunkan Natta saja tidaklah sulit menurut Kayna.


Tok


Tok


Tok


Kayna mencoba untuk mengetuk pintu kamar Natta yang masih tertutup, namun belum juga mendapat jawaban dari dalam. Ia kembali melakukan hal yang sama untuk beberapa kali.


"Natta!" panggil Kayna tetap tidak mendapat jawaban.


Ragu-ragu akhirnya Kayna membuka pintu kamar Natta yang ternyata tidak dikunci. Itu memudahkan Kayna untuk segera masuk ke dalam


Terlihat bagian rambut Natta yang tidak tertutup oleh selimut. Namun wajah Natta tidak terlihat sama sekali tenggelam dibalik selimut tebal miliknya.


Ketika masuk ke kamar Natta. Hal yang pertama kali Kayna rasakan selain kekaguman besarnya ruangan juga interior yang sangat indah dan elegan namun juga tertata rapih, Kayna juga bisa merasakan hawa dingin yang seakan menusuk ke dalam tulangnya, AC yang Natta nyalakan sangatlah dingin.


"Natta bangun!" ujar Kayna mencoba untuk membangunkan Natta.


Kembali tidak mendapat respon dari Nata, Kayna masih terus berusaha untuk membangunkan Natta. Ia menyibakkan selimut yang sedari tadi menutupi hampir seluruh bagian tubuh Natta terkecuali rambut.


Mata Kayna dibuat melotot ketika Natta dengan sengaja menarik Kayna untuk masuk ke dekapannya. Tidak siap dengan perlakuan Natta membuat tubuh Kayna limbung dan jatuh tepat di atasnya. Dengan mata tertutup, Natta menyudutkan bibirnya membentuk senyum, sangat tampan meski ia bisa dikatakan belum terbangun dari tidurnya.


"Natta lepas!" tolak Kayna setelah sadar posisi mereka saat ini sangat tidak menguntungkan untuknya.


Bukannya menjawab, Natta justru kembali tersenyum tipis yang jika Kayna lengah sedikit saja sudah pasti ia akan terhipnotis.

__ADS_1


"Kamu bukan tahanan Kay."


__ADS_2