
Duduk di pinggiran kolam berenang seorang diri cukup membuat Natta merasa tenang. Ia sibuk mengamati bintang-bintang di atas sana yang membuat suasana malam semakin terasa dingin. Namun tetap tidak membuat Natta berpaling dari tempat itu. Malam ini tempat terindah dan ternyamannya di sana. Lebih tenang dengan cahaya biru yang muncul dari air kolam.
"Sendiri Nat?" Olin datang memberanikam diri untuk menghampiri Natta yang sedang duduk seorang diri.
"Duduk aja," balas Natta diangguki oleh Olin.
Karena berat badannya yang cukup lumayan berat. Olin sedikit kesusahan ketika akan duduk di pinggiran kolam. Hal itu sontak membuat Natta tidak bisa menahan tawanya.
"Lucu," komentar Natta sontak membuat Olin mendelik.
"Lucuan mana sama yang galaknya kayak singa?" goda Olin membuat Natta terkekeh.
"Dua-duanya lucu, bedanya..dia sangat susah untuk digapai lagi," ujar Natta membuat Olin mencebik.
"Kamu kira aku mudah digapai gitu?" kesal Olin mendapat kekehan kembali dari Natta.
Keduanya duduk di pinggiran kolam seraya mengobrol kecil. Bahkan sesekali Olin sengaja mengungkit tentang asal-usul Natta yang sudah Olin ketahui.
__ADS_1
Perlu kalian tahu saja. Di hari kedua Natta tidak masuk ke kafe. Ayahnya kembali datang ke kafe dan mempertanyakan keberadaan Natta. Sampai akhirnya tanpa sengaja Olin mendengar percakapan di antara Dio dan juga pak Rian yang baru Olin ketahui sebagai ayah dari Natta.
"Kocak banget kamu, hidup udah enak milih ngegembel," komentar Olin membuat sudut bibir Natta seketika tertarik ke atas.
"Kalau nggak gini aku nggak mungkin ketemu teman kamu," balas Natta diangguki Olin pelan.
"Udah mendarah daging banget ya perasaannya?" goda Olin membuat Natta terkekeh kecil.
"Aku sempat memiliki tapi tak sempat membuatnya bahagia," lirih Natta menatap jauh ke depan.
"Semua akan cepat berlalu kalau kalian mau menyingkirkan ego kalian Nat, dan saran aku. Kamu secepatnya jujur," beritahu Olin sengaja mengompori.
Tidak lama dari obrolan keduanya. Dio dan Kayna tiba-tiba datang, keduanya baru saja kembali setelah tadi keluar.
"Lho kok udah balik aja?" tanya Olin melihat kedatangan keduanya.
Sontak saja Natta langsung menoleh ke arah Kayna juga Dio.
__ADS_1
"Kay nggak enak badan," balas Dio tampak sedikit raut kecewa pada wajahnya.
Olin mengangguk kecil. Namun sudut bibirnya seketika tertarik ke atas seraya menatap wajah Kayna. Setelahnya ia beranjak dengan kembali dibantu oleh Natta untuk menghampiri Kayna.
"Ke kamar yuk!" ajak Olin diangguki oleh Kayna.
Di kamar Olin tersenyum tipis melirik Kayna yang sedang berganti pakaian.
"Ngapain aja tadi?" kepo Olin.
"Jalan aja," balas Kayna membuat Olin mengangguk kecil.
"Padahal aku sama Natta aja yang cuma duduk di pinggiran kolam bisa ketawa-tawa, kamu nggak ngobrol Kay sama kak bos?" tanya Olin dengan bodohnya.
"Kamu udah lama sama dia tadi?" tanya Kayna mendapat gelengan kepala dari Olin.
"Baru berapa menit aja sih. Tapi udah banyak yang diomongin, nggak kayak kamu diem jalan sama kak bos tapi pikirannya ke cowok lain," ujar Olin membuat Kayna menatap Olin dengan diam.
__ADS_1
Antara ingin marah dengan Olin. Namun apa yang dikatakan olehnya memang benar. Meski yang jalan bersama dengan Kayna ialah Dio namun yang ada dipikiran Kayna justru Natta.
"Berhenti buat bohongi perasaan kamu Kay, berhenti bersikap cuek kayak gini sama Natta sebelum kamu benar-benar nyesel nantinya," tekan Olin menatap Kayna beberapa detik. Setelahnya gadis itu menarik selimut sampai menutupi wajahnya.