Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Gagal Pulang Bareng


__ADS_3

Kayna sedang bersiap untuk pulang setelah sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya. Pegawai yang lain juga melakukan hal yang sama seperti dirinya. Olin yang sedari tadi tidak mendapat kesempatan untuk mengobrol dengan Kayna menghampiri Kayna yang sedang mengambil tas kecil miliknya.


"Kayna!" panggil Olin menghampiri Kayna.


Gadis itu menoleh. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat kedatangan Olin. "Dari mana aja kamu?" tanya Kayna membuat Olin merotasikan bola matanya jengah.


"Nanyak lagi, beres-beres lah," sewot Olin mendapat kekehan Kayna.


"Kamu mau pulang Kay?" tampak Olin yang melihat Kayna sudah siap untuk pulang. Tetapi kali ini Kayna tampak lebih cantik dan wangi dari biasanya.


"Hehem. Ada ojek geratis," bisik Kayna dengan cengiran pada bibirnya.


Tidak lama setelah mengatakan itu. Dio tiba-tiba datang menghampiri Kayna. Sontak saja membuat Olin cekikikan tidak jelas.


"Oh kak bos ya? kirain si ganteng Natta," bisik Olin menyenggol lengan Kayna.


Kepala Kayna menggeleng pelan. Memang Natta yang dia maksudkan, tetapi kenapa malah Dio yang datang? sementara Natta tiba-tiba menghilang bak di telan bumi.


"Kay, pulang bareng yuk! jawabannya nggak boleh sama seperti waktu itu," ajak Dio juga tidak ingin kembali mendapat penolakan dari Kayna.


Masih bingung harus menjawab bagaimana. Karena yang Kayna harapin yang memang Natta bukan Dio, tetapi tidak lama setelah itu ponsel miliknya bergetar.


"Bentar ya kak?" balas Kayna diangguki Dio dengan senyum.


"Aku tunggu di mobil Kay," beritahu Dio setelah itu pergi menuju ke mobil miliknya.


Buru-buru Kayna mengambil ponselnya yang tadi sudah dia taruh di tas. Benar saja Natta yang mengirimkan pesan memberitahu jika tidak bisa pulang bersama.


+21111100000

__ADS_1


Kay sorry, aku pulang duluan


Ada urusan mendadak


Hati-hati ya cantik


Terdengar helaan napas dari Kayna setelah membuka isi pesan yang Natta kirimkan. Tidak berniat untuk membalas, Kayna akhirnya memasukkan dan berjalan menghampiri Dio yang sudah menunggunya.


"Mau bagaimana lagi," gumamnya tampak putus asa.


"Natta ya yang kirim pesan? nggak papa sih sekali-kali pulang sama kak bos, enak tahu nggak kena angin sama hujan," ujar Olin menyemangati Kayna.


Melirik Olin yang sedang berusaha memberi semangat untuk Kayna. Gadis itu malah semakin terlihat murung. Namun detik berikutnya ide cemerlang muncul di otak cerdasnya.


"Ayo buruan udah malam!" Kayna menarik tangan Olin untuk mengikutinya.


Terpaksa ia kembali karena neneknya yang tinggal di bandung tiba-tiba datang dan ingin bertemu dengannya.


Melihat neneknya yang sudah terlelap dengan tidurnya. Barulah Natta bisa bernapas dengan lega. Pela-pelan ia mulai beranjak dan melangkah keluar dari kamar yang neneknya kini tempati. Barulah setelah Natta benar-benar tidak terlihat nenek yang tadi ditemani olehnya membuka mata dengan cengiran pada wajahnya.


"Sepertinya berhasil," gumam beliau dengan senyum kecil. Lalu benar-benar menutup mata.


Kedua orang tuanya terlihat masih berada di ruang tv bersama. Natta menatap dengan jengah, namun tidak dipungkiri jika melihat bundanya ia juga memiliki rasa rindu.


"Sayang, apa oma sudah tidur?" tanya bunda Deli bangkit melihat kedatangan Natta.


"Sudah nda," balas Natta dijawab senyuman oleh bunda Delia.


"Sini dulu sayang," ajak bunda Delia untuk ikut duduk bersama dengan mereka di ruang tv.

__ADS_1


Tidak membantah juga tidak menjawab dengan ucapan. Natta duduk di sebelah bundanya tanpa melirik sekalipun ke arah ayah Rian. Begitu juga dengan ayah Rian yang seperti tidak melihat adanya Natta di sana. Beliau masih fokus dengan layar besar di depannya.


"Begini sayang, tolong sampai oma sembuh saja kamu di sini," ujar bunda Delia langsung pada intinya.


Natta memang sudah menebak hal itu akan terjadi. Namun ia bersikap untuk tetap tenang.


"Kenapa bunda? bukankah nenek baik-baik saja?" tanya Natta enteng.


"Ngawur kamu, tadi lihat sendiri kan bagaimana oma? kasian oma kangen sama kamu sampai sakit Natta," jelas bunda Delia lagi.


Pak Rian sama sekali belum mengeluarkan suaranya sedari tadi.


"Oma baik-baik saja nda, tapi memang Natta akui akting oma cukup lumayan," ujar Natta kali ini membuat ayah Rian menoleh.


"Apa maksud kamu Natta?" suara beliau baru saja terdengar setelah tadi memilih untuk diam.


"Saya tidak bermaksud apa-apa, tetapi kalau anda menyuruh oma sebagai alat anda untuk membuat saya bertahan di sini, anda salah besar," balas Natta seketika membuat ayah Rian terkekeh.


Menyadari hal itu membuat Natta merasa aneh. Kenapa bisa ayahnya malah tertawa.


"Bunda, Natta pergi," pamit Natta berniat untuk pergi.


Seperti ketika datang. Natta tidak membawa suatu barang apapun dari rumah orang tuanya. Ia melangkah menuju pintu keluar. Namun langkahnya kembali terhenti saat di depan matanya sudah berdiri seseorang yang sangat ia kenali dan juga cukup Natta segani.


"Tante Mita."


_____


Gaes harusnya ini up kemarin, tapi dua-duanya masih direview dari siang jam 12san belum lolos juga sampai sekarang. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2