
Pukul 12 kurang. Motor Natta sudah terparik rapih di samping rumah kontrakan Kayna. Persis di sebelah jendela kamar gadis itu. Hanya saja ada pagar besi yang tidak terlalu tinggi sebagai batasnya.
Ting
Sengaja Natta mengirimkan pesan kepada Kayna. Memberitahu jika ia sudah sampai dan menunggu di sebelah jendela kamarnya. Mengetahui pesan dari Natta membuat Kayna langsung menyambar jaket juga ponselnya. Ia benar-benar pergi dari rumah dengan keadaan yang masih cukup kalut.
Deg
Bukan jantung Kayna yang seakan berdetak dengan cepat. Melainkan jantung Natta melihat Kayna juga dengan penampilan apa adanya dia. Entah karena Natta tidak tidur di rumahnya atau karena apa sampai membuat Kayna hanya memakai celana pendek di atas lutut. Biasanya gadis itu selalu memakai baju tidur panjang meski dengan atasan pendek.
Glek
Dalam keadaan seperti sekarang ini. Natta masih sempat-sempatnya berpikir yang tidak-tidak. Maklum saja sebagai cowok normal berdua dengan seorang gadis tengah malam jelas membuat pikiran yang tidak-tidak muncul seketika di otaknya. Terlebih gadis itu yang sudah menarik hatinya.
"Ayo!" ajak Kayna membuyarkan lamunan Natta.
Kepalanya mengangguk. Natta memposisikan dirinya siap untuk membawa pergi dari rumah Kayna.
__ADS_1
Selama di perjalanan Kayna diam tanpa sepatah kata. Begitu juga dengan Natta yang mulai kebingungan sendiri membawa Kayna kemana. Tidak mungkin kan Natta membawa ke apartemennya.
"Kay," panggil Natta tidak mendapat respon dari Kayna.
Diliriknya wajah gadis itu dari kaca spion. Sempat terkejut melihat wajah Kayna yang sudah dibasahi dengan air mata. Kayna menangis, Kayna benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
Segera Natta mencari tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol. Jika sudah seperti itu Kayna jelas sedang tidak baik-baik saja. Biasanya gadis itu sangat keras kepala dan juga angkuh, bahkan Natta merasa gadis seperti Kayna tidak akan mengeluarkan air mata jika bukan untuk sesuatu hal yang sangat menyayat atau masuk ke relung hatinya.
"Suka ngerasa aneh seorang Kayna yang galaknya minta ampun bisa nangis," ujar Natta setelah mereka duduk di taman yang pernah mereka kunjungi beberapa waktu lalu.
Bedanya sekarang keadaan taman sudah sangat sepi karena tengah malam. Hanya ada segelintir orang yang masih berada di taman tersebut.
"Natta, kamu udah tahu kan kalau aku dari kecil tumbuh tanpa sosok seorang ayah?" terdengar helaan napas dari Kayna.
Sementara Natta hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Selama ini aku nggak pernah menanyakan tentang itu ke mama, tetapi bukan berati aku nggak ingin tahu siapa ayah aku," lanjut Kayna diangguki paham oleh Natta.
__ADS_1
Sejujurnya Natta sendiri bingung ingin memberi jawaban seperti apa. Hubungannya dengan Ayah Rian saja tidak sebaik layaknya seorang ayah dan anak.
"Aku sakit lihat mama sama laki-laki lain sebelum tahu siapa ayah aku, kenapa mama nggak coba jelasin atau paling tidak kasih tahu ke aku?" air mata Kayan semakin mengalir.
Mau tidak mau Natta mencoba menenangkan Kayna dengan cara menarik tubuh gadis itu untuk masuk ke dekapannya.
Kay-Kay. Gimana tante Mita bisa tahu keinginan kamu kalau kamunya aja nggak coba nanya? Batin Natta dalam hati.
Makin gemes lanjut Natta.
Melepaskan pelukannya. Natta menatap Kayna dengan jemarinya yang mulai berani merapihkan anak rambut gadis itu. Biasanya Kayna akan sangat galak seperti singa, namun kali ini singa itu menjinak.
"Kay, bisa saja untuk saat ini apa yang tante Mita lakuin itu terbaik buat kamu. Mungkin saja ada sesuatu hal yang belum siap beliau buat jelasin, kita nggak pernah tahu Kay gimana sebenarnya orang tua kita berusaha buat bahagiain kita," ujar Natta menatap Kayna lalu menatap ke lain arah.
"Terkadang masalah itu ada dikitanya sendiri," lanjut Natta menggambarkan bagaimana dirinya sendiri.
"Tapi mulai sekarang. i wiil always be there for you," senyum manis dan tulus Natta dapat Kayna lihat. Tanpa disadari Kayna ikut tersenyum bersamaan dengan kepalanya yang mengangguk.
__ADS_1
"Kalau gitu antar aku pulang lagi sekarang," ujar Kayna tersenyum manis.
Sabar Nat sabar. Ini bagian dari perjuangan cinta kamu batin Natta sedikit berontak namun mencoba untuk tetap tenang.