
Pukul 9 malam. Motor besar milik Natta sudah berhenti di depan pagar rumah Kayna. Sengaja Natta mengantar Kayna pulang setelah keduanya pulang bekerja di kafe Dio tadi. Gadis itu turun lalu menyerahkan helm berwarna hitam yang dibelikan oleh Natta waktu itu.
"Nih," ujarnya menyerahkan helm tersebut.
"Kenapa nggak dibawa aja?" heran Natta mendapat gelengan kepala dari Kayna.
"Bawa kamu aja, siapa tahu kangen sama aku," ujarnya mendapat kekehan dari Natta.
Entah kenapa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Kayna membuat Natta semakin gemas dan reflek mengajak rambut gadis itu pelan.
"Tambah nyiksa tahu! bener kata Dylan, rindu itu berat dan aku yakin nggak akan mampu untuk menahan," balas Natta membuat Kayna terkekeh seraya menepuk pelan lengan Natta.
"Apa sih? sekarang mulai ngegombal ya? bukan kamu banget deh," balas Kayna geleng-geleng kepala.
"Dah gih masuk udah malam," titah Natta diangguki oleh Kayna.
"Kamu nggak mau masuk dulu bentar atau-"
__ADS_1
"Apa? tidur di rumah kamu?" sela Natta membuat Kayna tersenyum.
"Pengennya si gitu, tapi takut nggak bisa kontrol. Soalnya bawaannya pengen nyerang mulu deket kamu," goda Natta membuat Kayna mendelik juga disertai senyuman.
"Ya udah ya aku masuk!" pamit Kayna diangguki oleh Natta.
"Malam Kayna, mimpi indah," ujar Natta tersenyum tulus.
"Natta juga," balas Kayna malu-malu.
Setelah kepergian Natta. Kayna masuk ke dalam rumah dan langsung mendapati mama Mita yang sedang duduk menunggu kepulangannya di ruang tamu.
Kayna yakin sejak tadi mama Mita sudah melihat apa yang dilakukannya bersama Natta di depan rumah. Dan entah kenapa sekarang sikap mama Mita juga berubah terhadap Natta. Entah itu sejak kejadian malam itu atau memang karena ada hal lain yang membuat mama Mita bersikap demikian. Namun yang jelas Kayna dapat merasakannya.
"Mulai sekarang jangan dekat dengan dia lagi Kay," ujar mama Mita tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Kayna membuat mama Mita menghela napas cukup dalam.
__ADS_1
Sejujurnya beliau sendiri tidak yakin itu keputusan yang terbaik untuk putrinya atau malah sebaliknya. Melihat senyum Kayna tadi ketika bersama dengan Natta membuat kebimbangan muncul dalam lubuk hati mama Mita yang paling dalam. Bagi beliau kebahagiaan Kayna segalanya, namun rasa takut akan Kayna mendapat kekecewaan juga tidak bisa beliau hindari. Terlebih setelah tahu siapa Natta sebenarnya.
"Mama nyuruh aku buat jauhin Natta?" tanya Kayna menatap mama Mita yang terdiam tidak bisa menjawab pertanyaannya tadi.
"Kenapa ma? setidaknya beri aku satu alasan kenapa aku nggak boleh dekat sama Natta lagi?" tuntut Kayna.
"Mama cuma takut kamu terluka sayang," tatapan mata mama Mita begitu dalam menatap manik mata Kayna. "Mama nggak mau kamu sampai dicam-"
Ucapan mama Mita terhenti tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya. Rasanya sakit hati beberapa belas tahun yang lalu kembali datang setiap kali ingin mengatakan hal yang sama. Luka terdalam dan ketakutan terbesar beliau selama ini selalu menghantui.
"Apa yang sebenarnya mama inginkan? kenapa mama berubah sama Natta? bukankah dulu mama selalu dukung Natta apa saja yang dilakukannya? Mama beri Natta tumpangan untuk berteduh, mama beri dia perhatian seperti mama perhatian ke aku kenapa sekarang mama berubah?" Kayna mulai tidak bisa mengerti jalan pikir mama Mita.
Dulu ketika Kayna belum ada rasa, Kayna masih selalu menyimpan kekesalan terhadap Natta justru mama Mita sendiri yang terkesan menggoda untuk mendekatkan mereka. Dan kini ketika keduanya sudah semakin dekat dan bahkan saling menyimpan rasa, semua yang mama Mita tunjukan dulu seketika sirna.
"Mama lupa? mama sendiri belum jelasin siapa laki-laki malam itu, mama cuma-"
"Kamu sama Natta berbeda," ujar beliau menatap Kayna sekilas. Setelahnya langkah pelan beliau mulai menjauhi Kayna bersamaan dengan dada yang begitu sesak.
__ADS_1