
Berdiri berdiri di sebelah Kayna. Mata Natta tidak terlepas sama sekali dari Kayna yang terbaring di depannya. Bahkan dokter sudah beberapa kali menyarankan Natta untuk menunggu di luar atau duduk si sebelahnya.
Adanya Natta di sana malah membuat beberpaa dokter yang sedang menangani Kayna sedikit mengalami kendala. Karena Natta sama sekali tidak mau menyingkir dari posisinya kini berada.
"Natta, jangan egois kamu, minggir dulu!" titah dokter yang ternyata masih kerabat dengan keluarga Natta.
Namanya dokter Aiden, beliau juga masih mudah dengan wajah yang tidak kalah tampan dari Natta. Hal itu memicu rasa tidak rela dari Natta untuk meninggalkan Kayna yang akan ditangani oleh saudaranya.
"Tidak, aku bertanggung jawab atas dia," balas Natta seketika membuat Aiden menghela napas panjang.
"Kamu yang telah melukainya?" tanya Aiden membuat Natta menggeleng.
"Bukan, tapi dia pegawaiku," balas Natta tidak dipercaya oleh Aiden.
Mana bisa seorang gadis yang masih bersetatus sebagai pelajar sudah bekerja dengannya. Setahu Aiden Natta ini CEO FCT grup. Orang yang bekerja pun tidak sembarangan.
"Ya sudah, kalau kamu mau tahu hasilnya kamu harus menyingkir Natta, kita akak kesulitan kalau kamu tetap berdiri di sini," usir Aiden membuat Natta menatap Kayna yang juga sedang menatapnya.
"Natta," lirih Kayna diangguki oleh Natta dengan terpaksa.
__ADS_1
Tidak keluar dari ruangan tersebut. Natta memilih untuk mundur beberapa langkah. Ia jelas masih sangat tidak rela meninggalkan Kayna setelah apa yang menimpa pada gadis itu.
Sementara di sekolah. Berita tentang Natta yang menggendong Kayna dengan keadaan Kayna yang jelas terlihat seperti telah terjadi sesuatu langsung menyebar. Olin salah satu gadis yang kini sedang terisak dengan tangisnya dan ijin untuk pulang terlebih dahulu. Tujuannya sekarang ialah Kayna. Ia sama sekali tidak menyangka jika gadis galak dan pemberani seperti Kayna akan mengalami hal yang menurutnya sangat mustahil.
"Kay," lirihnya sudah berada di dalam bus untuk menuju ke rumah sakit.
Tidak terkecuali Airin yang mendengar berita tersebut. Bahkan Airin sengaja mencari tahu kepada teman-teman sekelasnya, sampai dimana ia tanpa sengaja berpapasan dengan Sasa. Gadis yang menjadi rivalnya namun juga teman untuknya. Teman jika yang melihat orang-orang yang tidak tahu bagaimana fake nya Sasa.
Kayna, apa itu ulah dia?" Batin Airin menatap ke arah Sasa yang kini sedang berjalan melewatinya.
"Sasa!" panggil Airin menghentikan langkah gadis itu.
Bukan langsung menodong Sasa sebagai pelaku dibalik kejadian Kayna. Melainkan Airin masih mengamati Sasa tanpa berkata.
Jengah terus ditatap oleh Airin seperti itu. Sasa tersenyum simpul, ia sengaja mendekatkan wajahnya lalu tersenyum tipis bak iblis.
"Siap-siap Airin, sebentar lagi kamu akan terhempas!" ujar Sasa tersenyum licik. Setelahnya ia pergi meninggalkan Airin yang sedang kebingungan.
Apa yang Sasa maksudkan sama sekali tidak Airin mengerti. Namun hati Airin seperti bisa merasakan firasat buruk untuknya.
__ADS_1
Selesai memeriksa keadaan Kayna. Natta langsung menghampiri dokter Aiden yang sedang tersenyum simpul menatap wajah tegang Natta saat ini.
"Bagaimana keadaan dia?" tanya Natta tidak langsung dijawab oleh Aiden. Namun hal itu rupanya memicu emosi Natta. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Kayna.
"Jawab bege!" umpat Natta mencengkram kerah dokter Aiden.
"Sante Nat! nggak usah keset***n gini, lepas!" balasnya membuat Natta akhirnya melepaskan cengkraman tangannya.
"Dia baik-baik saja, hanya saja untuk saat ini seperti mengalami traumatik karena kejadian yang dialaminya, tapi itu tidak terlalu parah, dia akan segera pulih kembali," jelas dokter Aiden diangguki oleh Natta.
"Jadi apa Kayna masih virgin?" tanya Natta seketika membuat dokter Aiden terdiam bingung. Baru setelahnya beliau menahan tawa mendengar pertanyaan Natta barusan.
"Kenapa? apa aku salah menanyakan hal itu?" tanya Natta mendapat gelengan kepala dari Aiden.
"Tidak Natta, tapi kalau kamu mau tahu, kamu coba tanya langsung saja," ujar Aiden menepuk pundak Natta.
Setelahnya ia pergi bersama rekan dokter yang lainnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas mengingat apa yang akan terjadi dengan Natta jika dia berniat menanyakan hal itu.
"Siapkan mental kamu Natta," gumamnya menggeleng.
__ADS_1