Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Masih Cemburu


__ADS_3

Tampak gelisah di kamarnya. Kayna terus saja menatap ke luar dari jendela. Sore yang mulai petang membuat perasaannya semakin tidak terkendali mengingat Natta yang sedang diluar bersama dengan Sasa. Kayna tahu betul gadis seperti Sasa. Namun menurut Kayna Sasa masih tidak terlalu menakutkan dibanding dengan Airin yany bersembunyi dibalik sikap manisnya.


"Kay, sini deh," ujar Olin membuat Kayna menoleh.


Gadis itu menghampiri Olin yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Apa?" tanyanya mendekat.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan dari luar pintu seketika membuat keduanya saling menatap. Padahal niatnya tadi Olin ingin mengajak Kayna keluar agar bisa memantau Natta yang sedang bersama dengan Sasa.


"Bentar deh Lin," ujar Kayna beranjak menuju pintu.


Ceklek


Setelah pintu terbuka, terlihat Dio dengan senyum tampannya berdiri di depan pintu kamar yang Kayna dan Olin tempati.


"Ganggu nggak?" tanya Dio mendapat gelengan kepala dari Kayna.

__ADS_1


"Bagus deh kalau gitu, aku mau ngajak kamu keluar. Ditunggu ya di depan," setelah mengatakan itu Dio langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Kayna.


"Kak bos ya?" tanya Olin melirik ke arah pintu yang sudah kembali ditutup oleh Kayna.


"Mau ngajak keluar?" tanya Olin lagi tidak mendapat jawaban dari Kayna.


Gadis itu sibuk mengambil baju lengan panjangnya untuk menghangatkan tubuhnya.


"Makin jauh pastinya," komentar Olin kali ini membuat Kayna memejamkan matanya sejenak.


"Lin cukup, aku tahu apa yang kamu omongin," seloroh Kayna membuat Olin mengangguk kecil.


"Bagus deh kalau kamu tahu. Siapa tahu cepet bikin kamu sadar Kay," desis Olin menatap Kayna dalam.


"Aku bisa liat gimana tulusnya Natta sama kamu Kay, coba kasih kesempatan Natta, mungkin aja dia belum siap buat jelasin ke ka-"


Setelah kepergian Kayna. Olin tampak menghela napas dengan cukup dalam. Ia sangat menyayangkan sikap Kayna yang begitu keras kepala. Juga Natta yang seperti berhenti untuk membuat Kayna kembali seperti dulu ketika bersamanya.


"Dua-duanya sama aja," keluy Olin ambruk di atas ranjang.


"Kayna," lirih Dio melihat kedatangan Kayna.


Sedari tadi Dio memang sudah menunggu Kayna di depan Vila.

__ADS_1


"Ada yang mau ngedate nih," goda Sasa yang tiba-tiba datang bersama dengan Natta.


Sontak saja kedatangan keduanya membuat Kayna dan Dio langsung menoleh ke arah mereka. Bahkan tatapan mata Kayna dan Natta sempat bertemu untuk beberapa detik. Hanya saja Kayna langsung memutuskan tatapan mata mereka, sementara Natta masih tetap pada posisi yang sama. Menatap manik mata Kayna meski tidak terbalaskan.


"Cuma lihat-lihat di sekeliling, kalian pasti sudah puas bukan?" tanya Dio diangguki oleh Sasa.


"Pastinya. Pemandangan di sini sangat bagus Di, apa lagi yang nemenin Natta," ujar Sasa melirik ke arah Natta yang masih menatap Kayna tanpa beralih.


"Iya kan Nat?" tanya Sasa sengaja agar Natta beralih menatapnya. Dan berhasil, Natta memang beralih menatap ke arahnya. Namun pamit untuk masuk ke dalam. "Aku masuk dulu."


"Ck, sabar aja sih ngadepin dia," decak Dio menggelengkan kepalanya dengan sikap cuek Natta.


"Pasti dong, lihat aja buah dari kesabaranku nanti," ujar Sasa penuh semangat. Setelahnya gadis itu juga ikut masuk ke dalam.


"Ayo Kay," ajak Dio diangguki oleh Kayna dengan terpaksa.


Sejujurnya Kayna ingin sekali berbicara empat mata bersama dengan Natta. Kayna merasa sudah tidak bisa menahan terus mendiami Natta, bersikap cuek seolah-olah ia sudah tidak peduli lagi.


Hati Kayna terus berontak seakan menyuruh gadis itu untuk menyudahi permainan yang membuatnya sakit sendiri.


"Menyebalkan!" umpat Kayna dapat didengar oleh Dio.


"Kay, kamu baik-baik saja kan?" tanya Dio diangguki oleh Kayna.

__ADS_1


"Aku baik," singkatnya.


Tapi tidak dengan hatiku ujarnya dalam hati.


__ADS_2