
2 hari di rumah Natta membuat Kayna merasa tidak enak hati, ia juga tidak bisa terus berdiam diri di kamarnya. Malam ini Kayna sengaja membantu para asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makan malam. Kayna seperti tamu yang tidak tahu diri jika berdiam diri saja.
"Mbak, aku bantu lagi ya?" tawar Kayna membuat asisten rumah tangga tersebut terdiam. Namun belum sempat menjawab tiba-tiba bunda Delia sudah datang menghampiri.
"Kayna, lagi nggak sibuk kan kamu?" tanya beliau mendapat gelengan kepala dari Kayna dengan senyum tipisnya. Memangnya kapan Kayna sibuk? sejak bekerja dengan Natta, Kayna justru seperti bawahan yang kurang pekerjaan, santai tapi mendapat gaji besar.
"Ganti baju ya? ikut kita makan malam di luar," ujar bunda Delia membuat Kayna terdiam.
Pasalnya di meja makan sudah tersedia beberapa menu makanan yang cukup banyak. Menurut Kayna sangat sayang jika harus makan di luar sementara di rumah sudah banyak makanan.
"Tapi tante ini-" Kayna melirik meja makan yang sudah penuh.
Tersenyum tipis, bunda Delia menggeleng melihat wajah Kayna saat ini. "Itu nanti bisa kita bagikan ke orang-orang yang di jalan, mbak tolong dibungkusin aja ya semuanya, kalian ngambil dulu buat makan malam," suruh bunda Delia diangguki oleh asisten rumah tangganya.
"Tante tunggu di ruang tamu ya Kay," pamit beliau berlalu pergi.
Masih terdiam di tempatntya, akhirnya Kayna berjalan menuju dimana letak kamarnya berada.
"Orang kaya emang beda," gumam Kayna berlalu.
__ADS_1
Selesai berganti pakaian. Kayna sekali lagi melihat penampilannya di depan kaca. Meski hanya makan malam di luar, namun jika bersama dengan keluarga Natta Kayna merasa sangat gugup, ia tidak bisa untuk bersikap setenang biasanya.
"Kok gugup gini sih?" gumamnya mencoba untuk menarik napas dengan dalam.
Ting
Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak Kayna kenali. Nomor baru yang belum pernah dia simpan.
+622555666000
Kayna, makasih ya untuk yang tadi
Setelah membaca pesan tersebut. Kayna tersenyum tipis dengan membalas pesan kepada Airin. Lagi-lagi belum sempat dia menaruh ponselnya di tas kecil yang akan dia bawa malam ini, terdapat pesan masuk yang Kayna kira dari Airin yang sudah membalas pesan darinya.
+62666600000
Kayna, bagaimana kabar kamu? besok paman akan mengunjungimu
Deg
__ADS_1
Seketika itu juga jantung Kayna terpacu dengan sanga cepat, pesan singkat dari nomor tidak dikenal ternyata nomor pamanya sendiri. Seseorang yang sangat ingin Kayna hindari.
"Dari mana paman tahu?" gumam Kayna memegangi jantungnya. "Apa mama?" gumamnya tampak berpikir.
Ceklek
Hampir saja ponsel Kayna terjatuh jika saja dia tidak lebih erat memegangnya. Natta tanpa mengetuk pintu kamar Kayna masuk ke dalam. Tanpa berkata Natta menghampiri Kayna yang sedang terdiam masih gugup karena pesan yang dikirimkan oleh pamannya.
"Udah siap, kenapa nggak keluar?" tanya Natta mengamati Kayna dari bawah sampai atas.
"Kenapa nggak ketuk pintu dulu sih?" protes Kayna tanpa menjawab pertanyaan dari Natta.
"Ck, nggak jawab. Ini rumah aku terserah aku dong," balas Natta terdengar sangat menyebalkan menurut Kayna.
"Oke kalau gitu biarin aku pul-"
"Becanda Kay, btw kamu cantik malam ini," puji Natta seketika membuat pipi Kayna merona.
Meski terkadang menyebalkan, namun sekarang Kayna mengalami perasaan aneh setiap kali Natta memuji atau membelanya. Rasa mara yang akan Kayna luapkan sering kali hilang begitu saja.
__ADS_1
Mengitari dimana Kayna berdiri sekarang. Natta tersenyum tipis. Wajahnya sengaja dia sejajarkan di depan wajah Kayna. Membuat Kayna jadi bertambah gugup, bukan karena pesan singkat yang pamannya kirimkan, melainkan karena tindakan sederhana daei Natta, Sedikit memiringkan wajahnya Natta berbisik pelan. "Jadi pengen cepat-cepat halalin kamu."