
Keduanya kembali ke sekolah dengan keadaan yang sudah sangat sepi. Tahu jika dirinya dan Natta terlambat karena sudah kembali masuk. Kayna melirik Natta sekilas dengan wajah yang kembali jutek.
"Dibilangin ngebut juga," keluh Kayna setengah protes.
"Ck, nyalahin aku. Kamu terlalu lama Kay ngobrolnya sama Dio," balas Natta enteng.
Sengaja Natta duduk di pinggir lapangan setelah memarkirkan motornya tadi. Ia mengamati Kayna yang masih berdiri dengan wajah sedikit cemas.
"Nggak usah dipikirin, paling juga dapat hukuman lagi," balas Natta membuat Kayna mencebik.
Jika Natta merasa tidak keberatan mendapat hukuman lagi bersama dengan Kayna. Lain halnya dengan Kayna. Gadis itu tidak ingin coretan merah kembali menambah daftar untuknya. Kayna ini gadis biasa yang tidak bisa membeli apa-apa dengan uang. Beda dengan Natta yang mungkin jika berkeinginan bisa saja membeli sekolahnya.
"Aku bukan kamu Nat yang bisa lakuin apa saja dengan-" seketika ucapan Kayna terhenti.
Ia tidak berniat untuk mengatakan hal itu dan membuat Natta tersinggung.
"Uang, iya kan itu yang mau kamu omongin?" satu alis Natta tertarik ke atas.
Ia beranjak dari duduknya lalu menatap Kayna dengan serius.
"Termasuk membuat kamu bisa bekerja denganku sekarang," lanjut Natta dengan tubuh sengaja ia condongkan ke depan.
Natta menatap dalam manik mata Kayna. Gadis itu seperti dibuat membeku oleh perlakuan Natta. Juga ucapannya yang mungkin saja membuat Natta sedikit tersinggung tadi.
"Itu salah satu alasan aku kenapa nggak ingin semua orang tahu Kay, termasuk kamu," tatapan mata keduanya saling bertemu. "Aku takut setelahnya kamu benar-benar menjauh dari aku," lanjut Natta kembali menegakkan tubuhnya.
Sebelum pergi. Natta sedikit menyunggingkan senyumnya. Hubungannya dengan Kayna memang baik-baik saja tapi tetap saja seperti ada jarak tipis yang tidak bisa mereka lewati untuk saat ini. Setatus sosial yang membuat Kayna seperti segan untuk menjadikan Natta lebih dekat seperti waktu itu.
"Aku akan cari tahu ada hubungan apa antara om Givan dengan mama kamu Kay," lirih Natta berjalan pelan.
"Gi-va-na, menarik," ujar Natta tersenyum tipis.
__ADS_1
Merasa tidak seharusnya Kayna menyangkut pautkan dengan apa yang dimiliki oleh Natta. Ia memejamkan matanya sejenak. Gadis itu berbalik dengan helaan napas yang cukup dalam.
"Natta!" teriaknya membuka mata.
Namun hasilnya nihil. Natta sudah tidak berada di sana. Entah kemana Natta pergi sampai membuat Kayna sekarang seperti orang bodoh sendiri.
"Kemana?" lirihnya menatap ke seklilingnya.
Duduk seorang diri di perpustakaan membuat Kayna merasa jenuh. Ia berniat untuk masuk kelas setalah bel ganti pelajaran nanti. Namun siapa sangka lagi-lagi kemunculan Natta yang tiba-tiba membuatnya terkejut setengah mati.
Kayna pikir Natta marah atau kecewa karena ucapannya tadi. Namun kini ia sudah berdiri tepat di depan Kayna duduk sekarang.
"Ayo masuk kelas!" ajak Natta membuat Kayna mendongak.
"Enggak. Yang ada malah dapat hukuman," tolak Kayna membuat Natta terkekeh.
"Nggak akan ada yang hukum Kay, anak-anak tadi ngerjain tugas dari pak Rudi," beritahu Natta seketika membuat Kayna mengernyit.
"Pak Rudi nggak masuk?" tanya Kayna diangguki oleh Natta.
"Percuma banget dari tadi nunggu pergantian pelajaran, buang-buang waktu aja!" dumel Kayna berlari kecil.
Melihat Kayna yang sedang berlari kembali ke kelasnya. Natta terkekeh kecil. Ia terus mengamati sampai sosok Kayna tidak terlihat lagi dari pandangan matanya. Baru setelahnya ia melangkah pelan menuju ke kelas.
"Dasar kepala batu," lirih Natta berjalan pelan.
Belum sampai di kelasnya. Natta sudah dikejutkan dengan kedatangan Sasa. Gadis itu tadinya berniat untuk ke toilet. Namun melihat adanya Natta yang sedang berjalan seorang diri membuat niatnya terurungkan. Sasa sengaja menghampiri Natta.
"Natta tunggu!" cegah Sasa berlari ke arah Natta.
"Ada apa?" tanya Natta membuat Sasa sedikit merasa kesal.
__ADS_1
Bisa-bisanya beberapa hari yang lalu Natta pulang tanpa menunggu atau bahkan mengajak dirinya. Dan sekarang pertanyaan Natta seperti tidak terjadi sesuatu.
Sasa jelas tidak terima. Bagi Sasa setelah di puncak ia dan Natta jalan hanya berdua saja, itu sudah Sasa anggap sebagai kencan pertama mereka. Meski tidak ada kejadian atau hal romantis di antara mereka waktu itu.
"Kamu kenapa pulang dulu sih Nat waktu itu?" kesal Sasa membuat Natta mengangguk pelan.
"Mamanya Kay sakit. Kebetulan Kay lagi sama aku jadi kita langsung pulang," balas Natta enteng.
"Aku ke kelas dulu," pamit Natta tidak diterima oleh Sasa.
Gadis itu sengaja menarik tangan Natta untuk mencegahnya. "Tunggu-tunggu!"
"Bisa nggak? nggak usah pegang-pegang?" sinis Natta menatap tajam manik mata Sasa.
Ia paling tidak suka dipegang-pegang seperti apa yang dilakukan oleh Sasa. Namun jika Kayna yang melakukannya mungkin Natta akan berpikir dua kali untuk menolak apa lagi sampai memarahinya.
"Lepas!" tekan Natta membuat Sasa akhirnya melepaskan tangannya.
"Natta, kamu nggak berhak giniin aku!" ujar Sasa tidak terima.
"Dan kamu juga nggak ada hak ngatur-ngatur aku," tatapan Natta semakin menajam. Namun karena hal itu justru membuatnya terlihat semakin menarik menurut Sasa.
Cowok seperti Natta lah yang Sasa sukai selama ini.
"Kamu nggak takut vidio kamu sama Kayna di dekat toilet tersebar?" ujar Sasa dengan angkuhnya.
Sekarang ia merasa menang atas Natta. Bahkan ia akan menggunakan vidio yang pernah ia ambil secara diam-diam itu untuk mengancam Natta agar tidak lagi menolak atau merespon cuek dengannya.
Bukannya merasa terancam. Natta justru tersenyum tipis menatap Sasa yang mendadak bingung dengan sikap Natta di depannya.
"Kalau mau, silahkan. Ini negara hukum Sasa," ujar Natta tersenyum tampan. Setelahnya ia pergi meninggalkan Sasa yang dibuat kesal setengah mati oleh Natta.
__ADS_1
Ia pikir Natta tidak cukup pintar untuk menanggapi ancamannya. Ternyata selain tampan Natta juga sangat cerdik. Satu kekurangan Natta dimata Sasa. Ia hanya cowok tampan tanpa harta berlebih.
"S***an, kamu bikin aku semakin suka Natta," decak Sasa kesal. Namun tidak dipungkiri Sasa justru semakin tertarik dan rasa ingin memiliki Natta bertambah besar.