Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Kayna Ngambek


__ADS_3

Di atas atap gedung sekolah. Kini kedua remaja yang sering bertengkar namun dekat itu kini duduk seraya memakan bubur ayam yang tadi Natta beli.


Keduanya menikmati suasana pagi yang begitu cerah. Ekor mata Natta melirik ke arah Kayna. Meski bubur yang dia beli untuk Kayna dimakan dan hampir habis, namun Natta dapat melihat dari bola mata gadis itu jika ada rasa kegelisahan juga sedih pagi ini.


"Kenapa keras kepala banget sih Kay?" ujar Natta membuat Kayna menghentikan makannya.


Kepalanya menoleh ke arah Natta. Seakan tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki di sampingnya.


"Maksudnya?" tanya-nya sudah sedikit nyolot.


"Ck nanya lagi, aku yakin banget kamu tadi liat kalau di meja makan udah banyak makanan. Tante Mita udah masakin buat kit-"


"Stop Natt, jangan bikin mood aku hancur," sela Kayna diangguki oleh Natta.


Natta sendiri merasa menyesal sudah mengatakan hal itu. Sekarang bukan waktu yang tepat, dan Natta salah memasukan kata-kata tersebut disaat seperti sekarang ini.


"Mau kemana?" tanya Natta melihat Kayna yang beranjak dari duduknya.


"Pergi," balas Kayna acuh.


"Kay, sorry," sesal Natta bangkit dan mencoba untuk menahan Kayna.


"Di sini suasananya bagus, tapi kata-kata kamu bikin aku nggak mood lagi," jelas Kayna berlalu pergi.


"Akh...bod*h banget kamu Nat!" gumam Natta merutuki kebodohannya.

__ADS_1


Sampai di kelas. Olin langsung menghampiri Kayna yang terlihat tidak seperti biasanya. Tidak perlu bertanya juga Olin sudah bisa menebak jika penyebabnya kalau tidak Natta ya karena kejadian kemarin di kafe.


"Kay, semangat dong jangan cemberut." Olin menghampiri Kayna ke bangkunya.


"Mana tas kamu?" tanya Kayna membuat Olin mengernyit.


"Ambil gih, duduk sini," titahnya semakin membuat Olin melotot.


Kepala Olin menggeleng pertanda jika ia tidak setuju. Bukan karena Olin tidak mau duduk dengan Kayna. Masalahnya ia harus menggeser Natta dan itu tidak mungkin terjadi.


"Enggak, aku nggak mau," tolak Olin membuat Kayna mendelik.


"Biasa aja Kay mukanya, aku nggak mau karena kalau aku duduk sama kamu Natta nanti duduk sama si Syifa dong, keenakan dia duduk sama Natta Kay," jelas Olin tetap tidak diterima oleh Kayna. Tetapi akhirnya Kayna mengangguk membuat Olin bisa tersenyum lega.


"Oke kalau gitu, kita aja yang tukeran bangku," final Kayna membuat Olin melotot.


"Bu Mita," panggil salah satu pegawai kantor.


Tidak mendapat respon dari mama Mita membuat pegawai tersebut kembali memanggil nama beliau.


"Bu Mita," kali ini nada suaranya sengaja dikeraskan.


"Oh iya pak," balas mama Mita sedikit gugup.


"Anda disuruh ke ruangan pak Aditama," beritahu pegawai tersebut diangguki oleh mama Mita.

__ADS_1


"Baik terimakasih, saya segera ke sana," balas mama Mita.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" suara dari arah dalam membuat mama Mita berani untuk membuka pintu.


Terlihat pak Aditama bersama dengan seorang wanita. Mama Mita yakin jika beliau ialah istri dari bos besarnya, selain cantik wanita itu juga sangat ramah, buktinya sejak kedatangannya wanita yang kini bersama dengan pak Rian Aditama langsung tersenyum menyapanya.


"Duduk mbak," titah wanita yang belum mama Mita ketahui namanya.


Mengangguk dengan sopan. Mama Mita duduk di sofa ruangan tersebut. Tepat di sebelah wanita yang juga sedang duduk di sana. "Baik bu."


"Perkenalkan Mita ini istri saya Delia," ujar pak Rian diangguki oleh mama Mita.


Awalnya mama Mita ragu untuk memberi salam, namun wanita yang bernama Delia sudah lebih dulu menjabat tangannya.


"Aku mau minta tolong mbak Mita," ujar bunda Delia sungkan.


"Ah bu Delia, tidak usah panggil mbak. Panggil saja Mita," jelas mama Mita merasa tidak enak hati.


"Tidak sopan, tapi baiklah saya akan memanggil anda jeng saja ya? sepertinya kita juga seumuran, biar lebih akrab juga," jelas bunda Delia membuat mama Mita mengangguk saja.

__ADS_1


Mau protes lagi karena menurutnya terlalu berlebihan karena baru saja bertemu tetapi tidak dilakukan oleh mama Mita.


"Ikut saya ke gudang kantor yuk! saya mau mengganti foto di ruangan ini," ujar bunda Delia diangguki setuju oleh mama Mita. "Baik bu, mari."


__ADS_2