
Hari ini seluruh siswa/i pulang lebih awal dari biasanya. Para guru mendadak mengadakan rapat. Natta sengaja menunggu semua teman-teman di kelasnya keluar untuk mengajak Kayna pulang bersama.
Tepat ketika tinggal beberapa siswi saja. Terlihat Kayna yang berdiri dari duduknya bersiap untuk keluar. Tidak ingin sampai kecolongan, Natta juga mengikuti pergerakan dari Kayna. Ia jalan di belakang gadis itu.
Namun baru belokan pertama menuju tangga untuk turun. Tangan Natta sudah menarik tangan Kayna. Sontak saja membuat Kayna terkejut bukan main.
"Natta!" pekiknya membuat Olin yang tadi berjalan sejajar bersama dengan Kayna terhenti.
Paham akan situasi Olin langsung meringis seraya melambaikan tangan pada Kayna. "Kayna aku duluan ya? dada," setelah mengatakan itu Olin langsung berjalan untuk turun dari tangga.
Bukannya merasa bersalah karena tindakannya barusan. Natta justru terlihat cengengesan seperti tidak punya salah telah mengusir Olin dengan cara tidak langsung.
"Apa lagi?" tanya Kayna dengan nada suara yang kesal.
Natta selalu berbuat sesuka hatinya dan juga memaksa.
"Pulang bareng," balas Natta kembali menarik tangan Kayna tanpa menunggu jawaban dari gadia itu.
Dengan helaan napas yang cukup dalam. Kayna mengikuti saja langkah Natta membawanya menuju ke parkiran. Mau menolak juga percuma saja, namanya Natta itu pasti ada saja alasannya.
"Yang tadi nggak usah dipikirin Kay," ujar Natta sontak kepala Kayna menoleh.
Dengan tatapan tajam yang Kayna berikan untuk Natta, seolah tidak terima dengan apa yang baru saja Natta katakan.
__ADS_1
"Ma-maksud aku biar kamu nggak gerogi gitu sama aku," jelas Natta disertai cengiran.
Merotasikan bola matanya. Kayna memukul lengan Natta sebisanya. "Enak aja! kamu kali yang grogi."
"Galak amat! pak Amat aja nggak galak amat," balas Natta mendapat cebikan dari Kayna.
"Garing," ujar Kayna malah membuat Natta terkekeh.
"Karena kalau basah itu ya kamu," bisik Natta seketika membuat Kayna melotot.
Meski sama sekali belum pernah pacaran atau berkencan, Kayna bukanlah gadis yang polos, dia tahu maksud dari apa yang Natta katakan tadi.
Merasa panas dan semakin tidak terima dengan ucapan Natta, Kayna kembali ingin melayangkan pukulannya. Namun Natta sudah berhasil menangkisnya. Dan bahkan sampai membuat mereka kini menjadi pusat perhatian beberapa siswa/i yang berlalu lalang.
"Nggak pacaran kan?"
"Nggak rela pokoknya kalau Natta sama dia."
"Harusnya kan sama aku."
"Ih mimpi, sama aku lah yang jelas-jelas anak petinggi negara, lihat aja aku pasti bisa taklukin Natta."
Karena begitu asik berdebat juga becanda. Baik Natta atau pun Kayna sampai tidak sadar jika sudah berada di parkiran. Lihat saja semua menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Naik!" titah Natta membuat Kayna terperanjat.
Jika Natta bersikap cuek dengan tatapan dari teman-teman sekolahnya. Kayna sebaliknya. Meski dia ingin seperti apa yang Natta lakukan, tetap saja tidak bisa. Nyatanya cewek sama cowok memang beda, cewek lebih sensitif dalam segala hal.
"Ke toko dulu ya?" ujar Natta setelah mereka sudah diperjalanan.
"Mau ngapain?" tanya Kayna ingin tahu.
"Beli helm buat kamu," beritahu Natta fokus dengan jalan di depannya.
"Nggak mau aku, gajian juga masih lama," tolak Kayna membuat sudut bibir Natta tertarik ke atas.
"Nggak usah takut. Aku yang mau beliin buat kamu Kay, gaji kamu aman kok nggak bakal berkurang kalau sama aku," jelas Natta dengan songongnya.
Gatal untuk memukul lengan cowok di depannya. Kayna melakukannya dengan pelan.
"Seneng banget deh mukul gitu."
"Tapi aku yang nggak mau Nat, lagian kamu harusnya punya uang tuh disimpen bukan buat dihambur-hamburin, tinggal juga masih numpang," sarkas Kayna bertujuan untuk membuat Natta sadar.
Sedikit menohok memang apa yang Kayna ucapkan. Tetapi Natta sama sekali tidak merasa sakit hati apa lagi pusing. Ia tetap melajukan kuda besinya menuju tempat tujuannya.
"Biar aman Kay kalau aku bawa ngebut, aku nggak mau kamu masuk angin," ujar Natta kembali mendapat pukulan dari Kayna. Namun keduanya tertawa di atas motor besar yang sedang melaju sedang itu.
__ADS_1
Meski sederhana, nyatanya perjalanan mereka kali ini cukup berkesan, dan mungkin saja suatu saat nanti bisa mereka rindukan saat mereka tidak bersama.