Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Ada Kebohongan


__ADS_3

Mendengar jika Natta memukul dua orang murid membuat Kayna dan Olin langsung mencari keberadaannya sekarang. Terlihat Airin yang sedang duduk di depan ruangan kepala sekolah. Kayna tahu, pasti Airin sedang menunggu Arka yang mungkin saja sekarang bersama dengan Natta di ruang kepala sekolah.


"Airin," sapa Olin membuat Airin menoleh.


Menatap Olin sekilas. Airin berganti menatap Kayna dengam diam, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum, namun sangat tipis sampai nyaris tak terlihat.


"Mereka di dalam," ujar Airin diangguki oleh Kayna dan juga Olin.


Sama-sama duduk menunggu Natta dan Arka keluar. Mereka saling diam tidak berbicara, entah kenapa Airin seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kay, boleh ngobrol berdua?" tanya Airin pada akhirnya.


Tidak menjawab, Kayna menganggukan kepalanya, sementara Airin beranjak dari duduknya menjauh dari Olin yang sedang duduk dengan Kayna yang mengikuti langkah Airin.


"Apa kamu tahu siapa pelakunya?" tanya Airin menatapa manik mata Kayna.


Begitu juga dengan Kayna yang membalas Airin dengan menatap matanya. Terlihat Kayna yang menghela napas dengan cukup dalam. Ia mengangguk ragu.


"Dua orang cowok," balas Kayna membuat Airin menghela napas.


Bukan itu yang Airin maksudkan, namun dalang dibalik kejadian yang menimpa Kayna, atau bisa dikatakan orang yang menyuruh Oki dan juga Paul. Airin sangat yakin ada pelaku lain atau otak dibalik kejadian tersebut.

__ADS_1


"Hanya mereka?" tanya Airin tidak yakin.


"Aku tidak ingat lagi setelah itu," balas Kayna diangguki oleh Airin. Namun karena pertanyaan dari Airin tersebut justru membuat Kayna sedikit menaruh rasa curiga.


"Airin, kenapa?" tanya Kayna mendapat gelengan kepala dari Airin dengan senyum yang sangat tipis.


"Enggak papa, aku cuma nanya," balasnya berlalu kembali ke tempatnya tadi.


Tidak ada yang tahu jika Airin saat ini sedang dilanda kegugupan yang teramat, entah kenapa dia jadi teringat dengan ucapan Sasa beberapa waktu yang lalu, terlebih pelakunya satu kelas dengannya, entah Sasa atau bukan, yang jelas pelaku sebenarnya sudah sangat merencanakan hal itu. Dan akan menyangkut pautkan dirinya, itulah yang sedang Airin pikirkan saat ini.


Selang beberapa lama, Arka keluar dari ruangan kepala sekolah. Namun ada yang berbeda dengan Arka saat ini. Sejak keluarnya dirinya tadi, tatapan mata Arka langsung tertuju kepada Airin, sangat tajam dan bahkan sampai membuat Airin seketika gugup dengan kemarahan yang Arka perlihatkan sekarang.


Dugaannya benar, apa yang menimpa Kayna pasti akan disangkut pautkan dengannya. Dan Airin tahu siapa pelaku sebenarnya.


Sebuah pukulan cukup kencang Arka berikan di dinding tepat di sebelah Airin duduk. Hal itu membuat Airin terdiam membeku, begitu juga dengan Kayna dan juga Olin. Mereka tidak ada yang berani berkata meski sekadar pertanyaan kecil.


Untuk yang pertama kalinya mereka melihat kemarahan Arka, padahal Arka dikenal bucin dengan Airin.


"A-arka, kenap-"


"Kenapa kamu bilang?" sela Arka dengan tatapan tajamnya ditujukan untuk Airin. "Kamu itu munafik, licik!" lanjut Arka menatap tajam Airin. Setelahnya pergi meninggalkan Airin yang diam membeku di tempatnya.

__ADS_1


Airin seperti orang limbung, seluruh tubuhnya terasa lemas mendapat ucapan dari Arka yang terdengar begitu menyakitkan untuknya. Buliran air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun ia berusaha menahannya, rasa sakit yang dia dapatkan sekarang lebih sakit dari penolakan Natta atas cintanya.


Marahnya Arka seakan membuat kekuatannya menghilang.


"Dugaannku benar," lirihnya segera mengejar Arka yang sudah lebih dulu pergi.


Sementara Kayna dan juga Olin saling pandang dengan bingung. Keduanya tidak cukup paham dengan apa yang terjadi di antara sepasang kekasih tersebut.


"Mereka marahan Kay?" tanya Olin dijawab Kayna dengan mengangkat kedua bahunya.


Ceklek


Natta keluar dari ruangan kepala sekolah diikuti Oki dan juga Paul. Ia menatap Kayna yang sudah berada di sana.


"Kay," panggilnya menghampiri Kayna.


"Apa yang terjadi?" tanya Kayna masih kurang begitu paham.


Natta melirik ke arah Oki dan Paul. Keduanya gugup dengan kepala menunduk.


"Cepat!" titah Natta diangguki oleh keduanya.

__ADS_1


"Kayna, kita minta maaf," ujar keduanya secara bersamaan.


"Aku akan maafin kalian, asal kalian berkata jujur tanpa kebohongan sekecil apapun," sarkas Kayna menatap keduanya dengan tajam.


__ADS_2