Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Calon Pengantin Tapi Berantem


__ADS_3

Matahari cukup terik hari ini. Langkah Kayna pelan meninggalkan gerbang sekolah yang berdiri tinggi di belakangnya. Namun belum cukup jauh dia melangkah, suara kendaraan mulai terdengar dan semakin mendekat ke arahnya. Kayna berdecak sebal dengan kepala menoleh ke arah kendaraan tersebut. Ia mengukir senyum meski terasa dipaksakan.


"Nggak ikhlas banget kayaknya?" goda Natta tidak ditanggapi oleh Kayna. Namun gadis itu naik ke atas motor besar milik Natta, tanpa menunggu perintah dari yang punya.


"Buruan!" titahnya mendapat senyuman dari Natta.


Tanpa menunggu lama lagi Natta langsung melajukan kendaraannya. Meninggalkan sekolah untuk menuju ke suatu tempat.


"Senyum Kay," ujar Natta melirik ke arah spion motornya.


Bahkan sengaja Natta benarkan letak spionnya agar mengarah pada wajah cantik Kayna dan terlihat.


"Kenapa buru-buru sih Nat? nggak nunggu kita lulus dulu?" tanya Kayna yang terdengar seperti protes.


"Nikah itu ibadah, maka harus disegerakan Kay," balas Natta mendapat gelengan kepala dari Kayna.


Asli Kayna ingin sekali memukul mulut Natta yang berucap begitu enteng. Tidak tahu apa jika mereka masih berseragam sekolah.


"Terserah deh, susah memang ngomong sama kamu," kesal Kayna pada akhirnya.

__ADS_1


Meski ia kesal karena keputusan Natta yang menurutnya sangat mendadak, namun Kayna juga tidak menolaknya. Toh.... Ia memang menyukai Natta, kedua orang tua Natta juga setuju dengan pernikahan mereka. Terlebih sejak Kayna bertemu dengan Natta, cita-cita untuk sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi agar bisa membahagiakan mamanya seakan ia urungkan. Hidup dengan Natta termasuk bagian dari cita-citanya sekarang. Mengingat bagaimana sikap mama Mita yang terus menyembunyikan identitas ayah kandungnya.


Natta memiliki segalanya, sayang dengannya, lalu apa lagi yang Kayna inginkan selain menemukan orang yang menyayanginya dan hidup dengan bahagia bersama pasangannya.


Sampailah mereka di sebuah butik yang memang sudah keduanya janjikan beberapa hari lalu. Bunda Delia dan mama Mita juga sudah berada di sana. Meski hubungan Kayna dan mamanya belum membaik seperti semula, namun keduanya sama-sama harus berbesar hati sekarang ini.


"Baru pulang kalian? sini," ujar bunda Delia melihat kedatangan Kayna dan Natta.


"Tadi Kayna mau kabur nda," ujar Natta seketika membuat Kayna menggelengkan kepalanya.


"Enggak kok tante," mata Kayna menatap tajam Natta yang sedang nyengir tanpa berdosanya.


Deg


Seketika perasaan Kayna mulai tidak menentu tepat ketika melihat Natta dengan jakun naik turunnya meneguk minuman di depannya. Kayna akui mendapatkan Natta suatu keberuntungan baginya.


"Jangan berantem terus, udah mau nikah kok nggak ada romantisnya sih?" ujar bunda Delia menggelengkan kepalanya melihat interaksi Natta dan Kayna.


Beranjak dari duduknya. Natta menghampiri Kayna yang masih berdiri mematung di tempatnya. "Tuh, dengerin kata bunda," bisik Natta seketika menyadarkan lamunan Kayna.

__ADS_1


Ia baru tersadar sedari tadi melamunkan Natta. Dan sialnya yang sedang dilamunkan kini bertingkah sangat menyebalkan.


"Iya Natta sayang," balas Kayna sengaja.


Mendengar ucapan Kayna yang tidak seperti biasanya seketika membuat Natta menoleh kembali ke arahnya.


Sementara Kayna sengaja mendekati Natta dengan tersenyum manis ke arahnya.


"Katakan sekali lagi?" titah Natta mendapat gelengan kepala dengan senyum tipis dari Kayna.


"Kay," lirih Natta terdengar memohon.


"Apa? mau denger lagi?" tanya Kayna diangguki oleh Natta dengan cepat.


"Sini deketan," perintahnya dituruti langsung oleh Natta.


"Sayang-nya kamu menyebalkan," tekan Kayna tepat di telinga Natta.


Setelahnya Kayna berlari menghampiri bunda Delia dan mama Mita yang sedang sibuk memilih gaun untuknya.

__ADS_1


"Ck, berani banget ngejek aku, awas aja kamu Kay, di malam pengantin kita. Habis kamu," ancam Natta menatap kepergian Kayna.


__ADS_2