
Dengan mengenakan masker 5 lapis, juga kaos tangan beberapa lapis Natta kini sudah menenteng tempat sampah besar untuk dia buang. Heran juga kenapa sampah di kafe bisa segitu banyak dan bau. Biasanya setiap malam selalu ada yang membawanya ke ujung kafe karena pagi butanya akan ada petugas kebersihan yang akan mengangkutnya.
"S**lan si Dio, sengaja banget mau ngerjain," umpat Natta tetap melakukan perintah atau kejahilan dari Dio.
Selesai membuang sampah tersebut, sesuai perintah Dio tadi. Natta kembali ke kafe. Namun baru saja datang kini Natta sudah mendapat tatapan dari teman-teman kerjanya.
"Ada apa?" heran Natta melihat ke arah pegawai lain.
"Ganteng-ganteng bau," balas salah satu pegawai langsung menutup mulutnya.
"Maaf Nat, maaf," sesalnya langsung pergi.
Pegawai tersebut tidak bodoh jika Natta teman dari bosnya. Pikirnya akan sangat berbahaya sekali jika Natta sampai mengadukan kepada atasannya dan membuatnya diberhentikan.
Mendengar ucapan dari pegawai tersebut membuat Natta langsung melengos pergi ke ruangan Dio. Namun lagi-lagi kedatangan Natta sontak membuat Dio terkejut dan berdiri dengan hidung sengaja ditutup.
"Natta, bau banget kamu!" ujar Dio membuat Natta terkekeh.
"Masa sih?" sengaja Natta mencium pundaknya yang memang dapat ia rasa bau tidak enaknya. "Enggak ah," balas Natta duduk di depan meja Dio.
__ADS_1
Melihat hal itu jelas membuat Dio semakin menjauh. Namun ia juga menyayangkan Natta yang tiba-tiba duduk begitu saja di kursi ruangannya.
"S**lan kamu! buruan keluar mandi atau apa dulu gitu biar nggak bau!" titah Dio malah semakin membuat Natta terkekeh.
Beranjak dari duduknya. Kini Natta sengaja menghampiri Dio dan membuat Dio ketakutan setengah mati. Kedua remaja tersebut saling berlarian seperti anak kecil, bedanya Dio berlari dengan umpatan yang terus dia lontarkan untuk Natta.
Sementara Natta malah semakin gencar agar Dio bisa tertangkap olehnya dan...
Hap
Natta bisa menerkam Dio seolah Dio santapan lezat untuk makan malamnya. Ia semakin tertawa puas di bawah umpatan Dio yang semakin menjadi.
"Oke cukup." Natta melepaskan Dio sesuai permintaannya.
"Kita impas sekarang, sama-sama bau. Bagaimana kak bos Dio? apa anda butuh-"
"D**n! keluar Natta!" sela Dio emosi.
Merasa puas sudah membalas perbuatan Dio. Akhirnya Natta keluar dari ruangan Dio. Namun alangkah terkejutnya Natta tepat di depan pintu ruangan Dio, Kayna sudah berdiri dengan senyum juga peralatan mandi untuk Natta.
__ADS_1
Terdiam dengan rasa keterkejutannya. Natta menatap Kayna yang sedang memberi senyuman manis untuknya.
"Butuh ini kan?" tanya Kayna diangguki oleh Natta tanpa menjawab.
Rasanya masih tidak percaya saja jika Kayna tiba-tiba berubah begitu perhatian dengannya.
"Buruan mandi, bau tahu," lanjut Kayna seraya menutup hidungnya. Baru setelahnya Natta tersenyum dengan anggukan di kepalanya.
Tubuh Natta terdorong ke depan untuk memeluk Kayna. Namun jelas saja gadis itu menghindar dengan senyuman.
Jemari lentik Kayna memperagakan seseorang yang sedang mandi dengan gayung. Hal itu membuat Natta langsung terkekeh menyadari kebodohannya. Sudah dibilang disuruh mandi karena bau masih saja mau mepet-mepet Kayna. Tunggu dan sabar Natta sampai kamu kembali tampan dan wangi lagi.
"Sorry Kay," lirih Natta diangguki oleh Kayna.
"Aku ke depan dulu," pamit Kayna juga dengan senyumnya.
Setelah Kayna pergi. Barulah Natta langsung berjingkrang kegirangan seperti orang kesetanan. Bahkan sampo yang tadi diberikan oleh Kayna saja sampai jatuh menimbulkan suara. Diambil lalu dicium oleh Natta botol sampo yang jatuh dan pemberian dari Kayna tadi.
"Perhatian banget sih? makin gemes," lirih Natta menuju ke kamar mandi.
__ADS_1