Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Dibalik Rahasia Mama Mita


__ADS_3

Malam ini Natta kembali tidak menginap atau menumpang tidur di rumah Kayna. Barang-barang Natta masih banyak di kamarnya. Lagi-lagi Kayna merasa lain dan juga sepi. Ia mulai merasa kehilangan sosok jahil dan usil di rumahnya. Sosok yang sering mengganggu di rumahnya. Segala tindakan Natta yang terkadang membuatnya kesal kini mulai ia rindukan.


"Kamu tidur dimana sih Nat?" lirih Kayna di depan pintu kamar yang sering Natta tempati.


Niatnya untuk masuk ke kamar tersebut Kayna urungkan saat mendengar suara kendaraan dari luar. Entah kenapa Kayna berharap itu Natta yang datang meski dari suara kendaraan pun sangat jelas terdengar berbeda.


"Mobil siapa?" penasaran dengan siapa yang berada di dalam mobil tersebut, Kayna mengintip lewat jendela ruang tamu.


Tidak lama setelah itu, muncul laki-laki berjas rapih keluar dari dalam mobil. Laki-laki itu mengitari mobilnya dan berniat untuk membukakan pintu sebelahnya. Baru dari situ Kayna dapat melihat mama Mita yang keluar dari mobil tersebut.


Wajah mama Mita tampak biasa saja. Tidak seperti orang senang atau pun orang susah. Bahkan Kayna dapat melihat tangan laki-laki itu ketika mencekal tangan mama Mita. Kayna dapat melihat keduanya saling bersitatap sebelum akhirnya mama Mita melepaskan cekalan tangannya dari laki-laki tersebut.


Entah kenapa perasaan Kayna mulai bergejolak. Ia seperti ingin marah dan tidak rela melihat mama Mita bersama dengan laki-laki tersebut. Ada perasaan yang tidak bisa Kayna jelaskan. Dan itu bukan berati Kayna tidak ingin melihat mama Mita bahagia bersama dengan seorang laki-laki.


"Siapa ma?" pertanyaan tiba-tiba dari Kayna sontak mengejutkan mama Mita.


Beliau terkejut melihat adanya Kayna di depan pintu.

__ADS_1


"Belum tidur kamu Kay?" tanya beliau menutup pintu.


Kepala Kayna menggeleng. Tidak puas dengan jawaban mama Mita yang terkesan ingin menyembunyikan sesuatu atau laki-laki tersebut.


"Siapa dia ma?" sekali lagi Kayna bertanya seraya mengikuti langkah kaki mamanya.


"Jawab ma! siapa dia?" tanya Kayna dengan nada suara tidak setenang tadi.


Berhenti tepat di depan meja makan. Mama Mita membalikkan tubuhnya dan menatap Kayna dengan diam.


"Oh... mungkin tidak penting buat aku," lanjut Kayna menuju ke kamarnya.


"Maaf Kay, mama belum siap buat jawab atau jelasin ke kamu," lirih beliau.


Sementara di kamarnya. Kayna menangis dengan alasan yang menurutnya sendiri tidak begitu logis. Melihat mama Mita diantar oleh seorang laki-laki membuat perasaan Kayna berkecamuk. Sedih dan juga ingin marah, namun Kayna tidak begitu paham kenapa perasaan itu tiba-tiba muncul.


"Kenapa ma? kenapa nggak jujur sama Kay?" lirihnya dengan tangis.

__ADS_1


Di liriknya ponsel di sebelahnya. Ia mengambil dan melihat jam yang kini sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Bukan nomor Olin yang Kayna hubungi, melainkan nomor Natta yang baru saja dia ambil malam itu.


Tut


Tut


Tut


Tidak lama sambungan terangkat dan menyuguhkan suara Natta dari seberang telepon.


"Hallo."


Terdiam. Kayna tiba-tiba bingung setelah mendengar suara dari Natta. Dia sendiri tidak begitu sadar ketika menghubungi nomor Natta. Dan sialnya kini panggilan darinya sudah terhubung langsung dengan orangnya.


"Hei."


"Natta, bisa jemput aku sekarang?"

__ADS_1


"Kayna?" mendengar suara Kayna yang tiba-tiba menghubunginya hampir tengah malam jelas sesuatu yang membuat kantuk Natta langsung hilang seketika.


"Aku ke sana."


__ADS_2