Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Identitas Terungkap


__ADS_3

Bel istirahat digunakan Kayna untuk menuju ke perpustakaan seorang diri. Sejak kejadian tadi di dekat toilet. Kayna jadi merasa aneh sendiri, antara kesal namun tidak dipungkiri perasaan senang juga terkadang muncul begitu saja.


"Kay! tunggu!" seru Olin berlari menghampiri Kayna.


"Nggak ke kantin?" tanya Kayna mendapat gelengan kepala dari Olin.


"Enggak ah, takut nggak bener pegang sendoknya," balas Olin seketika membuat kedua alis Kayna tertaut.


"Kenapa? kamu sakit Lin?" tanyanya lagi kembali mendapat gelengan kepala dari Olin.


"Tangan aku masih gemeter, tadi nggak sengaja sentuhan sama tangan Natta," beritahu Olin seraya tersenyum malu-malu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Olin membuat Kayna terkikik. Asli Olin ini sangat polos sekali baru bersentuhan dengan Natta tanpa disengaja saja sudah membuat tangannya tidak bisa berhenti untuk gemetar. Bagaimana jika Olin diposisi Kayna tadi? Mendapat ciuman di pipinya dari Natta dengan sangat sengaja sekali laki-laki itu lakukan. Olin pasti sudah pingsan sebelum kecupan itu terlepas.


"Kenapa ketawa?" tanya Olin.


Kepala Kayna menggeleng. Ia menarik tangan Olin untuk segera pergi ke perpustakaan. "Nggak papa, ayo!" ajaknya.


Di kantin suasana cukup ramai. Memang selalu ramai karena hampir semua siswa/i bertumpah ruah pergi ke sana untuk mengenyangkan atau sekadar mengganjal perut mereka.


Natta masuk seorang diri. Namun baru sampai di depan pintu Arka sudah memanggilnya dan menyuruh Natta untuk bergabung bersamanya.


"Natta!" panggil Arka membuat Natta menoleh dan langsung menghampiri meja Arka.


Di sana tidak hanya Arka saja. Ada beberapa teman Arka yang lain juga Airin. Seakan tidak menganggap adanya Airin, Natta bersikap biasa saja.


"Mau apa?" tawar Arka membuat Natta berpikir sejenak.


"Samain kamu aja," balas Natta disetujui oleh Arka.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu Arka memanggil seorang pelayan yang membantu ibu kantin berjualan. Tanpa Arka sadari, sejak kedatangan Natta tadi Airin sudah berpaling pandang darinya. Airin lebih fokus menatap Natta daripada Arka. Hal itu jelas membuat Natta merasa risih, meski mencoba bersikap biasa saja, nyatanya Natta tetap merasa tidak nyaman selama Airin masih terus bersikap demikian.


"Airin," Sasa tiba-tiba datang menghampiri meja mereka.


Tanpa tahu malunya. Sasa langsung sengaja duduk di sebelah Natta, sontak saja Airin yang melihat itu merasa aneh dengan sikap Sasa. Biasanya Sasa akan terus menempel Arka secara halus tanpa disadari oleh Arka. Dan sekarang untuk yang pertama kalinya Airin melihat Sasa tidak lagi mendekati Arka, namun justru malah mendekat Natta.


"Hallo Natta," sapa Sasa dijawah Natta dengan senyuman.


Melihat senyuman Natta yang sekarang bagi Sasa lebih menarik daripada Arka. Seakan langsung menembus ke ulu hatinya.


Tatapa mata Sasa menatap Airin meremehkan. Meski satu meja, namun Sasa tetap mengirim pesan untuk Airin yang sontak saja membuat Airin langsung tidak percaya.


Sasa


Tenang aja Airin, target aku sekarang bukan pacar kamu lagi


Sementara Sasa tersenyum culas di depannya. "Dia lebih menarik," ujar Sasa tanpa suara.


Di kantor FCT grup. Mama Mita sedang membantu istri dari bosnya untuk mencari sebuah foto yang memang dulu ditinggal di gudang kantor.


Tidak hanya mama Mita saja, melainkan ada dua pegawai yang juga membantu bunda Delia untuk mecarinya.


"Bu, yang ini bukan ya?" tanya salah satu pegawai seraya membawa bingkai beserta fotonya yang berukuran lumayan besar.


"Coba bawa ke sini," titah bunda Delia.


"Benar, foto ini yang saya cari, mbak Mita ke sini," ujar beliau kembali memanggil nama mama Mita dengan sebutan mbak.


Pertama kali bertemu memang tidak mungkin langsung sedekat itu. Meski keduanya langsung terlihat akrab.

__ADS_1


"Iya bu," balas mama Mita mendekat ke arah ibu bosnya.


"Tolong nanti bersihkan foto ini ya mbak? saya akan memasangnya di ruangan bapak," beritahu bunda Delia diangguki oleh mama Mita. "Baik bu."


Seperti yang diperintahkan oleh istri dari bosnya tadi. Mama Mita mulai membersihkan foto yang sudah tertutup debu cukup tebal. Masih terlihat memang namun karena tebalnya dari debu tersebut membuat foto keluarga tersebut terlihat tidak begitu jelas.


Cukup telaten dan sangat cekatan mama Mita membersihkannya. Sampai dimana beliau membersihkan debu tepat dibagian wajah seorang anak laki-laki yang sangat beliau kenali. Sontak saja mama Mita terkejut dan hampir saja menjatuhkan bingkai foto tersebut.


Merasa aneh, marah, kecewa dan juga tidak menentu mama Mita tetap melanjutkan untuk membersihkan foto tersebut.


"Sudah mbak?" tanya bunda Delia kembali datang.


"Sudah bu!" balas mama Mita sopan.


"Ke ruangan bapak yuk!" ajak bunda Delia diangguki oleh mama Mita.


Diperjalanan ada dorongan dalam dirinya untuk bertanya tentang foto yang baru saja dibersihkan oleh beliau. Rasanya beliau ingin lebih tahu atau barang kali suatu kebetulan wajah dari anak bosnya itu mirip dengan wajah Natta.


"Apa ini foto anak ibu dan bapak?" tanya mama Mita sopan.


"Iya mbak, itu foto 2 tahun yang lalu, sekarang dia susah diajak foto bersama," jelas bunda Delia diangguki oleh mama Mita.


Ragu untuk menanyakan nama, mama Mita mencoba untuk menahannya, namun ucapan dari istri bosanya selanjutnya seketika menghilangkan semua keraguannya sedari tadi. Juga jawaban yang sangat ingin beliau ketahui.


"Namanya Natta, sebenarya dia anak yang baik. Tapi seringkali berselisih paham dengan ayahnya, saya sendiri saja nggak tahu dia sekarang tinggal dimana," lanjut wanita yang sedang berjalan di depannya.


Sudut bibir mama Mita tertarik ke atas. Mengingat bagaimana tadi malam anak dari bosnya itu tidur bersama dengan anaknya. Sementara orang tuanya sendiri saja tidak tahu dimana anak itu selama ini tingggal. Tanpa disadari tangan beliau mencengrakm bingkai tersebut dengan begitu erat.


"S

__ADS_1


__ADS_2