Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Airin Licik


__ADS_3

Natta datang dengan menu sepesial di kafe cinlok. Seperti pegawai pada umumnya. Mengenakan seragam pegawai kafe juga bekerja layaknya seorang pelayan. Bedanya memang Natta cenderung lebih terlihat keren dibanding pegawai yang lain. Perawakan juga wajahnya memang sangat tidak cocok jika berada di kafe kecil milik Dio.


Melihat adanya Arka yang duduk di sana wajahnya menampilkan senyum. Namun detik berikutnya Natta berekspresi biasa saat melihat adanya Airin juga di sana.


"Apa-apaan ini? tuan muda menjadi seorang pelayan? nggak salah liat kan aku?" goda Arka ketika Natta sampai di depan mereka.


"Di, keren kamu bisa bikin anak ini bekerja sangat keras sekali," lanjut Arka masih terus menggoda Natta.


"Maklum saja Ar, tuan muda ini sedang tersesat," balas Dio seketika membuat keduanya tertawa. Tidak terkecuali Airin juga yang ikut tertawa.


"Ck, banyak bac*t kalian," umpat Natta seraya ikut duduk di antara mereka.


"Wih...tunggu, bahaya nggak nih kalau pegawai ganteng ini ikut duduk di sini?" lagi-lagi Arka mencoba untuk menggoda Natta.


"Sante, lainnya udah tahu kok," balas Dio membuat Arka pura-pura mengernyitkan keningnya.


"Tahu kalau kita temenan maksudnya, yang lain mana tahu dia putra mahkota di kerajaan FCT grup," jelas Dio semakin membuat mereka tertawa.


"S**lan kalian semua," lagi-lagi Natta mengumpat karena kesal.

__ADS_1


Sementata Airin sejak kedatangan Natta tadi diam-diam terus mencuri pandang ke arah Natta. Matanya tidak bisa rasanya untuk berpaling ke arah lain. Seakan Natta punya maghnet sendiri untuk dinikmati Airin dengan wajahnya.


"Aku minum ya? nggak ada racun kan?" goda Arka diangguki oleh Natta.


"Minum aja, paling setelahnya kamu bisa bertemu dengan eyang buyutmu Ar," balas Natta semakin membuat mereka tertawa.


Obrolan terus berlanjut sampai tidak terasa sudah satu jam lebih. Mereka saling membicarakan tentang keanehan Natta yang memilih untuk hidup menjadi gelandangan seperti saat ini. Sesekali Airin juga ikut menyeletuk namun setiap kali Airin menanggapi apa yang Natta katakan. Natta selalu membalas sewajarnya.


Sangat tidak mudah bagi Natta sebenarnya bersikap baik-baik saja di depan kedua sahabatnya. Namun Natta tidak ingin ketidak sukaannya terhadap Airin diketahui oleh kedua sahabatnya.


"Toiletnya dimana Di?" tanya Airin dijawab Dio dengan menunjukan tempatnya.


"Hai Kay, dari kamar mandi?" tanya Airin tersenyum manis.


Kayna menoleh, ia mengangguk tanpa menunjukan senyum seperti Airin. Merasa kesal dengan jawaban Kayna, Airin melirik dengan sinis.


Bugh


"Auw!" pekiknya.

__ADS_1


Sontak saja melihat apa yang dilakukan oleh Airin membuat Kayna terkejut. Ia diam seperti orang bingung.


Airin dengan sengaja menjatuhkan dirinya, juga merobek sedikit baju atasannya yang berendra.


"Auw... Sakit Kay!" ujarnya sengaja dikencangkan volume suaranya.


"Kayna!" Olin datang setelah melihat suara teriakan dari dekat kamar mandi.


"Kenapa dia?" tanya Olin berniat untuk membantu. Namun justru tangan Olin dengan sengaja ditepis oleh Airin. Hal itu jelas membuat Olin sama bingungnya dengan Kayna.


Keduanya sama-sama terdiam di tempatnya. Seperti orang yang bingung harus melakukan apa. Apa lagi Kayna yang melihat langsung tindakan Airin sendiri. Menurut Kayna Airin seperti orang yang sudah tidak punya kewarasan.


"Ayo Lin, dia stres," ujar Kayna berniat mengajak Olin untuk pergi meninggalkan Airin.


Jika dulu Kayna membantu dengan suka rela. Dengan penuh ketulusan, lain halnya dengan saat ini. Ternyata baik Sasa atau pun Airin memiliki kesamaan, hanya saja Airin bersembunyi dibalik kebaikannya.


Deg


Belum sempat melangkahkan kakinya untuk pergi. Kayna dan Olin sudah disuguhkan dengan pemandangan ketiga laki-laki tampan di depannya. Bedanya mereka menampilkan wajah kebingungan semua. Apa lagi posisi Airin saat ini masih terduduk di lantai dengan senyum palsunya.

__ADS_1


__ADS_2