Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Mendapat Dukungan


__ADS_3

Masih menunggu sampai mama Mita siuman. Kayna duduk setelah Natta tadi pamit untuk pergi. Gadis itu seperti limbung tidak tahu arah melihat mamanya masih terbaring belum sadarkan diri. Ada perasaan takut dalam diri Kayna. Ia takut karena tidak memiliki siapa-siapa lagi selain mamanya.


"Makan dulu Kay." Natta datang membawakan bungkus makanan untuk Kayna.


Kepala Kayna mendongak. Ia menatap Natta yang juga sedang menatapnya. "Aku nggak lapar," balasnya mendapat helaan napas dari Natta.


"Tante Mita lagi sakit, kamu nggak boleh sakit Kay. Nggak ada yang jagain tante nanti," jelas Natta membuat Kayna mengangguk kecil.


Tangannya terulur untuk mengambil makanan yang dibawa oleh Natta. Meski tidak ada keinginan namun Kayna tetap memaksakan untuk makan. Setidaknya apa yang dikatakan oleh Natta itu benar. Kayna tidak boleh sakit. Karena tidak akan ada yang merawat mamanya jika Kayna ikut sakit.


"Ma, Kay makan dulu ya?" pamit Kayna menggenggam tangan mama Mita dengan lembut. Setelahnya Kayna menatap Natta yang menganggukan kepalanya.


"Tante biar aku yang jaga," ujar Natta membuat Kayna bergegas pergi.


Melihat mama Mita yang sedang terbaring sakit membuat Natta merasa tidak tega dengan beliau. Juga dengan Kayna yang memang sudah hidup mandiri sejak kecil. Namun entah kenapa Natta juga kepikiran dengan pak Givan yang tiba-tiba bisa ada bersama dengan mama Mita. Bahkan beliau sendiri yang membawa mama Mita ke rumah sakit.


Karena rasa pensaran yang tinggi. Natta berniat untuk menanyakan langsung kepada Ayahnya. Bisa saja ayahnya kembali menjalin bisnis bersama yang membuat mama Mita juga pak Givan saling mengenal.

__ADS_1


Pukul setengah 11 siang. Terlihat pergerakan tangan dari mama Mita. Beliau mulai mengeluh sakit pada bagian kepalanya.


"Aduh," lirih mama Mita.


"Ma, mama sudah sadar?" Kayna menatap wajah pucat mamanya.


"Dokter! dokter tolong ke sini!" teriak Kayna membuat Natta yang tadi duduk di pojok ruangan ikut menghampiri.


"Kay, mama dimana?" tanya beliau dengan suara lemah.


"Mama di rumah sakit. Mama pingsan tadi," beritahu Kayna seketika membuat mama Mita terdiam.


Sebenarnya mama Mita sudah dibawa ke rumah sakit sejak tadi malam. Hanya saja pak Givan sengaja menghubungi gadis itu tadi pagi sekali.


"Kayna!" seru Olin yang baru saja datang bersama dengan Dio juga yang lain.


"Tante." Olin menatap mama Mita yang masih terbaring. Diikuti yang lain juga.

__ADS_1


"Nanti kita bicara," ujar Dio memegang pundak Natta pelan.


Bukannya menjawab Natta justru sengaja mundur secara perlahan. Ia tahu mama Mita tidak menyukainya sekarang. Dan mungkin saja keberadaan Natta juga tidak diinginakan.


Melangkah semakin jauh. Sudut bibir Natta seketika tertarik ke atas. Mungkin saja Kayna juga akan membencinya setelah tahu siapa dirinya. Tidak berniat untuk membohongi, namun Natta takut jika berkata jujur Kayna akan menjauh. Karena disaat ini Kayna gadis yang melihatnya tanpa latar belakang dirinya.


"Natta!" bukan suara Dio yang memanggilnya. Melainkan Arka yang sedang mencoba mengejarnya.


"Jelaskan semuanya!" ujar Arka menuntut penjelasan dari Natta.


"Kamu dan Kayna, bukan sekedar teman bukan?" lanjutnya lagi mengamati wajah datar Natta.


"Aku pergi dulu, ada yang harus aku selesaikan," ujar Natta meninggalkan Arka yang masih berdiri di tempatnya.


"Natta. Kalau emang bener. Aku berpihak sama kamu bukan Dio lagi!" teriak Arka seketika mendapat tatapan tajam dari orang-orang yang berada di lorong rumah sakit. Bahkan ada beberapa tugas keamanan rumah sakit yang mulai menghampiri Arka.


"Mas kalau teriak-teriak bukan di sini tempatnya, tapi rumah sakit jiwa," ujar ibu-ibu menatap sinis Arka.

__ADS_1


"Siap bu," balas Arka dengan senyumnya.


__ADS_2