
Duduk di teras depan yang sederhana Natta dan mama Mita masih belum bersuara. Niat Natta untuk menjelaskan apa yang tadi dilihat oleh mama Mita. Sementara mama Mita masih merasa kecewa dengan perasaan marah terhadap Natta.
Ada alasan kenapa beliau begitu merasa murka. Kejadian yang menimpanya beberapa belas tahun yang lalu jelas tidak ingin sampai terulang lagi. Apa lagi itu Kayna. Mama Mita ingin Kayna hidup bahagia tanpa merasa menjadi beban atau bersalah.
"Aku minta maaf tante, tapi tidak terjadi apa-apa di antara aku dan Kay," ujar Natta pada akhirnya.
Bukannya mendapat jawaban dari mama Mita. Natta justru mendapatkan tatapan tajam dari beliau. Kata-kata Natta baru saja tanpa disadari sangat membuat beliau bertambah murka.
"Lancang kamu Natta, kamu pikir tante berharap bagaimana?" ujar mama Mita membuat Natta menggeleng.
Laki-laki itu mencoba tetap tenang, meski tidak dipungkiri menyakiti seorang wanita yang sudah sangat baik terhadapnya membuat Natta merasa sangat bersalah, tatapan matanya ia beranikan diri untuk menatap mama Mita secara langsung, dengan harapan agar beliau tahu tidak ada kebohongan apa lagi niatan untuk mengecewakan beliau.
"Bukan begitu maksud aku tante, tadi malam Kay minta aku buat jemput dia, karena dia lagi butuh-"
"Aku lagi butuh teman ngobrol untuk menenangkan hati aku, aku butuh penenang agar tangis aku tidak berlarut," sela Kayna yang tiba-tiba datang dan membuat Natta juga mama Mita menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kay," panggil mama Mita tidak mendapat jawaban dari Kayna.
Gadis itu tetap melangkah tanpa menghiraukan mamanya.
"Ayo Nat, keburu telat nanti," ajaknya melewati mama Mita dan Natta yang masih duduk di kursi teras.
"Kay tunggu!" teriak mama Mita namun dicegah oleh Natta.
Kepala Natta menggeleng pertanda jika cukup pagi ini sampai di situ saja. Bukan bermaksud untuk menghasut atau membuat hubungan Kayna dan mama Mita semakin buruk, namun Kayna sepertinya masih marah dengan mama Mita dan bahkan lebih marah dari pada ketika sadar tidur berdua dengan Natta.
Setelah kepergian kedua remaja tersebut. Barulah mama Mita menghela napas dengan sangat dalam. Dipegangnya dadanya yang terasa sakit ketika melihat putri cantiknya tidak lagi mau berbicara dengannya. Kemarahan yang tadinya ingin beliau luapkan kepada Kayna tentang kejadian Kayna dan Natta yang tidur bersama seketika sirna digantikan dengan beliau yang merasa bersalah sendiri.
Namun lagi-lagi. Beliau belum mempunyai keberanian apa lagi kekuatan ketika menjelaskan kepada Kayna.
"Maafin mama Kay," lirihnya.
__ADS_1
Bukan menuju ke sekolah. Motor besae milik Natta terparkir di depan gedung menjulang tinggi. Kayna sempat ingin protes namun belum sempat membuka mulutnya Natta sudah lebih dulu menjelaskan.
"Ke apartemen temen dulu, aku belum pakai seragam Kay," beritahu Natta mendapat tatapan sinis dari Kayna.
"Ck, nggak percaya banget? kamu kira aku bakal minta tidur bareng kamu lagi?" lanjut Natta membuat mata Kayna tiba-tiba mendelik.
"Ya udah buruan, aku nunggu di sini aja," balas Kayna diangguki oleh Natta enteng.
"Oke kalau gitu, hati-hati tapi di sini banyak om-om nakal, apa lagi liat gadis SMA yang lagi galau," celetuk Natta sengaja menggoda Kayna.
"Natta!" teriak Kayna mau tidak mau berlari menghampiri Natta.
Sadar jika Kayna sedang berlari untuk mengikutinya. Sudut bibir Natta seketika tertarik ke atas.
"Si keras kepala mulai lunak."
__ADS_1