
"Bu Mita," panggil pak Rian membuka pintu dan berdiri di ambang pintu ruangan mama Mita.
"Oh iya pak, ada yang bisa dibantu?" tanya beliau dengan sopan. Meski kedatangan atasannya cukup membuat beliau kaget tadi.
"Sebelum pulang, tolong bikinkan aku kopi seperti biasa ya? nanti malam aku ada lembur, tapi bu Mita boleh untuk pulang dulu," ujar pak Rian diangguki oleh mama Mita.
"Siap pak, terimakasih sebelumnya," balas beliau diangguki oleh pak Rian. Setelahnya beliau keluar dari ruangan mama Mita.
Tidak ingin sampai membuat atasannya menunggu terlalu lama. Mama Mita segera bergegas untuk menuju ke dapur kantor. Meski ada tugasnya sendiri tapi untuk urusan kopi kini mama Mita sudah diperintah langsung oleh bunda Delia setelah pertemuan keduanya beberapa waktu lalu. Istri dari bosnya sendiri yang mengajari mama Mita.
"Sore bu," sapa beberapa pegawai dengan ramah.
Mama Mita mengangguk dengan disertai senyuman. "Sore mbak," balas beliau ramah.
Selesai membuatkan pesanan untuk bosnya. Beliau segera bergegas untuk menuju ke lantai atas. Namun di tengah perjalanan tanpa sengaja kembali melihat OB yang tadi memberikan obat juga vitamin untuk beliau.
"Pak tunggu sebentar!" teriak beliau membuat yang merasa dipanggil menoleh.
__ADS_1
"Kenapa bu? ada yang bisa dibantu?" tanyanya ramah.
Kepala mama Mita menggeleng. Beliau ingin menanyakan siapa yang tadi sudah memberinya obat dan vitamin. Karena jujur saja beliau sendiri sampai mengira-ngira jika yang telah memberi perhatian kepada beliau ialah seseorang di masa lalu.
"Bapak tahu siapa yang tadi kasih aku obat?" tanya mama Mita tanpa basa-basi.
"Wah kalau itu saya kurang paham bu siapanya. Maklum saja saya baru seminggu di sini," balas beliau diangguki oleh mama Mita.
"Ciri-cirinya apa bapak masih ingat?" tanya beliau membuat pegawai tersebut mengangguk.
Natta? apa Natta yang melakukannya? namun tidak akan mungkin anak itu menginjakkan kakinya di kantor ayahnya? bukankah dia sedang dalam masa berontak terhadap ayahnya karena merasa terkekang? Memikirkan hal itu membuat mama Mita jadi merasa iba sendiri, iba karena sudah mengira jika laki-laki di masa lalunya masih bersimpatik akan dirinya.
Tidak pergi bekerja di kafe Dio bukan karena Kayna sedang tidak enak badan atau kurang sehat seperti apa yang dikatakan olehnya. Melainkan hati dan perasaannya yang sedang terombang-ambing tanpa arah dan tujuan, Kayna merindu namun tidak berniat untuk mengutarakan.
"Kay," panggil mama Mita yang baru saja pulang bekerja.
"Baru pulang ma?" tanya Kayna diangguki oleh mama Mita.
__ADS_1
"Mama pucat banget? mama sakit?" khawatir Kayna langsung menghampiri mamanya.
"Kecapean sepertinya," balas mama Mita bersandar pada sofa kecil di ruang tamu.
"Bentar Kay ambilin teh hangat dulu." Kayna beranjak dari duduknya. Namun tangan mama Mita justru mencegahnya.
"Hubungan kamu sama Natta, bagaimana?"
Deg
Seketika itu juga jantung Kayna berdetak dengan sangat kencang. Hanya nama Natta yang disebutkan namun efeknya sangat berpengaruh sekali terhadap Kayna. Terlebih mama Mita sendiri yang menanyakan, orang yang kini menentang hubungan mereka.
"Kenapa mama nanya itu?" tanya Kayna membuat mama Mita terdiam.
Mama Mita seperti tidak bisa menjawab, tidak tahu juga apa yang membuat beliau tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Aku udah jauhin Natta seperti keinginan mama, tapi aku tidak akan pernah nyerah buat cari tahu kenapa mama nyuruh aku buat jauhin Natta," jelas Kayna begitu pasti.
__ADS_1