Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Hampir Baikan


__ADS_3

Pagi harinya. Suasana di sekitar vila masih cukup dingin meski matahari sudah mulai menampakan cahayanya. Kayna terbangun di jam 6 pagi. Sementara Olin masih tertidur lelap di bawah selimut tebal. Tadi malam memang setelah makan bersama semuanya langsung beristirahat untuk menyimpan energi yang akan mereka gunakan di hari ini.


Rencananya hari ini semuanya akan berkeliling di sekitar vila. Perkebunan teh yang luas dan juga perkebunan buah-buahan.


Tidak langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Kayna menatap keluar dari jendela kamarnya. Tanpa disengaja Kayna melihat Natta yang sedang duduk sendiri di bangku taman Vila.


Natta sedang sibuk dengan layar laptop di depannya. Juga ditemani secangkir teh di sebelahnya. Bahkan laki-laki itu terlihat begitu sibuk mengotak-atik keyboard di pangkuannya.


Sejenak Kayna terdiam memandangi Natta yang terlihat sangat serius dengan layar laptopnya. Tanpa disadari sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum. Ada perasaan bahagia meski hanya hal sederhana yang ia lihat sekarang.


"Aku nggak tahu Nat kenapa mama nyuruh aku buat jauhin kamu?" gumam Kayna menghela napas cukup dalam.


"Aku tahu kamu cowok baik-baik. Meski sekarang aku masih mencoba untuk menyangkalnya," gumamnya lagi.


Niatnya untuk berbalik badan. Namun sebelum benar-benar membalikan tubuhnya. Tiba-tiba Natta menatal ke arahnya dari kejauhan. Keduanya sama-sama saling tatap sebelum akhirnya Natta sendiri yang memilih untuk menutup laptop di pangkuannya dan beranjak pergi.


Awalnya Kayna sedikit terkejut dengan kepergian Natta. Juga ada sedikit rasa kecewa dengan tindakan Natta tersebut. Namun tidak lama setelah itu jantung Kayna tiba-tiba berdegup dengan sangat kencang saat mendengar suara ketukan di pintu dari arah luar.


Tok


Tok


Tok


Ekor mata Kayna melirik ke arah Olin yang masih mendengkur nyenyak. Langkahnya pelan untuk mendekati pintu.

__ADS_1


Ceklek


Deg


Seketika itu juga jantung Kayna semakin terpompa semakin cepat. Hatinya berdebar dengan sangat hebat. Natta berdiri di depannya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa Kayna tebak. Jangankan untuk menebak, meski kini mata Kayna mengamati wajah Natta di depannya, nyatanya ia tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Kayna terlalu gugup.


"Ka-kamu ngapain?" tanya Kayna masih sedikit gugup.


"Berdiri. Biar kamu nggak susah lagi buat ngamati aku," balas Natta seketika membuat Kayna semakin bertambah gugup. Namun juga merasa kesal dengan jawaban Natta barusan.


"Becanda doang Kayna. Aku mau ngajak kamu pergi, ayo!" ajaknya seraya menarik tangan Kayna untuk segera keluar dari kamar.


Apa yang dilakukan oleh Natta juga Dio sangatlah berbeda. Jika Dio meminta Kayna dengan cara hati-hati meski seperti ada penekanan agar tidak mendapat penolakan. Berbeda dengan Natta yang langsung menarik tangannya tanpa menunggu persetujuan dari Kayna.


"Nggak perlu, udah cantik," balas Natta membuat sudut bibir Kayna seketika tertarik ke atas.


Cukup jauh keduanya berjalan meninggalkan Vila. Karena masih pagi udara di sana terasa lebih dingin. Namun keindahan yang ditunjukan tidak membuatnya berniat untuk kembali ke vila.


"Kita mau kemana?" tanya Kayna setelah keduanya hampir sampai di perkebunan teh dengan posisi yang cukup tinggi.


"Bentar lagi sampai," balas Natta terus menarik tangan Kayna untuk mengikutinya.


"Kalau capek bilang. Nanti aku gendong," ujar Natta mendapat gelengan kepala dari Kayna.


"Nggak perlu," tolak Kayna dijawab Natta dengan kekehan.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu keduanya sampai di puncak perkebunan teh yang sangat luas. Sinar matahari menyinari tubuh keduanya dari posisi yang paling tinggi sekarang. Kayna memejamkan matanya dengan seulas senyum di bibirnya. Merasakan kehangatan juga kesejukan yang bisa dirasakannya secara bersamaan.


"Indah banget," ujar Kayna membuat Natta yang berada di sampingnya ikut tersenyum menatapnya.


"Kayna," lirih Natta seketika membuat mata Kayna terbuka dengan pelan.


Gadis itu menatap ke arah Natta yang juga sedang menatapnya.


"Apa kamu mau maafin aku kalau aku-"


Drrttt


Drrtt


Drrtttt


Ponsel yang dibawa oleh Kayna tiba-tiba bergetar. Melihat siapa yang menghubunginya membuat Kayna seketika mengernyitkan keningnya. Namun sebelum ia mengangkat sambungan teleponnya Kayna menatap ke arah Natta yang masih menatapnya dengan anggukan di kepalanya.


"Angkat, siapa tahu penting," titah Natta langsung membuat Kayna menggeser warna hijau di layar ponselnya.


"Hallo ma, ada apa?" tanya Kayna.


Detik berikutnya wajah Kayna menegang dengan tatapan kosong ke depan. Natta yang melihat itu langsung melihat layar ponsel di tangan gadis itu.


"Hallo tante," ujar Natta mengambil alih ponsel milik Kayna. Namun bukan suara tante Mita yang Natta dengarkan. Suara seorang laki-laki yang menjawab dari seberang telepon.

__ADS_1


__ADS_2