
Kedatangan Natta di kelas cukup menyita perhatian seisi kelas yang sudah lebih dulu datang. Bagaimana tidak? Natta masuk masih menggunaka hoodie hitam miliknya ditambah dengan handset di telinganya membuatnya terlihat semakin keren dan lebih unggul dari Arka.
Kayna melirik ke arahnya sekilas. Kepalanya sedikit menggeleng dengan gigitan kecil pada bibir bagian bawahnya.
Tadi ketika masih dengannya Natta hanya memakai seragam tanpa hoodie yang menutupinya. Lalu kini datang dengan penampilan yang berbeda. Meski terkesan umum untuk anak laki-laki seusianya. Namun jika Natta yang mengenakan jelas menyita perhatian banyak siswi. Sejak kedatangannya juga Natta sudah membuat gaduh siswi-siswi karena parasnya yang tampan. Sayang sekali nasib Natta tidak sebaik Arka dan temannya yang lain. Natta harus bekerja di kafe kecil milik sahabatnya karena tidak seberuntung itu.
"Caper," gumam Kayna menatap ke lain arah.
Olin yang kini duduk di samping Natta merasa gemetar. Selain untuk yang pertama kalinya Olin bisa sedekat itu dengan Natta, ternyata Natta juga sangat wangi. Diciumnya seragam yang melekat pada tubuhnya. Olin menggeleng pelan karena ternyata tidak dapat menimbulkan bau harum seperti ketika Natta datang.
"Wangi banget," lirih Olin gelagapan sendiri.
"Kayna kok bisa ya normal terus jantungnya, aku yang baru berapa menit aja udah mau pingsan," gumam Olin menganga mengamati Natta dari samping.
Hampir saja semua siswi di kelas berteriak ketika melihat Natta melepas hoodie yang melekat pada tubuhnya.
"Aaa... Natta kenapa ganteng banget sih?"
"Nggak sanggup aku kalau terus berdiam gini terus!"
"Kay, jadi cewek pinter dikit dong, cantik doang otaknya kurang," ujar Syifa yang kini duduk bersama dengan Kayna.
Masih ingatkah kalian jika tadi pagi Kayna meminta untuk Olin untuk tukar posisi duduk? Kini Kayna yang duduk bersama gadis dengan nama Syifa. Sementara Olin bersama dengan Natta. Tanpa belum Natta sadari sedari tadi.
"Apa sih? terserah aku dong!," bela Kayna bertambah jengah.
Ternyata duduk bersama dengan gadis di sampingnya lebih menyebalkan daripada Natta. Namun apa daya Kayna tidak mungkin meminta Olin untuk kembali ke bangkunya sekarang.
__ADS_1
"Nat-Natta, kamu ganteng banget," sempat terdiam mengira jika Kayna sedang memuji dirinya. Natta seketika menoleh karena suara yang baru saja didengar olehnya sangat berbeda dari biasanya.
Terlihat Olin dengan wajah merah dan senyum yang menurut Natta saat ini terlihat aneh. Setelahnya Natta menoleh ke arah dimana Kayna duduk sekarang.
"Hai Natta," sapa Kayna dari bangkunya tanpa bersuara, juga dengan senyum meledek.
"S**t," umpat Natta kesal.
Namun bukan Natta namanya jika tidak jahil dan usil kepada Kayna. Dengan keadaan seperti saat ini, Natta justru menggunakan kesempatan untuk melihat bagaimana reaksi Kayna dengan tindakan yang akan dilakukannya.
"Olin," panggil Natta membuat Olin terbelalak.
"I-iya-iya Natta," balas Olin gugup.
"Bantu aku ya buat isengin Kayna," ijin Natta yang hanya mendapat anggukan dari Olin.
Tangan Natta sengaja ditaruh dibagian bangku Olin. Jika dilihat dari belakang. Natta seperti sedang merangkul Olin dan itu membuat Kayna yang melihatnya juga siswi yang lain langsung terbeo.
Namun Kayna merasa jika Natta memang sedang mempermainkannya. Berniat untuk ke kamar mandi sebelum bel masuk. Kayna urungkan karena bunyi bel tiba-tiba terdengar.
"Selamat pagi anak-anak!" ujar ibu guru yang sudah masuk.
"Pagi bu!" jawab semua siswa/i kompak.
Setengah pelajaran. Kayna pamit ijin untuk ke toilet. Dia sebenarnya cukup merasa kesal melihat Natta yang terlihat terus menggoda Olin. Entah itu disengaja atau secara natural alamiah Kayna merasa terganggu.
"Bu ijin ke toilet!" ujar Kayna diangguki guru tersebut.
__ADS_1
"Cepat ya Kay," balas beliau dijawab Kayna dengan anggukan kepalanya.
Setelah keluar dari kelas. Barulah Kayna bisa bernapa dengan lega. Ia merutuki dirinya yang terus saja mengamati interaksi di antara Natta dan Olin.
"Aaa...kenapa jadi gini sih? harusnya aku marah sama Natta," lirihnya kesal.
Tepat ketika Kayna akan berbelok menuju lorong toilet. Seseorang tiba-tiba mencekal dan menariknya ke sudut ruangan.
Kayna sempat ingin berontak. Namun niatannya itu pudar saat melihat siapa pelakunya.
"Natta," lirih Kayna menatap Natta yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.
Antara mengamati wajah Kayna atau ingin mengungkapkan sesuatu. Namun detik berikutnya Kayna dibuat terperangah saat Natta mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kayna.
"You are jealuos Kayna," ujar Natta membuat Kayna terdiam.
Ingin menyangkal namun kenapa mulutnya tiba-tiba durjana sekali. Seakan ada lem yang membuat mulutnya tidak bisa untuk digerakan.
Tubuh Kayna tiba-tiba terasa dingin saat jemari Natta terasa pada bagian tengkuk lehernya. Ada usapan kecil yang dapat Kayna rasakan, Baru setelahnya Kayna dibuat mati berdiri oleh tindakan Natta.
Cup
Pipi bagian kirinya dikecup oleh Natta. Dan itu membuat Kayna menegang seketika.
Tanpa mereka ketahui. Seseorang menutup mulutnya tidak percaya melihat kedua remaja yang sedang bermesraan di dekat toilet. Segera ia mengambil ponselnya untuk digunakan sebagai keberuntungannya nanti.
"Perfect," ujarnya menyunggingkan senyum.
__ADS_1