
Memejamkan matanya sejenak, Natta menghela napas cukup panjang setelah mendengar percakapan di antara pak Givan dan mama Mita. Ia memutar gelas yang kini berada digenggamannya. Lalu menyudutkan bibirnya tipis.
Namun tidak lama setelahnya. Ponsel yang masih berada di dalam sakunya tiba-tiba bergetar. Beberapa pesan singkat masuk yang langsung membuat Natta membelalakan matanya setelah membuka pesan tersebut.
Bukan hanya pesan saja yang masuk, melainkan beberapa foto yang membuat Natta seakan kehilangan akal. Ia beranjak melupakan keinginanya untuk melanjutkan mengikuti mama Mita dan pak Givan. Otaknya dipenuhi dengan Kayna yang membuat emosi dan juga amarahnya naik seketika.
"S***an!" umpat Natta melajukan mobilnya sangat kencang.
Natta sampai di sekolah setelah keadaan sekolah sudah sangat sepi. Semua murid sudah masuk ke kelasnya karena memang jam pelajaran sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu.
Brak
Cukup kencang menutup kembali pintu mobilnya. Natta langsung bergegas menuju ke belakang sekolah. Bahkan ia sempat berpapasan dengan seorang guru namun tidak begitu ia hiraukan meski namanya terus disebutkan oleh guru tersebut.
"Natta!"
"Natta, berhenti kamu!"
"Saya bilang berhenti Natta."
__ADS_1
Sampailah dia di belakang sekolah. Dimana tadi ia melihat foto Kayna bersama dengan seorang siswa dengan keadaan Kayna yang tidak baik-baik saja. Dalam foto tersebut dua kancing seragam Kayna teratas sengaja dibuka dan memperlihatkan bagian dada atasnya. Hal itu jelas menimbulkan emosi Natta yang cukup tinggi.
"S***lan, dimana kamu breng**k!" umpat Natta tidak menemukan keberadaan Kayna.
Detik berikutnya Natta dibuat terdiam membeku di tempatnya saat mendengar suara isak tangis dari seseorang. Sebelum menemukan sumber suara tangis tersebut pun hati Natta sudah berdebar dengan sangat hebat, jantungnya mulai terpompa dengan begitu cepat. Langkahnya pelan menghampiri dimana suara isak tangis itu masih terdengar. Baru setelah dia menemukannya. Natta terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya seakan kehilangan kekuatan untuk sekadar bergerak. Natta syok melihat Kayna di depannya saat ini.
Kayna, dengan seragam yang terlihat sudah sangat lusuh menangis pilu di depannya. Gadis itu sesenggukan seraya menunduk menyembunyikan wajahnya.
Tidak langsung menghampiri Kayna. Sekuat tenaga Natta mengumpulkan kekuatan untuk bisa menghampiri Kayna. Ia salah satu orang yang sangat tersakiti melihat keadaan Kayna saat ini.
"Kay," panggilnya lirih.
Suara isak tangis tersebut terhenti. Namun Kayna masih tetap pada posisinya. Melihat Kayna yang tidak meresponnya semakin membuat Natta sakit. Ia tahu gadis itu sangat terluka sekarang.
Perlahan gadis itu mendongak. Ia menatap Natta tanpa bersuara. Bibirnya bergetar hebat, lalu buliran air mata itu kembali mengalir dari pelupuk matanya.
"Pergi!" usir Kayna membuat hati Natta semakin pedih.
Bukannya menuruti apa yang diperintah oleh Kayna. Natta justru semakin melangkah mendekat. Meski keadaan hatinya kini sudah tidak bisa dijelaskan lagi. Natta sama-sama tidak ada baiknya. Apa yang dialami oleh Kayna suatu petaka baginya.
__ADS_1
"Pergi Nat!" lirih Kayna dengan tangisnya.
"Aku udah pernah bilang kan? akan selalu ada didekatmu dalam keadaan apapun," ujar Natta membuat Kayna menggeleng.
Dengan sangat pelan, Natta mengangkat tubuh lemas Kayna untuk digendongnya. Tidak peduli keadaan hatinya sekarang. Ia akan membalas dendamkan apa yang menimpa dengan Kayna.
Mata Kayna tidak terlepas menatap wajah Natta yang kini berada didekatnya. Tangannya ia rangkulkan pada leher Natta. Hatinya semakin sakit melihat wajah Natta tanpa ekspresi saat ini.
Natta lirih Kayna dalam hatinya.
Berjalan pasti dengan Kayna berada digendongannya. Beberapa siswa/i yang kebetulan sedang berolahraga melihatnya. Tidak terkecuali guru yang sedari tadi terus memanggil nama Natta. Beliau terkejut melihat Natta dengan Kayna berada digendongannya.
"Kalian! apa-apaan ini?" teriak guru tersebut tidak dipedulikan oleh Natta.
Tujuannya sekarang ialah membawa Kayna ke rumah sakit. Lalu mencari tahu siapa dalang dibalik ini semua.
Baru setelah Natta sampai di mobilnya. Guru beserta murid yang tadi memang sengaja mengikuti mereka terperangah kaget. Mobil yang Natta bawa ialah mobil termahal dan termewah dari mobil lainnya, bahkan pemilik sekolah pun atau orang tua dari Arka tidak memilikinya.
"Ada apa?" tanya Arka melihat beberapa siswa/i yang sedang berolahraga menuju ke parkiran sekolah.
__ADS_1
"Itu Natta sama Kayna dari belakang sekolah," beritahu salah satu siswa membuat kening Arka seketika berkerut.
Ia melirik ke arah Natta yang sudah berhasil membawa Kayna masuk ke mobilnya. Sebelum benar-benar pergi. Natta sempat menatap tajam ke arah semua siswa/i yang menyaksikannya. Tidak terkecuali guru yang sedari tadi memanggilnya namun tidak ia anggap sama sekali. Baru setelahnya Natta pergi dengan segudang dendam yang akan harus dia balaskan.