
Hati Kayna sangat dongkol saat berada di apartemen yang ia ketahui milik teman Natta. Bukan hanya berganti seragam saja, melainkan Kayna juga harus menunggu Natta yang kini sedang mandi. Asli Kayna kesal dengan Natta tetapi juga dirinya yang mau saja diajak Natta ke apartemen tersebut.
Memangnya sedekat apa hubungan mereka? Dibilang teman bukan apa lagi pacar. Memikirkan hal itu membuat Kayna merasa bodoh sendiri. Bodoh karena tiba-tiba bisa seterbuka itu dengan Natta juga tentang masalah mama Mita yang jalan dengan seorang laki-laki.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Reflek Kayna menoleh ke asal suara, dan lagi-lagi Kayna semakin merasa bodoh dan lain saat Natta muncul hanya mengenakan handuk sedang yang digunakan sebatas pinggang. Tubuh Natta masih setengah batas, dan bahkan masih ada tetesan dari rambut basahnya.
Glek
Untuk yang kedua kalinya Kayna melihat tubuh Natta bagian atas tanpa ditutupi apapun. Dan reaksinya begitu hebat akan tubuhnya. Jika detak jantungnya terus berdetak dengan begitu cepat, tubuhnya bereaksi lain, kaku seakan tidak bisa untuk digerakan. Memaksa matanya untuk berkedip saja sangat susah untuk Kayna lakukan.
Melihat wajah Kayna saat ini membuat Natta tersenyum tipis. "Nggak polos-polos amat ternyata," komentar Natta reflek membuat tubuh Kayna kembali normal.
"Apa sih? buruan pakai!" balas Kayna kini memandang ke arah dinding yang terdapat kaca kecil.
"Pakai apa Kay? btw dingin ya di sini?" goda Natta seraya memakai seragam sekolahnya.
"Dingin apanya? ngaco aja! di gunung tuh yang dingin!" omel Kayna mode singanya keluar.
__ADS_1
"Natta buru deh!" kesal Kayna karena detak jantungnya masih begitu cepat.
Berada di satu ruangan bersama dengan Natta dengan keadaan Natta yang seperti itu jelas membuat Kayna merasa seperti aneh, seperti pasangan yang baru saja melakukan...ah sudahlah.
"Done," ujar Natta membuat Kayna dapat menghela napas dengan lega.
"Kenapa? takut banget ya aku-"
"Apa?" galak Natta membuat Natta terkekeh dengan gelengan di kepalanya.
"Galak," balas Natta menyambar kunci motornya.
Sampai di parkiran. Bukannya langsung menuju ke motornya. Natta justru menghampiri seorang pedangan kaki lima. Melihat itu membuat Kayna kembali harus menahan amarahnya.
"Apa lagi?" gumam Kayna menatap Natta dari motor besar milik Natta.
Selang berapa lama. Natta datang dengan dua bungkus di tangannya.
"Bawa!" titahnya semakin membuat Kayna mendelik.
__ADS_1
Natta menyuruhnya seenaknya saja. Semakin berani dan ngelunjak laki-laki seperti Natta.
"Bawa Kay," paksa Natta mengambil tangan Kayna untuk mebawakan bungkusan plastik yang dibawa olehnya.
Tidak menolak juga tidak menjawab. Kayna akhirnya menurut saja. Meski hatinya dongkol tetapi apa susahnya sih hanya membawa bungkusan plastik kecil yang beratnya tidak seberapa itu.
Motor Natta melesat meninggalkan gedung apartemen untuk menuju ke sekolah. Dengan membawa Kayna yang masih cemberut perkara disuruh Natta membawakan bungkusan plastik.
"Kayaknya ini motor pembawa hoki deh Kay," ujar Natta membuat Kayna menautkan kedua alisnya.
"Kenapa diem?" tanya Natta tidak mendapat respon dari Kayna.
"Terus aku harus tanya kenapa gitu?" balas Kayna membuat Natta terkekeh.
"Harus, karena jawabannya bersangkutan sama kamu," jelas Natta sontak mendapat pukulan kecil dari Kayna.
Tidak dipungkiri meski sering kesal dengan tindakan atau tingkah Natta. Namun diam-diam Kayna mengukir senyum di belakang Natta. Ia merasa senang meski hal sederhana sekali pun bersama dengan laki-laki di depannya.
"Pak, saya sudah mendapatkan alamat baru den Natta," ujar seseorang dari parkiran apartemen. Tatapan matanya menatap kepergian motor besar milik Natta tadi.
__ADS_1