Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Perasaan Dio


__ADS_3

Menatap gadis yang disukainya beberapa bulan ini Dio belum mengucapkan sepatah kata pun. Ia terkekeh kecil dengan pandangan yang sudah kembali menatap lurus ke depan.


"Maaf Kay, aku tidak bisa mempertahankan kamu tetap bekerja di kafe kecil itu lagi," ujar Dio tampak murung.


"Natta itu punya segalanya, dan bahkan lebih dari pada aku dan Arka, bodohnya kemarin dia sempat limbung tidak tahu arah hanya karena penat dengan urusan bisnis ayahnya yang dia kerjakan," jelas Dio diangguko oleh Kayna.


Kayna sudah tahu karena ketika duduk berdua dengan pak Rian. Semua tentang Natta sudah beliau ceritakan dan jelaskan, termasuk tentang Natta yang ternyata tinggal di rumah kontrakan Kayna pun pak Rian sudah berterimakasih secara langsung dengan Kayna. Dan salah satu tanda rasa terimakasih dari beliau ialah dengan menjadikan Kayna sekertaris pribadi Natta.


Keduanya hanya bekerja setengah hari setelah pulang sekolah. Sebaik itu pak Rian untuk membuat Natta tetap tinggal di rumahnya lagi. Juga karena pertemuan Natta dengan Kayna membawa dampak yang cukup baik untuk Natta.


"Aku suka kamu Kayna, aku menyukai kamu sejak kamu mulai bekerja di kafe ku. Ini salah satu keinginan terbesarku untuk mengungkapkan perasaanku sebelum kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Natta," ujar Dio tampak sendu.


Kayna tidak begitu terkejut mendengar pengungkapan perasaan Dio untuknya. Ia sendiri bukan gadis bodoh yang tidak tahu bagaimana seorang cowok menyukai lawan jenisnya.

__ADS_1


Segala perhatian Dio selama ini untuknya sudah cukup bukti dan membuat Kayna yakin jika Dio memang menyimpan rasa untuknya. Namun perasaan Kayna untuk Dio tidak lebih hanya sebataa atasan dan bawahan, juga teman yang cukup dekat. Kayna tidak melihat Dio sebagai orang yang sepesial di hatinya.


"Tenang aja Kay, aku nggak akan maksa kamu buat nerima perasaan ini kok," lanjut Dio beranjak dari duduknya.


Dengan sikap Kayna yang memilih diam sudah cukup membuat Dio paham jika perasaan yang dimilikinya untuk Kayna tidak terbalaskan. Sejatinya Dio hanya ingin mengungkapkan agar tidak lagi menjadi beban untuknya. Diterima atau tidaknya sudah tidak lagi menjadi masalah bagi Dio.


"Baik-baik ya kamu, kalau lagi nggak sibuk banget sering-sering main ke kafe," ujar Dio mengacak puncuk rambut Kayna dengan pelan. Diiringi senyum tipis yang memang sering Dio perlihatkan.


"Makasih udah baik banget sama aku selama ini," ujar Kayna berkaca-kaca.


Dio menoleh dan tersenyum tipis. Ia menyuruh Kayna untuk memeluknya dengan tubuhnya.


"Maaf kak," lirih Kayna ketika berada di pelukan Dio.

__ADS_1


Tidak terlalu lama memang, namun setidaknya keduanya sudah sama-sama lega sekarang.


"Jaga Kayna Nat," titah Dio menepuk pundak Natta ketika melewatinya.


Sedari tadi Natta memang masih menunggu di samping motornya. Ada beberapa siswi juga teman Natta yang menghampirinya. Dulu Natta juga sekolah di sana. Sekolah elit yang menjadi kebanggaan untuk anak-anak yang memiliki orang tua kelas atas.


Motor Natta kembali melaju kencang membawa Kayna untuk mereka kembali ke sekolah. Tanpa diminta Natta seperti biasanya, Kayna sudah lebih dulu melingkarkan tangannya pada pinggang Natta.


"Kay, nanti langsung mulai kerja ya?" ujar Natta hanya dijawab Kayna dengan anggukan kepala.


Mau menolak pun sudah percumah saja dia lakukan. Karena kini Kayna benar-benar sudah terikat dengan Natta atas dasar pekerjaan.


"Btw kerja sama aku enak kok Kay," ujar Natta menatap Kayna dari spion motornya.

__ADS_1


__ADS_2