
Pukul 7 malam. Kayna masih berada di ruang inap mama Mita. Sementara Olin pamit untuk pulang. Rencananya Olin pulang untuk mengganti pakaian dan mengambilkan baju untuk Kayna, setelah itu Olin berniat menemani Kayna menginap di rumah sakit.
Sementara Kayna duduk di samping ranjang mama Mita. Gadis itu sedang dilanda rasa bimbang. Ingin mengirim pesan kepada Natta namun terus dia urungkan. Mungkin ada sekitar 4 kali Kayna terus melakukan hal yang sama. Mengetik pesan dan siap untuk dikirimkan ke nomor Natta, namun setelahnya kembali ia hapus merasa kurang tepat saja.
Ceklek
Pintu ruang inap mama Mita terbuka. Bukan Olin yang datang, melainkan laki-laki yang baru diketahui Kayna bernama Givan tadi pagi ketika bersama dengan Natta. Laki-laki tersebut melangkah pelan menuju ke arahnya dan mama Mita.
"Bagaimana keadaan mama kamu?" tanya beliau ramah.
"Seperti yang anda lihat," balas Kayna tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
Terdengar helaan napas dari beliau. Sementara wajahnya mengukir senyum kecil. "Kayna, ada-"
"Saya ingin ngobrol dengan Om, sebaiknya kita keluar," sela Kayna beranjak dari duduknya. Setelahnya gadis itu pergi dari ruang inap mamanya.
Sementara pak Givan tampak mengangguk kecil. Sebelum keluar beliau sempat menatap ke arah mama Mita yang sedang terbaring sakit.
Di sebelah pintu ruang inap mama Mita. Keduanya duduk dengan pikiran masing-masing. Entah kenapa Kayna seakan tidak bisa mengontrol diri untuk tidak bertanya. Gadis itu terlalu penasaran dengan laki-laki yang mungkin saja sedang mendekati mamanya.
"Sudah sejauh mana hubungan anda dengan mama saya?" Kayna mencoba untuk bertanya dengan tenang.
__ADS_1
Meski dalam hatinya ada keinginan untuk menjerit dan menegaskan bahwa ia tidak ingin jika mamanya dekat dengan laki-laki lain sebelum tahu siapa ayahnya. Mama Mita hanya memberitahu jika apa yang terjadi di antara dirinya dan ayah Kayna ialah suatu kesalahan. Secara tidak langsung pun mama Mita menjelaskan bahwa Kayna ada tanpa keinginan keduanya. Bisa dibilang Kayna anak yang tidak diharapkan.
Mendapati pertanyaan dari gadis di sebelahnya membuat beliau menghela napas cukup panjang. Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Karena keduanya memang memiliki suatu hubungan. Hanya saja hubungan tersebut tidak lebih dari sekadar keperluan saja.
"Kita tidak cukup dekat, hanya saja kita memiliki-"
"Kayna!" Mama Mita tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
Sontak saja baik Kayna atau pun pak Givan langsung beranjak dari duduknya. Keduanya sama-sama terkejut melihat adanya mama Mita.
"Mama! mama jangan jalan dulu." Kayna berusaha membantu mamanya agar kembali ke ranjangnya.
"Mita sebaiknya kamu-"
"Silahkan anda keluar! dan terimakasih sudah menolong saya," sela mama Mita memejamkan matanya.
Pak Givan memang yang membawa mama Mita ke rumah sakit sebagai penolong. Namun beliau jugalah yang membuat mama Mita sampai tidak sadarkan diri malam itu.
"Ayo Kay, kita masuk!" ajak mama Mita diangguki oley Kayna.
Sejujurnya Kayna senang melihat mamanya yang bersikap demikian dengan laki-laki bernama Givan tersebut. Mama Mita menolaknya. Namun ada yang aneh dari cara bicara mama Mita, juga dari tatapan keduanya. Kayna curiga ada yang disembunyikan oleh mamanya, dan itu tentang laki-laki tersebut.
__ADS_1
Sementara di rumah besar Natta. Kini Oma dan bunda Delia sedang menyiapkan untuk makan malam mereka. Sedari tadi bunda Delia sabar terus mendengarkan omelan dari ibu martuanya. Pergi begitu saja tanpa memberi kabar jelas membuat Omanya terus merasa khawatir akan Natta. Namun setiap kali bertanya dengan orang suruhan pak Rian. Jawabnnya selalu membuat beliau bertambah murka, karena belum menemukan keberadaan cucunya.
"Mereka itu tidak berguna. Menemukan cucukku saja tidak bisa," omel Oma ditujukan untuk orang-orang yang bertugas mencari keberadaan Natta.
"Saya tahu mah, tapi bairkan saja dia hidup kesusahan." Pak Rian datang dan membuat semua yang berada di sana menoleh kedatangan beliau.
Tidak terkecuali para asisten rumah tangga yang sedang membantu menyiapkan makan malam.
"Apa katamu Rian? kamu tahu dimana Natta dan membiarkan aku dan Delia menderita menahan rindu? oh Tuhan sepertinya anaku ini menginginkan aku cepat bertemu dengan-Mu," ujar beliau dengan tangan menengadah ke atas.
"Sebentar saya ke atas dulu. Hari ini Mita tidak masuk bekerja saya sedikit kerepotan tadi di kantor," ujar ayah Rian seraya menaiki anak tangga.
"Mbak Mita nggak masuk yah?" tanya bunda Delia diangguki oleh pak Rian.
"Dia sakit. Nanti kita ke sana!" balas pak Rian setengah berteriak.
Tepat di anak tangga terakhir. Pak Rian dan Natta berpapasan. Jika Natta cuek tidak menganggap adanya ayahnya. Lain halnya dengan beliau yang terus mengamati Natta.
"Tunggu di meja makan," ujar ayah Rian tenang.
Langkah Natta terhenti. Ia tidak menjawab juga tidak menoleh ke arah Ayahnya. Namun tujuannya kini memang ke meja makan. Tanpa ayahnya menyuruhnya pun Natta berniat untuk makan malam bersama dengan dua wanita yang dirindukannya.
__ADS_1