
Setelah kejadian tadi di dekat toilet. Semua yang bersangkutan kini berada di ruangan Dio untuk diintrogasi. Lebih tepatnya Dio meminta penjelasan dari Kayna, Olin juga Airin. Tidak terkecuali Natta dan Arka yang juga berada di ruangan Dio.
Terdengar helaan napas dari Dio sebelum menanyakan sesuatu hal kepada gadis di depannya. Setengahnya Dio sendiri memang tidak begitu yakin jika apa yang tadi Airin katakan itu benar kejadiannya.
"Aku mau denger penjelasan dari Kayna," ujar Dio membuat Airin melirik sinis Kayna.
Merasa khawatir dengan temannya. Olin melirik ke arah Kayna. Ia yakin dengan kejadian ini akan ada kesalah pahaman. Namun yang lebih tidak mengerti lagi kenapa Airin sangat berbeda ketika di sekolah dan luar sekolah.
"Baik kak, yang aku liat tadi Airin jatuh dengan sendiri, dia juga robek lengan bajunya sendiri," ujar Kayna apa adanya.
"Yakin Kay? bukannya tadi kamu sengaja narik baju aku ya? apa sih salah aku sama kamu?" sela Airin dengan ektingnya.
"Kamu nggak salah apa-apa sama aku, begitu juga dengan aku, jadi buat apa kamu harus pura-pura Airin?" balas Kayna membuat Airin mengepalkan tangannya.
Setelahnya Airin tampak memelas kepada Arka. Dia sebagai pasangannya jelas akan dimanfaatkan oleh Airin untuk menyingkirkan atau paling tidak Kayna dinyatakan bersalah oleh Dio, melihat Natta yang diam tanpa berkomentar semakin membuat Airin merasa kesal dengan Kayna.
"Ar, kamu percaya kan sama aku? kamu tahu gimana aku, nggak mungkin dan nggak ada gunanya aku lakuin ini semua," ujar Airin memelas kepada Arka.
__ADS_1
"Ada, kalau seseorang itu nggak suka sama seseorang yang dimaksudkan," semua yang berada di sana menatap ke arah Natta.
Cowok yang sedari tadi lebih memilih untuk diam tidak ikut campur kini ikut memberi pendapat. Meski ekspresi wajah Natta kini terlihat masih biasa saja seperti tadi.
Begitu juga dengan Kayna yang menatap Natta tidak percaya. Secara tidak sadar Natta seperti membelanya di depan teman-temannya. Dan itu sesuatu yang langka untuk seorang Natta lakukan.
"Olin, jelaskan apa yang kamu lihat," titah Dio diangguki oleh Olin setuju.
Sebelum menjelaskan apa yang dilihatnya. Olin sempat melirik ke arah Kayna dan juga Airin. Setelahnya ia menghela napas cukup dalam agar tidak terlalu gugup.
"Jadi gini kak, tadi pas aku denger teriakan Airin aku langsung lari ke arah toilet. Sampai di sana aku memang melihat Airin yang sudah terjatuh, sementata posisi Kayna masih berdiri, tapi pas aku-" jeda Olin melirik ke arah Airin yang juga sedang menatapnya.
"Pas aku mau bantu Airin buat berdiri dia menolaknya. Airin nepis tangan aku, maaf Airin aku ngomong apa adanya," lanjut Olin melirihkan suaranya di akhir kalimat.
"Benar gitu Irin?" tanya Arka tidak percaya.
Jika Arka sudah memanggilnya dengan nama panggilannya itu berati Arka sudah merasa marah atau pun kecewa. Kepala Airin menggeleng, ia mengelak apa yang dikatakan oleh Olin barusan.
__ADS_1
"Enggak Ar, aku bukannya menolak bantuan dari dia, tadi susah banget buat ngulurin tangan, tangan aku masih sakit karena Kay tadi menariknya, kamu lihat sendiri kan baju aku sampai sobek gini?" Airin terus mencoba membela diri. Dengan harapan semua yang berada di sana terkecuali Kayna dan Olin dapat percaya dengannya.
"Nggak ada untungnya aku lakuin kayak gitu kan? oke Kayna, Olin kalau aku ada salah sama kalian berdua, aku minta maaf, tapi tolong jangan rundung aku di belakang mereka," cicit Airin menitihkan air matanya.
Melihat hal itu membuat Kayna muak rasanya. Sementara Olin masih bingung dengan apa yang Airin maksudkan.
"Airin, aku minta maaf udah bikin kamu jatuh, udah bikin baju kamu robek tadi," ujar Kayna membuat Airin tersenyum dalam hatinya.
Sementara semua yang berada di sana tampak tidak percaya dengan pengakuan Kayna. Baru saja Kayna tadi mengelak atas tuduhan Airin. Dan kini Kayna sendiri malah yang mengakuinya.
"Itu semua aku lakuin karena tadi kamu sengaja menginjak kaki aku, kalian bisa lihat masih ada kok bekasnya," lanjut Kayna seketika membuat semua yang berada di sana semakin terkejut.
Mereka melirik ke arah sepatu Kayna yang memang terdapat bekas seperti noda injakan, dan itu semakin memperkuat jika apa yang Kayna katakan itu benar adanya.
Sementara Airin kini bingung atas tuduhan Kayna untuknya. Berupaya mengelak pun tidak bisa Airin lakukan. Arka sudah menatapnya dengan tatapan kecewa.
"Kak Dio, aku pamit untuk kerja lagi," lanjut Kayna menarik tangan Olin untuk segera pergi.
__ADS_1
Melihat apa yang dilakukan oleh Kayna. Diam-diam Natta tersenyum senang. Ia semakin kagum dengan sosok Kayna yang selain keras kepala juga pemberani.
"Makin demen Kay," gumam Natta lirih.