
Pelajaran seketika dihentikan karena pengakuan Oki dan Paul tadi di ruang guru BK. Keduanya sudah mengakui secara jelas juga siapa dalang dibalik semuanya. Kini Sasa siap-siap untuk dikeluarkan dari sekolah, menggantikan Airin yang sengaja dia tumbalkan untuk membuat Kayna celaka pada waktu itu.
Tinggal Arka yang berniat menemui Airin ke rumahnya. Ia ingin meminta maaf secara langsung dan jika masih diberi kesempatan oleh Airin, Arka ingin memperbaiki hubungan mereka yang sudah berakhir. Setidaknya Arka ingin berusaha untuk itu, masalah nanti Airin mau atau tidak, Arka memaklumi hal itu.
Kayna dan Olin duduk di pojok Kantin. Keduanya memilih untuk berdiam diri di kantin karena anak-anak sedang ramai di lapangan upacara, banyak di antara mereka yang sedang berdemo agar pihak Sekolah segera mengeluarkan Sasa.
"Keluarkan Sasa."
"Keluarkan Sasa! keluarkan Sasa."
"Pada berisik banget, sampai kedengeran dari sini," ujar Kayna diangguki oleh Olin.
"Tapi seru tahu Kay, akhirnya Sasa akan musnah juga," gadis bertubuh gempal itu cekikikan mengingat betapa hancurnya Sasa saat ini.
"Salah siapa jahat sama temen aku," lanjutnya seraya mencubit dagu Kayna dengan gemas.
Sudut bibir Kayna tertarik ke atas. Ia menggeleng seraya melirik tingkah jahil Olin kepadanya. "Apaan sih Lin? jadi centil gini."
"Namanya juga lagi seneng, udah lama tahu Kay aku menantikan hal seperti ini terjadi, sampai akhirnya kamu datang ke sekolah dan benar-benar mewujudkam itu," jelas Olin tersenyum penuh semangat.
"Tapi aku hampir aja celaka, ingat itu!" Kayna sengaja menoyor kepala Olin membuat gadis itu mengaduh sakit juga cekikikan.
Setelah seluruh siswa/i dibubarkan, Kayna tidak langsung pulang ke rumahnya. Natta sedari tadi terus mendesak Kayna agar mau diajak olehnya ke suatu tempat. Setelah masalah kejadian Kayna di sekolah selesai, Natta berencana mencari tahu siapa ayah kandung dari Kayna.
Rencana Natta ialah mempertemukan Kayna dengan ayah kandungnya sebelum meminang Kayna sebagai istri atau pendamping hidupnya.
__ADS_1
"Kenapa ke sini?" protes Kayna melihat adanya gedung tinggi di depannya.
Bukan membawa Kayna ke restoran atau taman untuk mereka mengobrol, Natta justru membawanya ke sebuah gedung perkantoran.
"Mau lamar kerja di sini juga?" tanya Kayna membuat Natta reflek terkekeh.
"Ngaco! aku udah kaya Kay, ngapain ngelamar kerja di perusahaan yang lebih kecil dari kantor ayahku," balas Natta seketika membuat Kayna berdecak sebal.
"Emang punya ayah, tapi itu dulu, kalau kamu lupa aku CEO nya," jelas Natta tersenyum tampan.
Namun senyuman tampan yang Natta perlihatkan untuk Kayna malah semakin membuat Kayna bertambah kesal.
"Iya tahu, sampai buat aku terjebak penyamaran CEO," kesal Kayna melirik Natta yang masih tertawa puas. "CEO nggak tahu diri!" lanjut Kayna.
__ADS_1
"Dendam banget kayaknya, cuma ngambil hati kamu doang Kay," bela Natta untuk dirinya.
"Doang kamu bilang? ini hati Natta bukan mainan," jelas Kayna menekan kata-katanya saat mengucapkan kata 'hati'.
Natta kembali terkekeh, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah jadi sangat serius. Tatapan matanya begitu lekat menatap manik mata Kayna yang sedang menunggu jawaban darinya.
Cletuk
Sengaja Natta menyentil kening Kayna untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Apa sih Nat? sakit tahu," kesal Kayna mengusap keningnya.
"Siapa yang mau mainin hati kamu? masih nggak percaya sama lamaran aku kemarin? kalau gitu besok kita nikah," jelas membuat Kayna ternganga.
"Atau mau langsung punya anak aja?" Natta menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Natta!" teriak Kayna.