
Mengenakan helm berwarna hitam dengan bermotif gambar lucu. Kayna terus mengukir senyum di belakang Natta. Kini tujuan mereka ialah untuk pulang mengantar Kayna sampai rumah setelah tadi makan soto di pinggir jalan terlebih dahulu.
Masih ada waktu untuk Kayna istirahat sebelum berangkat kerja. Dan Natta juga sudah berjanji akan menjemput Kayna nanti ketika akan berangkat pulang.
"Nggak malu numpang di apartemen temen terus?" tanya Kayna mendapat cengiran dari Natta.
"Kenapa emang? kangen ya aku di rumah kamu lagi?" balas Natta membuat Kayna merotasikan matanya.
"Nggak usah kePDan deh Nat," balasnya mendapat kekehan dari Natta.
"Nggak enak aku terus ngrepotin tante Mita, beliau baik banget Kay, mau anggap kayak mama sendiri tapi nanti jadi nggak bisa nikahin anaknya," ujar Natta dengan memuji kebaikan mama Mita.
Meski diakhir kalimat yang Natta ucapkan membuat Kayna merasa sedikit panas pada sekitar wajahnya. Tidak menjawab, Kayna lebih memilih untuk memegang hoodie Natta dengan tarikan sudut bibirnya sebagai pembentuk senyum.
Melihat respon Kayna yang tidak lagi memukul dengan galak atau mengelak membuat Natta semakin merasa mendapat peluang untuk masuk mendekati Kayna. Saat-saat seperti ini yang sangat pas untuk membuat Kayna luluh.
"Pegangan Kay, biar bisa ngobrol lebih lama lagi nanti di rumah," ujar Natta menarik tangan Kayna untuk berpegangan.
__ADS_1
Sudut bibir Kayna terus melengkung sepanjang perjalanan. Kadang Kayna menatap tangannya yang sedang melingkar pada pinggang Natta, terkadang juga Kayna menatap punggung tegap laki-laki itu dari belakang dan dengan jarak yang sangat dekat.
Sampailah mereka di depan rumah kontrakan yang Kayna dan mamanya tinggali. Kayna turun dari motor besar milik Natta. Begitu juga dengan Natta, melihat mama Mita yang sudah berada di rumah di jam yang tidak biasanya membuat keduanya terkejut.
Jika Natta mengira karena masalah tadi pagi. Mungkin saja mama Mita memilih untuk ijin tidak masuk kerja. Lagian ayahnya tidak begitu galak meski terkesan tegas, namun ada kebaikan dalam hatinya.
"Siang tante," sapa Natta memberi salam kepada beliau.
Tidak menjawab salam dari Natta. Namun mama Mita membiarkan punggung tangannga dicium oleh Natta. Sementara Kayna yang masih merasa kesal bersikal acuh seperti tidak ada mama Mita di sana.
Menyadari ada kejanggalan atau mungkin saja memang karena masalah tadi pagi. Natta pamit untuk langsung pulang saja.
"Tante, aku pamit pulang dulu," lanjut Natta berpamitan dengan mama Mita.
Sama seperti tadi ketika ia baru saja tiba. Mama Mita tidak menjawab apa yang Natta katakan. Meski begitu Natta tetap mencoba untuk tersenyum dan mulai berjalan pelan menuju ke motor besarnya.
Belum sampai dimana letak motornya berada. Suara mama Mita sudah mengejutkannya dan berhasil menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Salam untuk orang tua kamu ya Natta, kalau kamu sudah mau pulang ke rumah," sarkas beliau membuat Natta menatap ke arah mama Mita.
Keduanya saling bersitatap dengan artian masing-masing. Tersyirat akan sesuatu dari tatapan yang mama Mita perlihatkan kepada Natta.
"Iya," balas Natta lirih lalu pergi meninggalkan rumah kontrakan Kayna.
Terdengar helaan napas yang cukup dalam saat motor Natta sudah pergi menjauh. Beliau memegangi dadanya lalu segera masuk ke rumah. Tujuan beliau ialah menemui Kayna. Ingin memperbaiki hubungan mereka juga mungkin memberitahu Kayna siapa Natta sebenarnya.
Ceklek
Pintu kamar Kayna dibuka oleh mama Mita. Terlihat Kayna yang sedang berbaring di ranjang seraya memainkan ponselnya.
Didekatinya anak gadisnya yang selama ini menemaninya. Selama ini menjadi kekuatan untuk beliau bertahan sampai sekarang.
"Kay, mama minta maaf ya nak?" ujar beliau tidak mendapat respon dari Kayna.
"Tidak seharusnya memang mama sembunyiin ini dari kamu, mama harusnya cerita dari awal tentang papa kamu," setelah mama Mita mengatakan itu. Barulah Kayna menoleh mama Mita seakan menuntut penjelasan dari beliau.
__ADS_1
"Aku juga berhak tahu siapa papa aku ma, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti dan seperti apa masa lalu mama," balas Kayna diangguki oleh mama Mita dengan sendu.
"Iya sayang, mama minta maaf udah bikin kamu kecewa sama mama," balas beliau dengan tekad siap menjelaskan apa yang terjadi di masa lalunya sampai Kayna tumbuh tanpa seorang ayah selama ini.