
Malam ini udara dirasa sangat dingin bagi Kayna. Gadis itu mengambil baju lengan panjangnya untuk menghangatkan badan. Langkahnya cukup pelan menuju ke kamar mama Mita. Bersyukur mamanya tidak harus menginap lama di rumah sakit. Tadi siang mama Mita sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Yang menjadi masalah kini bukanlah tentang mamanya yang tidak mengijinkan ia bersama dengan Natta. Melainkan perasaan Kayna yang dilanda rasa bimbang. Ia menyukai Natta, ia juga sadar mempunyai rasa sayang dan bahkan ingin memiliki. Namun setiap kali Kayna mengingat siapa dirinya dan bagaimana keluarganya selama ini. Kayna tidak cukup percaya diri untuk disandingkan apa lagi menjadi kekasih Natta.
"Kayna," ujar mama Mita seketika membuat Kayna menoleh.
Mama Mita terbangun dari tidurnya. Beliau menatap Kayna yang sedang duduk tidak jauh darinya. Beliau lalu mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan pelan.
"Maafin mama Kay," ujar beliau merasa bersalah.
"Mama nggak salah, tapi keadaan aja yang bikin Kay ngerasa nggak pantas untuk Natta," balas Kayna menatap dalam manik mama Mita.
Kemarin setelah pertemuan kedua orang tua mereka di rumah sakit. Juga setelah mengobrol hanya berdua bersama dengan pak Rian. Kayna jadi tahu sesuatu hal. Tidak sepenuhnya semua salah Natta, karena Natta hanya ingin mencari jati dirinya sendiri, begitu juga dengan takdir yang mempertemukan mereka disaat Natta sedang menjalani kehidup layaknya seperti orang lain. Remaja biasa pada umumnya. Namun baik Kayna atau pun Natta tidak bisa menyangkal perasaan mereka. Keduanya sama-sama memiliki ketertarikan dan rasa ingin memiliki.
"Harusnya mama jelasin semua ke kamu lebih awal Kay, tentang ayah kamu dan juga Natta," ujar beliau seketika membuat raut wajah Kayna berbeda.
"Mama sudah tahu kalau Natta bukan orang sembarangan Kay, mama tahu ketika mama di kantor ayahnya," beritahu mama Mita sempat membuat napas Kayna terasa tercekat.
Bukan hanya Natta saja ternyata yang membohongi dirinya. Melainkan mamanya sendiri yang tidak jujur lebih awal dan membiarkan Kayna terus mencari tahu jawabnya sendiri. Namun sekarang semua pertanyaan yang selama ini dinanti jawabnya sudah Kayna ketahui. Termasuk kenapa mama Mita menginginkannya untuk menjauhi Natta.
"Jadi itu alasannya ma?" Kayna menatap mama Mita dengan raut wajah kecewa. Namun tidak sedikit pun gadis itu berpaling dari pandangan matanya.
"Karena mama tahu Natta itu anak dari bosnya mama? sementara Kay," genggaman tangan mama Mita pada tangannya perlahan ia renggangkan.
Untuk yang kesekian kali Kayna dibuat kecewa oleh orang yang sangat dia sayangi di dunia ini. Mamanya segalanya bagi Kayna, namun terlalu banyak rahasia yang beliau sembunyikan dari Kayna.
"Apa karena Kay juga tidak punya ayah ma?" mata Kayna mulai berkaca-kaca. Gadis itu menggeleng pelan lalu pergi dari kamar mamanya.
Sudah cukup rasanya mama Mita selalu menyembunyikan sesuatu darinya. Kayna ingin tahu apa yang terjadi dimasa lalu. Selain yang sudah dia ketahui jika ayahnya pergi sejak ia masih didalam kandungan. Kayna ingin tahu lagi apa yang membuat ayahnya tega meninggalkannya.
__ADS_1
"Kenapa semua orang tega sama aku?" lirihnya dengan tubuh merosot ke bawa.
Pagi harinya Kayna berniat untuk kembali ke sekolah. Mama Mita sudah cukup membaik untuk ditinggal. Jika tidak ada halangan Kayna juga berniat untuk kembali bekerja.
"Kay, sarapan dulu!" titah mama Mita mencoba menyiapkan sarapan untuk Kayna. Meski keadaan beliau belum pulih sepenuhnya. Namun selama masih bisa melakukannya, beliau lakukan sendiri tentunya.
"Mama masak?" kaget Kayna mendapat gelengan kepala dari mama Mita dengan senyum tipis dari beliau.
"Enggak sayang, mama beli bubur ayam tadi di depan," beritahu beliau seketika membuat Kayna teringat sesuatu.
Bubur ayam itu makanan kesukaan Natta untuk sarapan. Bukan hanya mengingatkannya ketika Natta membelikannya di depa apartemen yang mungkin saja itu sebenarnya milik Natta. Bahkan Kayna baru menyadari selama masih tinggal di rumah kontrakannya pun Natta sering sekali membeli bubur ayam. Kayna tidak begitu mempedulikan ketika itu.
"Kenapa? kamu nggak suka Kay?" tanya mama Mita melihat Kayna terbengong.
"Suka kok ma, makasih," balas Kayna tersenyum tipis.
Kepala Kayna melirik ke pintu kamar yang dulu ditempati oleh Natta. Sekarang pintu itu tidak tersentuh lagi, dalamnya pun sepi berselimut debu, Kayna merindukan masa-masa dimana ia dan Natta terus bersitegang namun selalu bersama. Kayna merindukan itu.
"Biar aku aja," ujarnya berlalu.
"Dengan mbak Kayna?" tanya seseorang yang sudah berdir di depan pintu rumahnya.
Sempat berpikir untuk beberapa saat, Kayna mengangguk membenarkan. "Iya benar, bapak siapa ya?" tanya Kayna bingung.
Pasalnya pakaian yang dikenakan oleh orang tersebut seperti bukan seorang kurir apa lagi tukang ojek online. Kayna juga sedang tidak memesan suatu barang apapun.
"Saya dari FCT grup mbak. Mau menyerahkan ini," ujar beliau sopan. Setelahnya pamit meninggalkan Kayna yang masih bingung di tempatnya.
"Siapa Kay?" teriak mama Mita dari dalam.
__ADS_1
"Nggak tahu ma, tapi katanya dari FCT grup," balas Kayna seketika membuat mama Mita mengernyitkam keningnya.
FCT grup bukankah perusahaan tempat mama Mita bekerja?
"Bawa sini Kay," titah beliau mulai penasaran. Mama Mita mengira itu sengaja dikirimkan untuk beliau.
Kayna menyerahkan amplop coklat besar yang tadi baru diterimanya. Namun ada yang aneh dari tulisannya. Amplop tersebut ditujukan memang untuk Kayna bukan untuk mama Mita. Dan bahkan nama yang tertulis di depannya jelas nama Kayna bukan nama beliau.
"Buat kamu?" tanya beliau bingung.
Kepala Kayna menggeleng pelan. Ia sendiri merasa bingung.
Perlahan Kayna membuka amplop yang ternyata berisi map di dalamnya. Mata Kayna cukup teliti membaca isi dari map tersebut. Namun detik berikutnya ia dibuat terkejut setengah mati dengan tulisan pernyataan yang ada di dalam map tersebut.
"Kay, kenapa?" tanya mama Mita ikut panik melihat wajah Kayna mematung di depannya.
Beliau mencoba mengambil alih map tersebut, lalu membacanya dan benar saja apa yang membuat Kayna terdiam terjawab sudah dengan isi tulisan di dalamnya.
"Bagaimana bisa?" heran beliau menggelengkan kepalanya.
"Aku segera telepon pak Rian," ujar mama Mita namun ditahan oleh Kayna.
Melihat Kayna yang mencoba mencegahnya seketika membuat mama Mita mengernyitkan keningnya bingung.
"Kenapa?" tanya beliau menatap manik mata Kayna.
"Ini sudah kita bicarakan kemarin ma. Kay nggak nyangka aja kalau pak Rian benar-benar melakukannya," jelas Kayna kini bergantian membuat mama Mita yang diam membeku.
Entah kenapa beliau sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Tidak pernah menyangka kalau atasannya akan melakukan tindakan sejauh ini.
__ADS_1
"Tapi, kamu masih sekolah Kay," lirih beliau menatap manik mata Kayna dalam, juga diangguki oleh Kayna dengan pelan.
"Kay tahu ma," lirihnya menatap jauh ke depan.