Terjebak Penyamaran CEO

Terjebak Penyamaran CEO
Terlihat Namun Tak Tersentuh


__ADS_3

Pagi harinya Kayna dikejutkan dengam ojek online yang mengirimkan bubur ayam untuknya. Setahunya baik dirinya atau pun mama Mita tidak ada yang memesan.


"Dari siapa pak?" tanya mama Mita kepada ojek tersebut.


"Ini bener alamat rumahnya mbak Kayna kan?" balas tukang ojek tersebut diangguki Kayna.


"Iya saya sendiri," jawabnya membuat tukang ojek tersebut tersenyum tipis.


"Ini buat mbak-nya. Tolong diterima ya? dari siapanya saya nggak boleh kasih tahu, katanya biar mbak cari jawabannya di rasa buburnya, ada kenangan yang manis mbak," jelas tukang ojek tersebut membuat kening Kayna berkerut.


"Ada-ada saja, makasih ya pak," tidak ingin terlalu lama akhirnya Kayna menerima saja. Toh...tidak baik juga menolak kebaikan orang.


"Dijamin nambah vitamin mbak, ganteng banget yang ngirim," sebelum benar-benar pergi si tukang ojek sempat berkata yang membuat Kayna geleng-geleng kepala.


"Apa itu Kay?" melihat Kayna membawa bungkus kecil membuat mama Mita penasaran.

__ADS_1


"Buryam," balas Kayna seperlunya.


"Kamu beli bubur? mama kan udah masak," jelas beliau dijawab Kayna dengan mengangkat kedua bahunya.


"Nggak tahu dari siapa," balas Kayna seketika membuat mama Mita terdiam.


Lagi-lagi mama Mita merasa orang di masa lalunya lah yang mengirimkan makanan tersebut. Masih teringat jelas bagaimana dulu beliau dan orang tersebut dekat hanya karena hal kecil di pinggir jalan.


"Buang itu Kay," titah beliau membuat Kayna mendelik.


"Mama bilang buang!" serunya lagi.


"Mama kenapa sih? sejak mama sama-," jeda Kayna tidak sanggup untuk mengatakannya. "Mama jadi beda! mama jadi berubah! mama nggak terima karena Kay nggak suka sama dia?" seloroh Kayna dengan nada tingginya.


"Mama juga menyangkut pautkan Natta sama masa lalu mama. Natta itu Natta bukan ayah Kay yang tega tinggalin Kay sejak masih dalam kandungan!" mata Kayna cukup tajam menatap mama Mita. Setelahnya ia pergi ke kamar.

__ADS_1


Terlihat buliran air mata yang keluar dari mata indah mama Mita. Rasanya sesak, namun mama Mita tetap tidak melakukan apa-apa, menjelaskan tentang masa lalunya saja tidak cukup membuat Kayna benar-benar menerima atau mengerti. Kayna masih kecewa dengan laki-laki yang mengantarkan mama Mita malam itu.


"Tidak mudah Kay mama lewati ini semua tanpa kamu," lirihnya memegang dada yang terasa sakit.


Duduk seorang diri di taman sekolah ditemani ikan-ikan kecil di kolam. Kayna berusaha menghabiskan bubur yang sengaja dia bawa untuk sarapan.


Hanya dengan sekali suapan dia sudah tahu jawabannya. Itu bubur ayam yang sudah pernah Natta beli ketika Kayna dipaksa mengantar ke apartemen teman Natta.


"Bener kan buat aku bukan buat mama? masih aja disangkut pautkan sama masa lalu," ujar Kayna terkekeh kecil. Tawa kecil yang sangat miris jika diartikan.


Tanpa Kayna sadari. Natta yang juga sudah cukup lama berdiri di belakangnya mengulas senyum tipis melihat Kayna yang tidak menolak atau membuang makanan pemberiannya. Itu berati Kayna tidak benar-benar marah akan dirinya. Hanya saja sifat keras kepala Kayna yang membuat mereka kini semakin menjauh.


Natta sendiri cukup paham jika Kayna sedang tidak baik-baik saja. Namun untuk membuat tenang gadis itu sekarang seperti ada pondasi besar di antara mereka.


"Maaf Kay, aku ingkar nggak bisa gantiin ayah kamu buat jaga kamu," ujar Natta tampak merasa menyesal.

__ADS_1


Langkahnya sangat pelan untuk semakin mendekat dimana Kayna kini berada. Rasanya campur aduk antara kecewa dengan diri sendiri juga marah dengan keadaan. Kenapa disaat Kayna tidak baik-baik saja. Natta justru sedang tidak di sampingnya. Itu membuat Natta merasa kecewa dan marah pada diri sendiri.


"Baik-baik Kay," lirih Natta nyaris tak terdengar.


__ADS_2