
Tok!... tok!.. tok!...
Terdengar suara ketukan pintu tiga kali, perlahan Davina membuka matanya, hampir dua jam ia tertidur di sofa.
Perlahan ia bangkit sambil melirik jam dinding yang menempel di dinding kamar, waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Bergegas ia membuka pintu, nampak Bu Sumi berdiri tepat dihadapannya.
"Nona, makan sore telah siap! Mulai saat ini kita akan terbiasa makan bersama dengan para pelayan dan karyawan lainnya. Mari, jangan sungkan".
Kata bu Sumi ramah. Kemudian ia berlalu menuju ke ruangan dapur khusus para karyawan. Davina mengikutinya dari belakang setelah ia minta izin ke toilet dahulu.
Ternyata benar, ada beberapa orang nampak tengah makan dan sebagian lagi tengah asyik ngobrol. Sebenarnya entah berapa orang jumlah seluruh karyawan dan pelayan yang dipekerjakan di rumah itu, yang jelas mereka bekerja dengan tugas yang berbeda.
Tiba-tiba Nani salah seorang pelayan yang ia kenal pertama kali ketika ia baru masuk ke rumah itu menoleh kearah Davina sambil melambaikan tangan mengajak makan siang bersama. Davina menghampirinya walau sedikit canggung.
"Mari kita makan bersama, santai sajalah, anggap saja kita satu keluarga". Sambil melirik Davina. Davina hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian merekapun menikmati makan bersama dengan akrab.
Davina sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya, walaupun akan banyak sekali peraturan yang mengikat kedepannya, tapi ia bertekad berusaha untuk bisa menjalaninya dengan baik.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Davina. Sejenak mereka yang tengah asyik mengobrol terdiam. Sambil menengok kearah suara yang memanggil nama Davina.
"Nona Davina, anda dipanggil Tuan Muda ke ruangannya, mari ikut saya sekarang!" Kata pelayan itu sambil tersenyum, tak berselang lama iapun pergi berlalu sambil berjalan mandahului Davina yang mengekor dibelakangnya.
__ADS_1
Tiba di depan sebuah pintu kamar yang nampak berbeda dengan kamar-kamar lainnya, persisnya bisa dibilang seperti ruangan khusus karena dilihat dari desain dekorasinya yang unik, berbeda dengan ruangan yang lainnya.
Tok! ... tok!....tok!...
Ketukan tiga kali dilakukan oleh pelayan itu, terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk.
Nampak Radithya duduk didepan meja kerjanya bersama seorang supir yang tadi menjemput Davina. Mereka pun masuk seraya membungkukkan sedikit tubuhnya sopan.
"Kamu boleh pergi!" Kata Radith kepada pelayan yang tadi bersama Davina, sambil menganggukan kepala, iapun berlalu pergi.
" Hari ini kamu akan diantar sopir untuk membeli keperluanmu. Semua daftar yang harus kamu beli sudah tertulis disana". Sambil menyodorkan sebuah buku kecil diatas meja tepat didepan Davina berdiri.
Perlahan ia buka lembaran pertama buku itu, disana tertera.....
Sepuluh set blazer, sepuluh set baju formal fashionable, sepuluh set baju olahraga, sepuluh set baju bebas, lima pasang sepatu sneaker, lima pasang sepatu high heels, lima tas kerja wanita, lima tas ransel, laptop keluaran terbaru, handphone keluaran terbaru. Kacamata hitam tiga piece dan Alat-alat tulis lengkap.
"Hah"
Davina hanya bisa menganga tanpa sadar, matanya hampir tak berkedip membaca seluruh list yang harus dibelinya. Fikiran nya nge hang sesaat, dengan kedua netra yang melirik bergantian antara ke buku dan ke orang aneh yang ada dihadapannya.
Sontak fikirannya bercampur dengan keheranan, kebingungan dan keterkejutan yang berbaur menjadi satu.
__ADS_1
"Apa saya tidak salah lihat, Tuan? Kenapa harus sebanyak ini membelinya?" Davina berkata pelan, memberanikan diri bertanya, sambil menatap nanar Radithya yang duduk didepannya.
"Ooooh, berarti kamu belum membaca seluruh tugas dan tanggung jawab sebagai asisten pribadi yang aku kasih kemarin, hah?" Dengan nada keras Radith berkata.
" Kamu fikir menjadi aspri itu main-main yah!" Sambil menyilangkan kedua lengannya di dada nampak kedua bola matanya menatap tajam Davina. Davina kaget melihat ekspresi mendadak yang ditunjukkan Radithya saat itu.
"Sial! Kenapa aku bisa seceroboh ini sih! Bahkan aku tidak membacanya sama sekali, padahal jelas-jelas aku mulai bertugas besok. Cih! Dasar bodoh kamu davina! Belum apa-apa udah bikin kesalahan!" gumam kesal mengutuki dirinya sendiri. Davina hanya menundukkan kepala tanpa berani berucap sepatah katapun.
"Sebagai aspri berarti waktumu akan banyak berada di sisiku, dan kamu tahu apa itu artinya?" Radithya melangkah menghampiri davina yang masih mematung didepannya.
"Aku tidak mau orang-orang melihat aku memiliki aspri yang culun dan kumal sepertimu. Jadi, mulai detik ini kamu harus merubah penampilanmu, lihat pasal tiga puluh dua, poin limabelas, disana jelas tertulis soal penampilan!" Sambil mendesah kesal.
"Kali ini aku maafkan, cepat keluar dan lakukan semuanya dengar benar, awas kalau buat kesalahan lagi! Dan ingat, kamu harus baca semua tata tertib dan peraturan yang tertera dalam surat kontrak secara rinci, dan harus hafal diluar kepala biar kamu faham!"
Sambil mendelik geram, iapun menjentikkan jarinya tanda menyuruh Davina agar cepat pergi dari ruangannya.
"Dasar orang kaya aneh, memangnya gak sayang uang apa harus menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang dan baju yang tidak dipakainya sendiri". sambil mendengus kesal akhirnya Davina dan sopir keluar ruangan diiringi tatapan kedua netra sang bos dengan mulut melengkung membentuk senyuman.
bersambung
__ADS_1