
Saat itu diruangan meeting nampak sedikit riuh, ada banyak topik bahasan yang mereka diskusikan mengingat hari itu merupakan hari terakhir pertemuan mereka. Mereka sibuk menyelesaikan seluruh laporannya agar bisa langsung di audit dan di acc Radithya sebagai salah satu Dewan Komisaris yang memegang beberapa anak cabang perusahaan.
Radithya nampak sibuk dengan berbagai laporan yang harus ia cek, begitu pula dengan Pak Jo. Namun terlihat di salah satu sudut ruangan yang tepatnya berada di paling ujung ruangan dekat jendela, terlihat Claudia nampak tidak fokus dan sedikit gusar. Terlihat dari sikapnya yang selalu menyendiri dan sengaja menghindar dari siapapun termasuk Radithya dan Pak Jo. Kekhawatirannya itu dipicu dari keterlibatannya dengan kejadian kemarin takut kalau sampai diketahui Radithya.
Karena ia merasa, sikap Radithya kali ini sangat berbeda. Ya walaupun dari dulu juga sudah memperlihatkan ketidaksukaanya yang membuat ia selalu bersikap jutek padanya. Namun kali ini tatapannya sangat beda, dan seperti menyimpan sesuatu.
"Apa jangan - jangan dia sudah mulai curiga ya?, kok sorot matanya beda sekali si!, atau jangan-jangan si asisten kampung itu sudah mengatakan yang sebenarya kalau saat itu ia bertemu denganku, atau jangan-jangan mendengarkan obrolanku juga waktu itu sama Fachri?" gumamnya pelan, dia terus memandangi Radithya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Eh, ngomong-ngomong kok aku gak lihat si asisten itu ya, kemana dia ? kok gak kelihatan batang hidungnya? kata Claudia dalam hati. Matanya mencari-cari sosok Davina yang tidak nampak disana.
"Kenapa dia sampai tidak ikut meeting ya?, aku harus cari tahu, dan aku akan sekalian selidiki soal Radithya setelah minum ramuan itu!". Claudia berjalan menghampiri Radithya yang masih sibuk dengan pekerjaannya, ia hendak meminta izin untuk ke toilet sebentar. Radithya hanya mengangguk tanpa menolehnya.
----------xxx------
Claudia berjalan ke bagian resepsionis. Ia hendak menanyakan kamar yang ditempati Davina.
"Selamat pagi, ibu! ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis sambil tersenyum ramah.
"Saya mau menanyakan tamu hotel dari Aryasuta Group atas nama Davina, kalau boleh saya tahu beliau kamar berapa ya?" tanyanya ramah sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
__ADS_1
"Mohon maaf ibu, kami tidak bisa memberikan informasi apapun tentang tamu kami karena ini sudah menjadi salah satu peraturan manajemen kami demi kenyamanan dan keamanan para tamu kami disini. Mohon maaf!" terang resepsionis ramah sambil menyatukan kedua telapak tangan yang menempel didada.
"Tapi saya juga salah satu tamu dari Aryasuta Company, cuma beda divisi saja dengan Davina. Dan saya baru tahu kalau beliau pun menginap di hotel ini juga, jadi saya ingin tahu dikamar berapa ia menginap?" kata Claudia masih dengan nada ramah dan sopan.
"Mohon maaf, Bolehkah saya melihat kartu identitas serta ID card perusahan ibu?" tanyanya lagi sopan.
"Iiiih.. ribet amat si, ngasih tahu kamar nya saja susah amat, memangnya dia presiden apa?". gerutu Claudia kesal. Namun ia harus tetap bersikap ramah supaya urusan cepat selesai.
"Ini ID card saya!" sambil menyodorkan kartu identitas nya ke meja resepsionis.
Terlihat petugas resepsionia itu meneliti ID card itu sambil sesekali melihat wajah Claudia untuk menyamakan foto di kartu identitas dengan wajah aslinya.
"oooh iya Ibu, kamar atas nama Davina Fidelya ada di kamar 56. Ada lagi yang bisa saya bantu?" katanya ramah.
Sambil melangkah menelusuri lorong kamar yang berjejer dengan hiasan ornamen klasik yang tertata rapi di setiap dinding kamar, Claudia terus berfikir tentang pertanyaan yang nanti akan dilontarkan kepada Davina supaya tidak menimbulkan kecurigaan nya.
"Aku harus pastikan, apakah Davina mendengarkan obrolanku dengan Fachri atau tidak waktu itu. Kalaupun ia mendengar, aku harus buat dia tidak berani melaporkannya kepada Radithya, apapun caranya aku harus lakukan supaya posisiku tetap aman!" katanya dalam hati.
Namun tiba-tiba dadanya berdegup kencang, kakinya terasa lemas, hatinya panas membara ketika ia melihat Davina keluar dari kamar VVIP Suite yang ditempati Radithya yang ia sangat tahu persis letaknya, yaitu dekat dengan taman bunga dan danau kecil yang indah.
__ADS_1
Dengan rambut yang masih acak-acakkan seperti baru bangun tidur, Davina keluar dari kamar Radithya sambil membawa sweater hangatnya yang semalam ia pakai. Fix fikiran Claudia langsung menuju kearah sana.
"Tidak!, pasti aku salah lihat kan?, dan ngapain ia keluar dari kamarnya Radith?" katanya sambil mengucek-ngucek matanya saking tidak percayanya pada penglihatannya sendiri. Ia berharap salah lihat. Dan ternyata itu memang benar Davina.
Ia terkulai lemas, dadanya begitu sakit. Tanpa terasa air matanya mengalir. Ingin rasanya ia melabrak Davina dan langsung memakinya. tapi itu tidak mungkin ia lakukan.
"Sia***lan kamu Davina!, lihat saja nanti! Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan Radithya. Aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup!" wajah Claudia langsung memerah, sorot matanya tajam, tangannya terkepal kuat, ia pandangi punggung Davina yang kian menjauh. Tujuan awalnya ingin menemui Davina akhirnya ia urungkan, ia terlanjur marah. Dan akhirnya ia pun pergi menuju kamarnya sendiri. Ia sudah tidak perduli lagi soal meeting yang belum selesai, yang ada dalam fikirannya sekarang adalah ia ingin menyendiri di kamarnya.
--------------xxxxxx-------------
"Kenapa mereka tidak membangunkan aku ya, padahal kan ini meeting terakhir. Mungkin pak Radithya merasa kasihan barangkali karena selalu mengganggu jam tidurku, lagipula tidak apalah tidak ikut meeting juga, toh ada pak Jo ini yang membantunya. hehe... lumayaaaan bisa santai sejenak" katanya dengan senyum mengambang di bibirnya sambil tetap rebahan di ranjangnya, menikmati suasana santainya.
Namun santainya Davina tidak berlangsung lama, terdengar suara ponselnya berdering. Terlihat nama bos nya memanggil.
"Iya pak, hallo!" jawab Davina
"Enak ya kamu santai-santai tidak ikut meeting!, sebagai gantinya kamu sekarang siap-siap!, kita pergi ke pantai!" telpon langsung ditutup tanpa permisi.
"Hah... apa!!!... kepantai lagi?..." teriaknya histeris.
__ADS_1
bersambung
mohon dukungannya yaa. terimakasihππ»ππ»ππ»π