
"Kamu sudah selesai makannya?" tanya Radithya sambil menatap Davina yang terlihat lebih santai daripada tadi. Dari mimik mukanya pun nampak lebih terlihat berwarna dan tidak sepucat tadi.
Merasa waktunya sudah tepat untuk menanyakan kronologis kejadian semalam, dengan nada suara pelan dan sangat hati-hati Radithya mulai bertanya.
"Vina, boleh saya bertanya?" tanya Radithya, Davina pun spontan mengangguk.
"Saya ingin tahu awal kejadian semalam sampai saya bisa seperti itu?" tanya Radithya mengawali pertanyaan, dengan mimik muka serius ia duduk dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Davina.
Davin tidak langsung menjawab, seolah sedang berfikir dan mencoba mengingat kembali detail awal ia bisa menemukan bos nya dalam keadaan sangat mengkhawatirkan.
"Pada saat itu saya diminta pengisi acara untuk mencari bapak yang tiba-tiba menghilang di acara dinner night itu untuk menutup acara. Dan sa....."
tiba-tiba....
"Oiya, saat itu saya pergi karena ingin mencari angin segar, itu saja....bukannya menghilang!, kalau menghilang itu artinyaaaa.... ya hilang!!... hilang entah kemanaaa gitu, lagipula akuuu...!" kata Radithya memotong kalimat Davina yang sedang memulai pembicaraannya, membuat mata Davina sontak membulat kesal karena belum apa-apa omongannya sudah dipotong, Radithya langsung mengerti ekspresi dadakan wajah Davina, dan iapun langsung diam. "Oiya, lanjutkan!!!" katanya.
"Iyaaaa waktu itu bapak sedang mencari angin segar dan entah dimana bapak mendapatkan angin segar ituu...." lanjut Davina gemas.(puas sekarang, puass!!.... jujur aja gak mau lihat aku nyanyi dan banyak dipuji orang kan, iriiii kaaaan?, gitu aja gak mau ngaku") batin Davina kesal.
" Pada saat itu saya cari disekitar tempat itu dan bapak tetap tidak bisa ditemukan, sampai pada akhirnya ketika saya mau kembali kekamar, tiba-tiba saya melihat ada dua orang yang sedang memapah seseorang, karena saya penasaran yaa saya ikuti mereka. Dan ternyata itu..." Davina kembali menghentikan omongannya karena bos nya lagi-lagi memotong pembicaraannya.
__ADS_1
"Kamu lihat orang-orang nya kan? iya kan? kamu kenal gak sama mereka? terus kenapa kamu tidak langsung hajar saja mereka, atau paling tidak teriak kek biar orang-orang disekitar bisa menolong kita... Heh! kenapa kamu diam saja, ayo jawab! dan jelaskan padaku!" cerocos Radithya membuat Davina geram, giginya sedikit gemeretak.
"Ya sudah, bapak asumsikan saja sendiri jalan ceritanya, nah itu sudah hampir sesuai alur ceritanya!" kata Davina seolah mengejek saking kesalnya dengan tingkah bos nya yang mendadak lebay habis , spontan Radithya langsung berubah kembali ke sikap coolnya. "Oiya silahkan lanjutkan!, maaf tadi saya hanya spontan kaget saja. Silahkan!...silahkan!..." katanya so cool-cool' an.
Sambil matanya mendelik, kembali Davina mulai menceritakan lagi kronologisnya. "Awas saja kalau dipotong lagi!" katanya dalam hati
"Saya saat itu tidak langsung menghampiri bapak, karena tanpa sengaj........" kembali dipotong .....
"Kenapa kamu tidak langsung menolong saya hah?, kamu mau saya celaka atau terjebak dulu gitu?, seharusnya kamu waktu itu langsung labrak saja mereka, terus kalau dirasa kamu tidak bisa menghadapi mereka sendiri, baru kamu teriak sekencang-kencangnya supaya orang lain bisa mendengar dan membantumu"! Radithya berkata diiringi dengan ekspresi wajah yang berapi-api.
Sesaat suasana hening, Davina yang nampak kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun, sementara pak Jo yang dari tadi hanya ikut menyimak pun rasa jengkel nya sudah menjalar ke urat nadi, ikut gemas melihat kelakuan si bos yang over lebay.
"Mendingan Bapak saja dulu yang bicara. setelah itu baru Davina lanjutkan ceritanya!" kata Pak Jo akhirnya ikut nimbrung.
"Kamu ngeledek aku ya, Jo?, yang tahu kronologisnya kan dia, kenapa harus aku yang cerita? sudah kamu diam saja kalau tidak tahu apa-apa!, bikin jengkel saja!" katanya dengan suara sedikit kencang.
"Halloooo.... gak ngaca dulu apa? justeru anda lah yang menjengkelkan, dari tadi bukannya dengerin dulu malah nyerocos terus. Lha gimana dia mau ngomong kalau dipotong terus!, gak bakalan selesai-selesai ceritanya" gerutu Pak Jo sambil melirik Davina yang wajahnya terlihat menekuk saking kesalnya.
Biar cepat selesai akhirnya Davina kembali melanjutkan kronologisnya, ia mulai lagi dari awal sampai ke saat ia bertemu dengan Claudia dan Fachri, namun untuk soal obrolan Claudia dan Fachri yang akan menjebak Radithya ia sengaja tidak menceritakanya, ia akan selidiki dahulu sendiri, fikirnya.
__ADS_1
------------xxxxxxx------------
Davina merasa bosan karena semenjak penjelasan kronologis nya tadi selesai, ia hanya dijadikan obat nyamuk, dicuekin namun dibutuhkan oleh kedua pria yang dari tadi masih betah membahas obrolan yang itu-itu saja. Beberapa kali ia terlihat menguap, mungkin sudah merasa bosan. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya.
"Maaf pak!, kan kita tidak jadi meetingnya, apa saya boleh pergi keluar mencari angin segar?" tanya Davina memberanikan diri. Padahal ia bukan ingin mencari angin segar, melainkan ingin rebahan sebentar di kamarnya.
Radithya menoleh kearahnya, kali ini sikapnya sedikit berbeda dari biasanya. Lebih ke arah perubahan yang baik, RAMAH..!!
"Hmmm... baiklah, kebetulan saya juga sudah sangat bosan, bagaimana kalau kita pergi kepantai sama-sama, biar lebih rame. Betul gak, Jo?" kata Radithya sambil melirik kearah pak Jo yang nampak tak menggubris pertanyaan bosnya, ia tetap asyik memainkan ponselnya. Karena tidak ada jawaban juga dari pak Jo, Radithya mengulang ajakannya dengan menaikkan vokalnya satu oktaf.
"Jo... bagaimana?" tanya Radithya mengulang ajakkannya. Pak Jo yang sebenarnya enggan, ia sengaja pura-pura tidak mendengar usulan soal kepantai itu, karena ia lelah dan sudah cukup kenyang dengan seharian mengahabiskan waktu bersama bos Radithya di kamarnya, ia sangat ingin istirahat dan rebahan dikamarnya.
Namun seperti biasa, ia tidak bisa menolak ajakan bosnya, akhirnya ia pun terpaksa menjawab: "Ok, ide bagus itu!" (lain dimulut lain dihati, begitulah kira-kira) katanya sambil tersenyum penuh kepalsuan.
Dan senyum palsu itu hanya bisa dilihat oleh Davina yang bernasib sama... INGIN CEPAT PERGI DARI SANA DAN ISTIRAHAT!!. namun sepertinya bos nya tidak peka dengan keinginan kedua asistennya itu. Bos nya menganggap kedua asistennya itu akan senang diajak jalan-jalan dipantai.
"Iiiih apaan si, ide bagus dari Hongkong!, panas-panas gini main dipantai, mana kembali bertiga lagi. Gak disini gak dimana-mana, masa harus terus saja bersama mereka!, memangnya Trio kwek---kwek, -kemana- mana bertiga!" gerutu Davina ngedumel.
Pak Jo hanya tersenyum penuh makna kepada Davina, seolah mengisyaratkan sesuatu. "Kita senasib teman, saya pun sudah malas, tapi kita nikmati saja kebersamaan ini sampai waktunya tiba kita harus berpisah kekamar masing-masing!" mungkin begitulah kira-kira arti dari senyum yang terpampang di wajah pak Jo.
__ADS_1
bersambung