Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Terpesona 2


__ADS_3

Lagi-lagi para begal itu memukul-mukul pintu dan kaca mobil dengan senjatanya. Sepertinya ancaman mereka tidak main-main.


Nampak salah satu dari mereka memberi isyarat kepada salah satu temannya untuk berjaga-jaga agar aksi mereka tidak membuat curiga para pengguna jalan lain.


Walaupun terlihat ada beberapa pengguna jalan yang mulai mencurigainya, namun mereka sepertinya takut untuk mencoba menolong, mungkin karena para begal itu terlihat sangar dan sadis, dan mereka tidak mau mengambil resiko.


Perlahan Radithya membuka pintu mobil, namun tangan Davina mencegahnya karena takut terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.


Radithya hanya tersenyum samar, tangannya tetap memegang handle pintu dan hendak keluar mobil.


"Saya sekarang keluar, dan kamu bersama sopir cepat pergi cari pertolongan". Sesaat ia diam, kembali kedua netranya mengawasi gerak gerik para begal itu, kemudian ia pun berkata : " Nanti setelah saya keluar, bapak cepat bawa mobil ini ke tempat aman, kalau bisa cari kantor polisi. Secepatnya cari bantuan, Ok!" perintah Radithya dengan pandangan yang masih tetap waspada.


Davina terdiam, otaknya ia paksa untuk berfikir. Ia benar-benar khawatir kalau harus meninggalkan bos nya sendiri bersama begal-begal itu.


"Baik, pak! saya siap jalankan perintah bapak. Secepatnya saya akan cari bantuan" kata Davina mencoba untuk tetap bersikap tenang.


Tak berselang lama, kemudian Radithya keluar dari mobil. Tangannya terkepal siaga, pandangannya tetap waspada. Nampak para begal itu langsung mendekati Radithya.


Mengetahui para begal itu semuanya telah mendekatinya, kemudian ia memberi isyarat agar Davina cepat meninggalkan tempat itu dan secepatnya mencari bantuan.


Davina mengerti apa yang di isyaratkan bos nya, kemudian ia memerintahkan pak sopir untuk secepatnya pergi dari sana untuk mencari bantuan.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, pak sopir langsung tancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Davina menengok kebelakang, terlihat bos nya seperti terpojok, terlihat sepertinya akan terjadi baku hantam.


Kembali jiwa wonder woman nya muncul, sontak ia memberhentikan laju mobilnya. Ia benar-benar tidak tega melihat bos nya dikepung musuh. "Ini benar-benar gak adil, aku harus membantunya!" , tekadnya pasti.


"Nona, saya mohon jangan turun. Ini sangat berbahaya, lebih baik kita cepat cari bantuan polisi". kata pak sopir khawatir.


"Tenang saja pak, begini-begini saya tuh sudah sabuk hitam lho, .... yaaa... walaupun sabuk nya warisan kakek sih, hehe..", masih bisa bercanda di situasi genting.


Meskipun sedikit ragu, mengingat ia sama sekali belum pernah berkelahi sungguhan dengan musuh, namun kali ini ia harus memberanikan diri mempraktekkan langsung materi bela diri yang dulu pernah ia pelajari ketika kakeknya masih hidup. "Bismillah" katanya yakin.


Akhirnya mobil berhenti tidak seberapa jauh dari tempat Radithya dikepung, Davina langsung turun. Kemudian ia berlari menghampiri bos nya yang telah terlibat perkelahian.


Hanya sisa beberapa detik saja bagi Radithya untuk terbebas dari sebuah pukulan telak dari musuh yang datang lewat belakang jika Davina tidak cepat menahannya dengan sebuah tendangan kaki menghantam punggung musuh.


Radithya terkejut melihat Davina ternyata bisa juga bela diri, ia terpesona melihat kelihaian gerakan bela diri Davina yang sanggup menahan hampir seluruh serangan musuh.


Tiba-tiba, dari arah belakang Davina terlihat seorang lelaki tinggi kekar bertato mengangkat kakinya hendak melakukan tendangan ke arah Davina, namun dengan cepat Radithya mengayunkan sebuah kayu bergerigi besi yang tergeletak di sampingnya tepat ke arah tubuh lelaki itu, membuat lelaki bertato itu menjerit kesakitan.


Perkelahian dua lawan lima masih berlangsung, terlihat Davina kewalahan. Sudut bibirnya sedikit berd*rah, keningnya memar. Ia nampak kelelahan dan berkali-kali hampir saja terkena pukulan balok bergerigi itu jika Radithya tidak menolongnya.


Sedangkan Radithya yang memang jago bela diri, ia pun nampak sedikit kewalahan karena harus melawan beberapa begal yang terlihat sangar dan jago bela diri juga, di tambah lagi ia pun harus bisa melindungi Davina yang hampir saja beberapa kali terkena pukulan.

__ADS_1


Terdengar dari arah utara suara mobil polisi datang menghampiri tempat perkelahian tersebut. Nampak salah satu begal itu panik, lalu ia berteriak memberi perintah agar seluruh temannya lari meninggalkan tempat itu sebelum polisi menangkapnya.


----------000----------


Davina duduk di pinggir kolam, sementara Radithya nampak serius dengan laptop nya. Sesekali ia meneguk minuman gingseng kesukaannya.


"Vina!" panggil Radithya.


"Eh... i..iya pak!" panggilan mendadak sontak membuyarkan lamunan Davina, dengan cepat ia menghampiri bos nya.


" Yakin kamu tidak apa-apa?" tanya Radithya serius. Sebenarnya tanpa Davina sadari, ia memperhatikan Davina yang sesekali terlihat memijat-mijat lengan, pinggang serta tengkuknya, juga sesekali mengurut-ngurut kakinya seolah sedang merasakan pegal dan sakit.


Sejujurnya, Davina merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk dan sakit, namun ia mencoba menahannya.


Dan pertanyaan bos nya tadi seperti hembusan angin segar yang membuat Davina langsung menjawab ;


"Saya hanya perlu tidur dan istirahat saja, Pak. Dan untuk memeriksakan ke dokter, saya rasa itu tidak perlu, terimakasih atas perhatian bapak, saya pamit untuk istirahat dahulu." sambil tersenyum.


Tanpa menunggu jawaban bosnya, Davina langsung pamit keluar ruangan loby menuju kamarnya. Ia merasa tubuhnya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi. Ia benar-benar LELAH... "Bantal oh bantal, aku dataaaang..."


bersambung

__ADS_1


kritik, saran, like dan komennya di tunggu yah, biar author semangat menulisnya... makasih...😘😘


__ADS_2