Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Menu nomer 4


__ADS_3

Radithya senang karena ternyata Selamet merupakan teman lamanya Davina ketika masih sekolah dulu.


"Gimana...gimana..Vin, sudah di hubungi belum si Selamet?, lama banget sih!" tak sabar Radithya menunggu kabar dari Davina yang sedang berusaha menghubungi Selamet.


"Iiiih... susah banget sih di hubungi!" gerutu Davina tanpa menggubris pertanyaan bos nya yang saat itu seperti cacing kepanasan, mondar-mandir gak karuan membuat Davina semakin pusing saja melihatnya.


"Viiiiin!!, kok kamu gak jawab si?, gimana tuh si Selamat, dijawab tidak teleponnya?" kembali bosnya menanyakan kabar si Selamat.


"Pak!, kalau sudah ada kabar dari dia, pasti sudah saya kasih tahu dari tadi!, jadi mohon bapak bersabar sedikit yaaa..." kata Davina dengan nada penuh penekanan saking kesalnya, pak Jo pun yang dari tadi memperhatikan tingkah bosnya ikut kesal, namun seperti biasa kekesalannya itu ia kubur dalam-dalam.


Radithya diam sesaat sambil duduk manis di sofa, dengan mimik muka kesal dan cemberut namun itu tidak lama. Lalu ia bangkit lagi sambil berucap:


"Jo, apa lebih baik kita samperin saja ke tempat prakteknya kali yaa?, ya benar!, kita samperin saja sekarang!, ayo kita kesana sekarang!" kata si bos yang melontarkan pertanyaan yang langsung ia jawab sendiri.


" Padahal tidak usah bertanya juga gak apa-apa, kalau pertanyaan nya itu tidak memerlukan jawaban orang lain!, bilang saja langsung kita ke tempat prakteknya si Selamet gitu yah!" kata Davina pelan sambil berbisik ketelinga pak Jo.


Pak Jo mendelik memberi isyarat agar Davina diam. Namun isyarat itu tidak digubris Davina.


"Kalau saja dia bukan bos aku, sudah kutinggal dari kemarin!, habis tingkat ngeselinnya sudah melewati batas maksimum sih!" kata Davina mengeluarkan kekesalanya sambil melirik ke arah pak Jo yang ternyata si bos nya telah berada di belakangnya dari tadi dan pastiya ia telah mendengar seluruh ucapannya tadi yang memandangnya dengan mata tajam. Pak Jo tepok jidat.


"Èeh.. bapak.. hehe... sudah lama bapak berdiri disana?, ayo... mari pak !... kita ke tempat prakteknya si Selamet, sebelum cuacanya semakin panas hehe!" kata Davina sedikit gugup dan takut kalau bos nya mendengar apa yang di ucapkannya tadi.


Raut muka Radithya yang awalnya terlihat masam setelah mendengar bisik-bisik tetangga yang dilakukan oleh Davina, perlahan mulai menghilang berganti dengan raut wajah bersinar bak cahaya mentari di pagi hari. Ia begitu bersemangat seakan mau mendapatkan hadiah lotre.


"Ok!, baiklah kita berangkat sekarang!" kata Radithya semangat sambil berjalan mendahului kedua asistennya itu.


Kali ini pak Jo yang menyetir, sementara Radithya duduk bersebelahan dengan Pak Jo dan Davina duduk dibelakang. Mereka tampak asyik dengan fikirannya masing-masing.


"Vin, coba kamu lihat alamat yang ada di kartu nama itu?, apa benar jalannya kesini?" kata pak Jo sambil matanya lincah melihat kanan kiri mencari lokasi tempat praktek si Selamet.


Dan ternyata mencari alamat itu tidaklah sulit, dan kebetulan memang tempat itu sudah lumayan terkenal di lingkungan masyarakat disana. Hanya satu kali saja bertanya, mereka sudah dapat menemukan tempat prakteknya Selamet.


Nampak terpampang sebuah papan nama besar bertuliskan :


Menerima:



Jasa Pengobatan Alternatif

__ADS_1



'Ba Jhing Ahn ShieAnyieng'



Menu:



-Mengobati penyakit yang lagi viral



-Membantu mengobati penyakit diluar nalar



-Membantu meringankan beban hidup




-Melayani 'curhat dong, Met..!'



Buka:



Senin-Jumat (kecuali sabtu dan Minggu)



Pukul:


__ADS_1


"08.00 wib - 12.00 wib ( tengah malam )


Ketiga Trio koclak itu sampai melongo melihat plang papan nama aneh bin ajaib itu. Mereka sampai geleng-geleng kepala kekanan - kekiri kompak saking takjub dan heran berjamaah.


"Set dah, ada menu pengobatan segala persis di wartegnya ibu Cucu!" Fikir mereka kembali kompak.


Tak menunggu lama mereka langsung turun saking tidak sabarnya mereka ingin mengetahui menu-menu yang tertera disana.


"Sepertinya nanti diam-diam aku harus kesini besok buat memesan menu nomer 4 ahhh!!" batin ketiga jomblo itu bisa kompak sambil melirik kearah masing-masing "heeee..." sambil tersenyum penuh makna di bibir mereka.


Tiba-tiba ponsel Davina berdering, terlihat nomer tidak dikenal dan sepertinya itu nomernya si Selamet.


"Halo, ini Selamet bukan?" kata Davina yang langsung dijawab oleh Selamet.


"Iya ini aku Selamet, kamu Davina si wonder woman bukan?" tanya Selamet sumringah. ia sangat senang mendengar suara Davina yang selalu dirindukannya.


"Aku sudah ada di depan gerbang tempat praktek kamu, kamu sini dooong keluar dulu sebentar!" kata Davina.


"Okey, aku OTW!" katanya banyak gaya. Tak lama ia terlihat keluar dari rumah praktek itu dengan memakai setelah kemeja berwarna putih dipadu dengan celana loreng ala trio macan yang lengkap dengan overall nya, tak lupa memakai aksesoris kacamata setengah hitam dan dasi kupu-kupu terbang, sungguh terlihat nyentrix dan yunix.


Sambil menebar senyum sejuta watt nya membuat mata sipitnya semakin tak terlihat.


"Akhirnyaaa, seseorang yang selalu aku tunggu siang malam tiba jugaa... wahai bidadari ku yang syantix!" katanya penuh drama, membuat Davina belum apa-apa sudah mual-mual perutnya.


Pak Jo dan Radithya yang melihat adegan drama komedi tersebut hanya bisa tercengang alias 'hokchay'... ternyata eh ternyata si Davina mempunyai pengagum rahasia juga ternyata.


"Heeeiiiii, ternyata kamu juga ada disini?, kok bisa barengan sama may princes sih?" katanya heran sambil melirik ke arah Radithya dan pak Jo bergantian. Dan Davina sontak semakin kekih mendengar ke- lebay -an si Selamet.


"Iya, aku sebenarnya atasannya dia. Kamu kenapa sih susah banget di hubungi?, kamu mau menghindar dari aku yah?, ingat yah kamu masih punya utang gara-gara kelakuan bodoh kamu itu?" kata Radithya yang tiba-tiba menaikkan level suaranya satu tingkat.


Spontan dahi Pak Jo dan Davina mengkerut heran.


"Oiya amsori deh, saya tadi lagi sibuk ngurusi pasen-pasen aku yang banyak macem dan maunya itu, jadi telepon nya tak terdengar tadi" katanya, lalu ia melirik ke arah Davina.


"Dan kamu juga hani, maaf yah sayangkuh.... cintakuh... bukan berarti tadi aku mengabaikanmu, saya memang serius tidak mendengarnya. Suer deh...!" sambil mengangkat dua jari nya. Yang membuat Davina semakin kekih setengah matih.


bersambung


like n komen nya yaaa! di tunggu...😘😘🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2