Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Musuh dalam selimut


__ADS_3

"Tenanglah nak, ibu tahu kalian merasa kecewa dengan ibu. Tapi ini buat kebaikan kamu dan anak kamu sendiri. Ibu lakukan ini semata hanya ingin melindungi kalian".


Sesaat nenek menghentikan kalimatnya, melihat raut wajahnya ia nampak begitu sedih.


Davina yang sudah kerasukan roh ibunya Putri berdiri tidak jauh dari mereka berdua menatap tajam kearah sang nenek.


Dengan suara samar terdengar ibunya Putri menjawab :


" Saya hanya ingin pergi dengan tenang, tolong sempurnakan kami!". Hanya kalimat itu yang terlontar dari bibir Davina yang telah kerasukan roh ibunya Putri.


Tak lama Davina memejamkan kedua matanya, tubuhnya nampak lunglai dan sepertinya akan ambruk ke lantai kalau saja Radithya tidak cepat menyangga tubuh Davina sehingga tidak sampai jatuh ke lantai.


Terlihat pak Ba menghampiri Radithya, perlahan ia mengusapkan sesuatu ke wajah Davina dan tak lama akhirnya Davina pun siuman.


"Lebih baik kalian cepat bawa dia pulang, disini tidak aman baginya!" kata pak Ba sambil melirik ke arah Radithya dan pak Jo bergantian.


-------------xxxxx-------------


Flashback on


"Kalian tenang saja, saya tahu dimana Davina berada. Ayo ikut denganku!" kata pak Ba sambil berlalu menuju mobilnya yang masih parkir di depan gerbang.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi pak?, kenapa tiba-tiba Davina bisa hilang dari kamarnya?!" tanya Radithya penasaran.


"Davina tanpa sengaja telah membuat perjanjian dengan sepupuku yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Tapi kalian tenang saja, mereka tidak mempunyai niat jahat. Mereka hanya meminjam raga Davina yang mereka anggap Davina adalah orang tepat yang bisa menolong mereka". Pak Ba mencoba menjelaskan dengan tatapan masih memandang jalanan yang nampak ramai dengan lalu lalang orang.


"Menolongnya?!, menolong bagaimana maksudnya pak?" tanya Radithya penasaran.


Belum sempat pertanyaan Radithya di jawab, mobil yang mereka tumpangi telah memasuki area halaman yang sangat luas. Terdapat perpaduan beton dan tumbuhan liar menghiasi tempat itu serta pagar-pagar beton yang sudah nampak lapuk dimakan oleh waktu menambah aura mistis yang kental.


"Ayo turun, kita sudah sampai!, dan ingat!!, jangan banyak bicara atau bertanya apapun. Lihat dan amati saja!" kata pak Ba memberi arahan yang di jawab dengan anggukan Radithya dan Pak Jo.


Kemudian mereka pergi menuju lantai paling atas dengan meniti sebuah tangga yang nampak kotor tak terurus.


Terlihat di sisi kanan dan kiri lukisan-lukisan usang berjejer sepanjang dinding bangunan hotel tua itu.

__ADS_1


Tiba di sebuah lorong ruangan yang menuju ke lobi yang sedikit terlihat luas, berjejer patung-patung artistik yang sebagian sudah tidak jelas lagi bentuknya, fix menambah aura angker di ruangan itu.


Radithya dan pak Jo hanya bisa saling pandang tanpa keluar sepatah katapun dari bibir mereka, walaupun ada banyak pertanyaan memenuhi kepalanya.


Pak Ba yang berjalan duluan pun hanya diam, sesekali kepalanya melirik ke kanan dan kekiri tanpa berbicara sepatah katapun.


Tak berselang lama akhirnya mereka tiba di lantai paling atas. Sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah ballroom, dan nampak begitu kotor tak terurus.


Dari kejauhan terlihat Davina, Putri dan neneknya sedang berdiri berjejer menghadap jendela kaca yang sebagian kacanya sudah retak bahkan ada yang pecah dan serpihan kacanya masih berada di lantai tidak jauh dari jendela lebar yang mengahadap ke lautan luas.


Pak Ba, Radithya serta pa Jo nampak menghentikan langkahnya. Mereka dari kejauhan mengawasi Davina yang terlihat seolah sedang ada di dalam bawah sadar.


Tubuh Davina berdiri kaku seolah sebuah patung manekin yang tak bernyawa, tatapannya kosong memandang lautan luas. Hanya satu kalimat yang terdengar dari bibirnya bahwa ia ingin meninggal dengan tenang. Setelah itu tubuh Davina ambruk dan untungnya ada Radithya yang dengan sigap menyangga tubuhnya sehingga tidak sampai jatuh ke lantai.


Flashback off


-------------xxxx-----------


"Jadi bagaimana , nak?!. Apakah jadi kalian besok pulang?". Tanya pak Ba memecah keheningan.


"Iya pak, besok kami pamit pulang!". kata Radithya sambil melirik ke arah Davina yang masih duduk termenung seolah ada sesuatu yang ia fikirkan.


Davina menoleh ke arah pak Jo, lalu bergantian melirik ke bos nya da Pak Ba.


"Saya masih ingat peristiwa semalam, dan itu sepertinya nyata sekali!" ungkap Davina, kemudian ia pun menceritakan kejadian semalam, dari mulai melihat pria misterius yang mencurigakan, kemudian ditolong oleh si penelepon aneh sampai akhirnya ia tertidur dan baru tersadar sudah berada di hotel tua itu.


Mereka yang mendengarkan cerita Davina nampak terkejut. Terlihat Radithya dan pak Jo sampai menganga dan lupa mengatupkan mulutnya saking kagetnya mendengar apa yang di ceritakan Davina tadi.


Namun lain halnya dengan pak Ba, ia menanggapinya dengan santai seolah sudah bisa menebak arah pembicaraan Davina serta telah mengetahui apa yang telah terjadi.


"Sudah saya bilang kemarin, kalau kalian masih menjadi incaran orang-orang yang sekarang telah menjadi musuh dalam selimut kalian. Kenapa saya bilang musuh dalam selimut?!, karena mereka tidak terang-terangan menabuh genderang perang dengan kalian, akan tetapi mereka akan menghantam kalian dengan cara halus." sesaat pak Ba menghentikan kalimatnya, membuat mereka bertiga semakin penasaran.


"Dari kemarin kita banyak mengalami hal-hal aneh, memangnya itu semua hasil kerjaan dia pak?!, apakah bapak tahu siapa orang itu?" tanya Radithya polos.


"Saya tidak mengenalnya, bahkan saya tidak tahu apakah dia laki-laki ataupun perempuan. Yang jelas dia akan terus mengintai kalian dimanapun kalian berada sebelum niatnya terlaksana!, jadi mulai sekarang kalian harus berhati-hati!" kata pak Ba serius seraya menoleh ke arah mereka bertiga bergantian.

__ADS_1


"Ada sebagian yang kami tidak ingat dengan kejadian yang telah terjadi, namun seperti yang bapak katakan kemarin bahwa salah satu jalan keluar dari permasalahan saya adalah dengan menikah, apakah cara itu masih berlaku pak heee?!" tanya Radithya sambil cengar-cengir membuat kedua mata Davina membulat lebar, begitupun respon pak Jo yang terlihat garuk-garuk kepala walaupun tidak gatal.


Mendengar pertanyaan Radithya tersebut, tiba-tiba Selamet muncul yang dari tadi diam-diam menyimak di ruangan sebelah langsung menanggapi dengan berbagai macam bahasa nyinyirnya.


"Alaaaaaah... bilang saja kamu niat menikahi Davina dengan alasan itu adalah cara menyelesaikan masalah kamu, iya kan!!. Sudahlah woiii...!!!, everything is ok now!.. Jadi rencana itu sudah basi dan tidak berlaku lagi kali ini, toh sekarang kamunya juga sudah terlihat fine-fine saja tuh!!" kata Selamet berapi-api.


"Yayang Memeet..., kamu kok bicaranya seperti itu sih!. Tidak baik nak!" kata pak Ba lemah lembut, namun nampak dari raut wajahnya menyiratkan kekesalan dengan sikap anak kesayangannya yang selalu bersikap kekanak-kanakan jika sudah membahas tentang sang pujaan hatinya, Davina.


"Tapi benar kan pap, masalah penyakit anehnya itu sudah hilang kan dari tubuhnya, yaa itu tandanya dia sudah aman dan sudah tidak perlu lagi menjalankan rencana menikah-menikah lagi. Kasihan dong yayangku kalau harus terpaksa menikah dengan orang yang tidak ia cintai, apalagi harus menikah dengan bos nya yang seperti gunung es itu!" kata Selamet sambil mencibir kearah Radithya yang dari tadi hanya mendengarkan walaupun ia sudah benar-benar gemas dengan sikap Selamet yang fikirnya sikapnya selalu menyebalkan.


Melihat gelagat bosnya yang sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda ketidak sukaannya, pak Jo yang dari tadi hanya menyimak akhirnya ikut bicara juga.


"Tolong jaga bicara anda pak Selamet!!, soal menikah atau tidaknya pak Radithya dengan Davina, itu bukan urusan anda!. Lagipula, seandainya mereka sampai menikah pun, sepertinya itu tidak akan menjadi masalah bagi anda, iya kan?!, toh anda dengan Davina tidak sedang menjalin hubungan serius!!, jadi disini posisi pak Radithya tidak salah bahkan tidak merugikan atau menyakiti siapa pun!!" akhirnya kalimat telak telah keluar dari bibir milik pak Jo yang terkenal bermulut pedas dikalangan karyawan perusahan Radithya jika sudah menyangkut harga diri bos nya.


Suasana nampak hening sejenak, namun itu tidak lama ketika pak Ba dengan bijaknya mendinginkan suasana dengan berkata:


"Sudahlah nak, saya sangat mengerti kondisi hati kalian semua. Kita memang saat ini sedang di hadapkan pada pilihan-pilihan sulit, bahkan tidak untuk hari ini saja!, kedepannya pun saya lihat akan ada duri-duri yang mencoba menusuk kalian bahkan tanpa kalian sadari. Jadi tetap waspada merupakan jalan yang terbaik!"


Kemudian pak Ba menoleh ke arah Selamet yang sekarang telah pindah tempat duduk berhadapan dengan mereka bertiga.


"Nak, kamu mengerti kan apa yang dinamakan dengan tulus dan ikhlas?, selama ini kamu hanya mengetahui teorinya saja, dan sekarang waktunya kamu mempraktekannya dalam kehidupan nyata. Ayah hanya menginginkan kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, namun sejalan dengan takdir yang telah di tetapkan oleh Yang Maha Kuasa tanpa kamu harus memaksakan kehendak. Ayah selalu mendo'akan yang terbaik buat kamu, nak!" kata pak ayah panjang lebar. Sesaat nampak hening seolah tenggelam dalam fikirannya masing-masing.


"Pak, sebenarnya apa yang mereka inginkan dari kami?, dan kenapa pria misterius itu hanya mendekati kamar pa Radithya?, apa mungkin dia hanya mengincar pak Radith?!" tanya Davina penasaran.


"Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa motifnya, tapi sepertinya memang benar kalau dia mengincar kamu nak!" kata pak Ba sambil menoleh ke arah Radithya yang mendadak pucat.


Sesaat mereka hanya saling pandang, sampai terdengar Radithya bertanya:


"Apakah bapak mempunyai semacam ilmu yang bisa melihat wajah seseorang yang berniat jahat pada kita?, semacam lampu ajaib gitu?!" kata Radithya asal yang otomatis mendapat dua senggolan kiri kanan kedua asistennya.


Mereka kesal dengan kepolosan bos nya yang tidak bisa berfikir dahulu sebelum berucap, sehingga mempertontonkan kebodohannya di hadapan orang lain, apalagi disana ada Selamet yang selalu rajin nyinyirin bosnya.


Pak Ba hanya tersenyum, sementara Selamet yang dari tadi begitu kesal dengan Radithya hampir saja mengeluarkan jurus nyinyirnya kalau saja tidak dicegah oleh ayahnya dengan memelototinya. Akhirnya Selamet pun diam.


"Sudah saya bilang tadi, saya tidak bisa mengetahui secara pasti siapa orangnya. Sekarang coba kamu ingat-ingat lagi apakah kamu pernah mempunyai musuh, atau kamu pernah menyakiti seseorang dengan sengaja atau tanpa disengaja yang telah kamu lakukan?" tanya pak Ba balik nanya.

__ADS_1


Bersambung


like dan komennya yaa...🙏🏻🙏🏻🙏🏻😘


__ADS_2