
"Kamu beneran manusia?" tanya Radithya meyakinkan, namun ia masih belum berani mendekat. Ia lebih baik sendiri dan tidak jadi ditemani ngobrol juga tidak apa-apa daripada harus berdekatan dengan manusia jadi-jadian itu, fikirnya.
"Ya sudah kalau tidak percaya juga, syukurlah! berarti saya bisa pulang sekarang!" kata Selamet dan langsung balik badan hendak pergi. Namun seketika itu juga Radithya langsung memegang tangan Selamet. Ia percaya sekarang kalau dia memang manusia sungguhan.
"Ya sudah, aku percaya sekarang!, sini duduk!" sambil menepuk batu karang yang akan ia jadikan tempat duduk. Selamet pun mengikutinya dari belakang.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, kamu lagi ngapain tadi?" tanya Radith memulai obrolan walau sebenarnya ia tidak begitu ingin tahu soal itu.
"Saya lagi galau!" katanya singkat.
"Seperti abg saja kamu!, sama perempuan galaunya?" tanya Radithya iseng yang sontak membuat mata kecilnya Selamet membulat lucu.
"Kamu fikir saya jeruk makan jeruk apa?, seenak nya saja kalau ngomong!. yaaa iyalah sama perempuan, begini-begini juga saya masih normal, tahu!!!!" katanya sewot.
"Heheee... amsori, lalu.. kamu kenapa tadi sampe ngelempar sendal segala?, untung yang kena kepalaku, coba kalau lemparan kamu tadi mengenai ikan hiu? bisa-bisa kamu jadi santapan lezat makan malamnya tadi? " sambil tertawa geli Radithya meledek si Selamet.
Tidak seperti biasanya Radithya saat itu begitu manusiawi, bisa bercanda bahkan tertawa lebar. Sikap yang biasanya selalu kaku bahkan jutek, apalagi ke orang yang baru ia kenal. Dan entah kenapa ia saat itu begitu terlihat ramah dan akrab. "Apa salah satu pengaruh dari ramuan si mbah Hugel itu kali yaaa? " (dan akupun heran...🤭. red).
Sesaat merekapun saling diam, seolah tenggelam kedalam lautan fikirannya masing-masing.
"Ehh.... ngomong-ngomong saya lihat tadi kamu jalan sama perempuan cantik, pacar kamu bukan?, kemana dia sekarang?, kok kamu biarkan dia pergi sendirian si?, jangan-jangan kamu juga lagi galau kaaaaaaan?, iyaaaaaa kaaaaan?, lagi marahan yaaaaaa?" tanya Selamet nyerocos tanpa titik.
__ADS_1
Wajah Radithya yang awalnya terlihat sumringah langsung berubah menjadi jutek kembali. Radithya belum menjawab pertanyaan Selamet, matanya memandang lautan luas yang terlihat samar karena memang suasananya masih sangat gelap.
Sambil melempar karang-karang kecil satu persatu ke laut dan apapun benda-benda kecil yang di hadapannya tak ayal ikut ia lempar juga ke laut, dan bahkan hampir saja sendal tepleknya si Selamet juga ikut di lempar kelaut kalau saja si Selamet tidak cepat-cepat meraihnya dan memeluknya dengn penuh kasih sayang.
"Tuuuuh kan kamu juga kalau lagi galau sama seperti saya, reflek tangannya suka lempar-lemparin apa saja yang ada dihadapan kamu?, makanya jangan suka asal ngeledekin orang doooong!!, akhirnya kamu kewalat sama saya!, dan jadi ikut-ikutan gaya galau saya deh.... hehehee.....!" kata si Selamat sambil tertawa lebar dengan kedua kelopak matanya nampak merem seolah ia seperti tidur sambil tertawa, yang sontak membuat Radithya pun langsung tertawa melihat kelucuan gestur si Selamet yang sedang tertawa.
"Emang ada yang lucu ya, kok kamu ikutan tertawa? tanya Selamet.
"Tidak ada yang lucu kok!, yaaa.. aku sih ikut berpartisifasi saja lihat kamu tertawa tadi!" kata Radithya asal membuat si Selamet cemberut.
"Ooo iya, tapi bagaimanapun juga aku sangat berterimakasih karena kamu telah menolong aku dengan sendal teplek kamu itu, yaaa walau dahi ku ini masih sedikit ngilu sih.. hehe" kata Radithya sambil mengelus-elus dahinya yang sedikit benzol.
"Memangnya kamu kenapa sampai ngucapin terimakasih segala ke sendalku ini?" sambil mendekatkan sendal ke pipinya sendiri, gemas!.
"Berkat sendalmu itu, aku jadi terhindar dari perbuatan maksiat yang dilarang agama!" tegas Radithya yang fix menambah bingung si Selamet.
"Sendal.... maksiat... agama, apa maksudnya yaa?" gumam Selamet sambil memperhatikan sendal kesayangan nya itu.
Melihat keheran yang mendalam di sorot matanya si Selamet, lalu ia mencoba menjelaskan walau sebenarnya ia tahu tidak akan ada pengaruh samasekali jika ia harus curhat soal penyakit aneh nya itu kepada Selamet.
"Aku tidak sengaja meminum ramuan yang entah apa itu namanya yang membuat aku memiliki penyakit aneh yang efeknya selalu datang ketika malam menjelang. Mungkin saat itu aku sengaja dijebak supaya hilang kesadaran dan tidak bisa mengontrol lagi emosi dan gairahku!" terang Radithya sambil menerawang kearah lautan luas.
__ADS_1
Selamet hanya menyimak sambil mencoba merangkai setiap kata yang di ucapkan Radithya untuk ditelaah, sampai akhirnya ia bisa menyimpulkan.
Dengan sedikit keterangan yang di lontarkan Radithya tentang rasa dan warna ramuan yang telah ia minum itu, si Selamet yang memang telah mewarisi kehebatan ayahnya dalam ilmu ketabiban dan ahli ramuan-ramuan tradisonal, yang pastinya ia sangat tahu jenis-jenis bahan ramuan serta efek-efeknya, dengan mudah si Selamet bisa langsung mengambil kesimpulan dari hasil analisanya... eng...ing...eeeeeengg..... Selamet beraksi..... (hehe..)
"Tunggu sebentar!, waktu itu kamu meminumnya sampai habis atau tidak?" tanya Selamet penasaran dan nampak raut mukanya menyiratkan kecemasan.
"Iya! aku meminumnya sampai habis tak tersisa! kata Radithya sambil melirik ke arah Selamet.
"Waduh.... gaswat dong!" kata Selamet sambil berdiri saking kagetnya dan menatap tajam wajah Radithya.
Radithya sampai tercengang melihat tingkah aneh Selamet. Iapun ikut berdiri.
"Gawat gimana maksudnya?, kamu jangan coba-coba menakut-nakuti aku yaa!" sambil memukul pelan lengan Selamet. Hatinya mulai terpengaruh.
"Sekarang kamu tenang, saya pulang dulu untuk mencari obat penangkalnya untuk sementara supaya ramuan itu tidak sampai menjalar ke otak kamu!." melihat dari nada bicaranya Selamet serta dari mimik mukanya menandakan ini sangat serius. Dan sontak membuat Radithya semakin khawatir.
"Terus sekarang aku harus bagaimana?" tanya Radithya.
"Kamu bisa lakukan meditasi, fokuskan otakmu kearah hal-hal yang positif. Jangan biarkan fikiran-fikiran jelekmu menguasai otak dan hatimu. Ikuti arahanku itu ya!, sekarang kamu boleh lakukan meditasi itu!" kata Selamet yang terlihat saat itu ia bukan sosok Selamet yang ia kenal tadi, melainkan seorang Suhu Besar yang kharismatik, wooow.... keren juga si Selamet!!.
Bersambung
__ADS_1