Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Perhatian Radithya


__ADS_3

Lalu mereka kembali saling pandang, namun kali ini pak Jo yang kalah. Ia barulah sadar kalau si bos tengah dibakar cemburu olehnya gara-gara sok jadi pahlawannya tadi ke Davina, mungkin itu yang di fikirkan oleh bosnya. Padahal sama sekali ia tak berniat cari muka atau sok iyey di depan Davina, ia spontan saja dan tulus menolongnya tanpa ada niat lain atau ada udang dibalik batu.


Si bosnya saja yang terlalu over lebay menanggapinya, seolah itu merupakan pertandingan merebut hati Davina. Tapi pak Jo akhirnya mengerti kalau si bos seperti itu hanya semata ingin melindungi wanitanya supaya tidak diganggu lelaki lain, dan itu sangat wajar, karena dengan begitu artinya sinyal-sinyal cintrong telah ada di hati si bos.


Itu yang ada si fikiran pak Jo saat ini, dengan wajah berseri bagai sinar matahari di pagi hari akhirnya ia bisa sedikit bernafas lega. Hati si bos yang selama ini beku dan sulit sekali terjamah perempuan akhirnya perlahan bisa mencair juga oleh seorang Davina yang polos dan sederhana. Mungkin disitulah letak daya tarik Davina yang mampu meruntuhkan keras nya hati Radithya selama ini. "Good job, Vin!!"


Davina bangkit perlahan, dan dengan sigap Radithya membantunya bangun dengan menyangga tubuh bagian belakang Davina dengan lengannya. "aku harus lebih dulu memperhatikannya!, jangan sampai dia mendahului cari muka, huh dasar jomblo ngenes!!!" katanya dalam hati sambil melirik ke arah pak Jo dengan sorot mata tajam penuh intimidasi.


Lalu ia memerintahkan Pak Jo untuk membawakan makanannya, ia berniat untuk menyuapi Davina. Namun spontan Davina menolak karena risi saja, ditambah perutnya sangat kelaperan sekali. Ia berfikir kalau di suapi tidak akan bebas makan banyak dan pastinya akan lama sedangkan saat itu usus-usus yang ada di perutnya sudah mulai demo besar-besaran pengen cepat di isi makanan.


"Tidak apa-apa, saya bisa makan sendiri kok. Dan tanpa persetujuan dari bosnya, walau masih sedikit pusing ia perlahan bangkit dari tempat tidur. Namun kembali sikap lebay Radithya ditunjukkan lagi ke Davina dan Pak Jo, dengan sigapnya ia mengambilkan sendal rumahnya dan memakaikannya ke kaki Davina. Sontak Davina bingung dengan perubahan aneh bos nya itu.


Tanpa banyak bicara Davina menurut saja sepasang kakinya di pakaikan sendal oleh bosnya. "Terserah bapak lah, lakukan apa yang kamu suka!!, yang penting aku bisa cepat-cepat makan!" katanya dalam hati.


Davina berjalan di papah oleh Radithya dengan mesra, kali ini memang Radithya tidak nampak seperti pamer kebaikan. Namun terlihat tulus melakukannya.


Davina duduk didepan meja yang tersaji banyak makanan lezat. Davina sampai bingung harus mulai makan makanan yang mana, karena semuanya nampak lezat dan enak.


Kembali Radithya menunjukkan perhatiannya, ia membawakan piring serta menyendokkan nasinya, lalu menyimpannya di hadapan Davina. Ia memberi kesempatan Davina untuk memilih lauknya.


Tanpa basa-basi dan tanpa jaim-jaiman akhirnya hampir semua menu yang ada di atas meja masuk ke perut Davina. Ia sampai tidak bisa berdiri saking kekenyangan.


Kedua pasang mata Radithya dan Pak Jo sampai tak berkedip melihat begitu lahap cenderung rakusnya Davina makan. Pandangan mereka kompak memandang makanan dan Davina yang masih asyik makan bergantian.

__ADS_1


"Syet dah, si Davina laper atau kerasukan sih?, makan sampai segitunya!!" kompak mereka berfikir sama.


Akhirnya Davina selesai juga makan. Lalu ia melirik ke arah bos nya dan Pak Jo bergantian yang merasa aneh saja karena mereka menatapnya sampai sebegitu dalamnya kepadanya.


"Kalian kenapa?, baik-baik saja kan?" tanya Davina yang merasa heran melihat kedua lelaki aneh itu yang hanya diam saja seperti patung manekin di toko pakaian.


Kembali kompak mereka menjawab:


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja!, itu yang saya harapkan!"


Davina semakin bingung dengan sikap mereka, yang kompak-kompak ngeselin. "Ya sudahlah biarin saja, baguslah kompak selalu. Kalau bisa berkedip pun samaan biar tambah kompak, hehe.."


Davina bangkit perlahan, dan lagi-lagi dengan sigapnya Radithya membantu Davina bangun.


"Iyalah bos, anda menang dan saya kalah!!, dan memang seharusnyalah seperti itu.!" batin pak Jo sambil tersenyum.


"Pak, apa tidak sebaiknya bapak dan Davina cepat-cepat melangsungkan pernikahan?" Kata pak Jo to the point tanpa basa-basi, mengingat mereka terutama si bos sudah terlihat memperlihatkan lampu hijau untuk mencintai Davina.


Uhuk!!...uhuk!!...uhuk!!


Hampir bersamaan Radithya dan Davina batuk, kali ini mereka yang kompak manakala mendengar pak Jo berkata seperti itu. Dan sontak pipi Davina bersemu merah.


Sambil melirik kearah Davina. Radithya berkata:

__ADS_1


"Ya sepertinya aku harus secepatnya melakukannya!, mengingat saat ini kondisi dia sedang butuh perhatian akibat pingsan tadi. Dan hanya saya yang bisa melindunginya. Kamu tenang saja, saya akan selalu ada disisimu!" terang Radithya dengan pedenya yang membuat mata Davina serta Pak Jo hampir loncat mendengar penuturan bos nya tadi.


"Apa gak salah denger nih, dia atau aku yang butuh. kok bisa yah mutar balikan faktanya" Fikir Davina yang sama persis dengan apa yang ada di fikiran pak Jo.


"Bagus pak,! memang itu lebih baik mengingat saat ini kondisi Davina yang masih lemah akibat pingsan tadi hee..!" di lanjut dengan perkataan pak Jo yang sama konyolnya, membuat Davina melotot kearahnya.


"Saya tuh begini bukan karena penyakit, tapi akibat kelakuan bos kamu itu yang tak punya ahklak!, nyuruh nangkepin tukik pecicilan yang seabreg gitu!, dasar songong!!" gerutu Davina dalam hati sambil melirik ke arah pak Jo yang hanya senyum-senyum saja dari tadi melihat reaksi Davina yang kesal.


"Masih ada sisa waktu 3 jam an lagi pak menuju take off, apa bapak tidak ada niat buat jalan-jalan dulu barangkali?" kata pak Jo memberi saran.


"Oiya itu ide bagus, ayo Vin kita jalan-jalan dulu!" dengan semangat Radithya mengajak Davina sambil meraih tangan Davina lembut.


"Tunggu sebentar!, kok perasaan dari tadi saya mencium bau ikan asin ya pak!, tapi dimana yah?" kata Davina sambil mendengus seperti seorang kucing yang menciumi bau makanan pavoritnya, ikan asin!!.


Radithya dan Pak Jo spontan mendengus tubuhnya sendiri. Lalu mereka saling pandang.


"Heee... aku mandi dulu yaaah!" kata Radithya sambil berlalu menuju kamar mandi.


--------xxx------


Di belahan bumi bagian manaaaa gitu, terlihat seorang ibu yang sedang duduk termenung meratapi nasib anaknya yang nestapa. Siapakah diaaaa..... tunggu kisah selanjutnya okey!!!


bersambung

__ADS_1


like nya... komen nya... ditunggu yaaa🙏🏻🙏🏻😘


__ADS_2