Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Putri kecil


__ADS_3

Bu Karsih menghentikan langkahnya, sesaat ia diam tak bergeming sampai suara panggilan mbah Hugell membuyarkan lamunannya.


"Neng!!, kamu dengar kan apa kataku tadi?!. Kita harus buat perjanjian kontrak baru, dan kamu tidak ada alasan untuk menolaknya!" kata mbah Hugell membuat perasaan bu Karsih semakin ketar-ketir.


"Kok maksa sih mbah?!, kalau memang mbah tidak bisa memenuhi keinginan aku yaa gak apa-apa sih mbah?!, sekarang aku pasrah dan mundur saja!!." kata bu Karsih sedikit ragu mengatakannya. Jujur nyalinya untuk tetap maju dengan rencananya si mbah sudah hilang karena akibat rasa takutnya yang telah mengalahkan keinginannya.


"Tapi kamu sudah tidak bisa mundur lagi walaupun itu hanya satu langkah. Spontan sinyal kamu telah terhubung ke makhluk-makhluk itu secara otomatis ketika kamu datang kemarin dan itu artinya kamu sudah terikat kontrak dengan makhluk ghaib penghuni dunia kegelapan!, sedikit saja di hati kamu ada niat untuk mundur!, maka spontan sinyal itu akan menyala dan saat itu juga mereka akan mengetahuinya!, dan ingat!! jiwa kamu dan anakmu akan terancam, bahkan yang lebih mengerikan lagi mereka akan ambil jiwa kalian untuk dijadikan budaknya!. Jadi berhati-hatilah dengan fikiranmu jangan sampai terbersit rencana itu sedikitpun!!". dengan tegas mbah Hugell berkata sambil menatap tajam kearah bu Karsih yang nampak pucat.


Wajah bu Karsih semakin pucat, ia sama sekali tidak menyangka kalau resikonya begitu besar. Namun ia tidak bisa mundur seperti apa yang dikatakan mbah Hugell, dan kini ia benar-benar telah terjebak dalam lingkaran syetan.


"Lalu apa yang harus saya lakukan mbah?, jujur sejak kejadian tadi saya sangat takut sekali!" kalimat bu Karsih terdengar mengiba, ia benar-benar ketakutan.


"Kamu hanya tinggal menuruti semua kata-kataku dan percayakan semuanya padaku!, dan saya jamin kamu dan anak kamu akan baik-baik saja!" kata mbah Hugell meyakinkan. Lalu lanjutnya :


"Nanti saya akan arahkan apa yang harus kamu lakukan, dan kamu hanya tinggal menjalankannya saja tanpa protes dan banyak bertanya!, kamu mengerti?" terang mbah Hugell yang diakhiri dengan pertanyaan yang mengandung intimidasi.


"Iya baiklah, saya akan turuti semua perintahmu asalkan mbah bisa jamin keselamatan aku dan anakku!!. Kata bu Karsih memberi penegasan tentang kepastian jaminan keselamatan ia dan anaknya.


"Okey!!, itu sudah pasti!. Sekarang kamu boleh pulang, saya antar kamu!" kata mbah Hugell.


Bu Karsih duduk bersebelahan dengan mbah Hugell tepat di depan jendela yang menghadap ke pohon besar. Kemudian nampak mbah Hugell menyatukan telapak tangannya yang ia tempelkan didadanya seraya memejamkan matanya yang langsung diikuti bu Karsih.


Tiba-tiba nampak tubuh mereka bergetar hebat seiring menghilangnya kedua tubuh mereka dari tempat itu. Tak lama...


"Neng, buka matamu dan cepatlah masuk kedalam!" kata mbah Hugell sembari menyentuh sedikit lengah bu karsih. Perlahan bu Karsih membuka matanya, dan ia langsung terlonjak kaget karena tiba-tiba ia telah berada di depan pintu rumahnya.


""Mbah, ini rumah saya bukan?! kok bisa??. lha motor aku dimana?" tanya bu Karsih heran sambil melirik kearah mbah Hugell.


"Ahh sudahlah, soal motor dia aman di rumahku!. Kapan-kapan kamu bisa ambil kembali nanti, yang penting sekarang kamu sudah pulang kerumah kamu sendiri dengan aman.!" kata mbah Hugell.

__ADS_1


"Yaa tapi kan itu motor kesayangannya anak aku mbah, nanti gimana dia kalau mau pergi ke tempat kursusnya, bisa merajuk dia mbaaah!. Aahhh... si mbah ini, kenapa tidak sekalian minta bawain motor aku juga sih sama mereka. Bagi mereka kan gampang cuma mindahin motor segeda gitu doang mah mbah..., tinggal ditiup saja barangkali.. iiihh... si mbah gimana siii!!... terus saya ha..." belum juga bu Karsih melanjutkan kalimatnya, mbah Hugell sudah tak nampak lagi batang hidungnya. Berarti dia dari tadi hanya bicara sendiri yang langsung membuat bu Karsih tepuk jidatnya sendiri sambil menggerutu.


"Huh dasar aki-aki peot sendiri main kabur saja, gak sopan banget sih!!!.... ya sudahlah soal motor biar nanti saya suruh si Kardun saja yang ambilin!" gumam bu Karsih sambil masuk ke rumahnya yang memang tidak di kunci.


----------0000----------


Dikediaman pak Ba


Terlihat Radihtya, pak Jo dan pak Ba masih berbincang dengan serius, sementara Selamet kabagian piket jaga di tempat praktek pengobatannya.


Davina mulai merasa bosan karena topik yang dibicarakan hanya seputar itu-itu saja. Sementara titik temu jalan keluar masih mengambang. Kemudian ia berdiri menghampiri sebuah jendela yang menghadap ke sebuah pasar tradisional yang ramai dikunjungi para pelancong yang ingin berbelanja.


Tiba-tiba kedua netranya menangkap sebuah pemandangan yang menarik perhatiannya. Terlihat seorang gadis kecil sedang menjajakan sebuah pernak - pernik dan souvenir ciri khas daerah pesisir pantai.


Dengan ramah dan gesitnya ia melayani setiap pengunjung yang membeli bahkan dengan sabar pula ia menjawab para pelancong yang hanya sekedar bertanya atau menawar saja, anak gadis itu pun dengan cepat meresponnya. Davina sampai terpesona melihat kelincahan anak kecil itu dalam menjajakan barang dagangannya.


Karena penasaran, Davina akhirnya meminta izin untuk pergi kepasar itu dan menemui pedagang cilik yang menarik perhatiannya.


Tiba-tiba telinganya mendengar suara anak perempuan yang menawarkan dagangannya dengan suara lantang, Davina menolehnya dan ternyata gadis cilik itulah yang dicarinya.


Dengan cepat Davina menghampirinya, nampak pedagang cilik itu sedang dikerubungi pembeli yang banyak diantaranya adalah para emak-emak dan anaknya. Mereka sibuk memilah dan memilih barang - barang unik yang di jajakan pedagang cilik itu.


Walau awalnya sedikit kesulitan untuk mendekati gadis cilik itu, namun akhirnya iapun bisa lebih dekat dengannya.


Dan alangkah terkejutnya Davina melihat pedagang cilik itu, ternyata ia seorang tuna netra. Namun anehnya ia bisa menjalankan usahanya itu tanpa mengalami kesulitan, baik dari memilihkan warna kepada para pembeli maupun dalam transaksi pembayaran dan memberikan uang kembalian. Semua ia lakukan dengan tepat tanpa terlihat kesulitan sama sekali. Davina begitu kagum.


"Kakak cantik, pasti kakak penasaran kan dengan saya?. Sini kak kemari, saya punya sesuatu yang bagus buat kakak!" kata gadis cilik itu menoleh kearah Davina yang sontak membuat Davina kaget. Ia heran kenapa gadis cilik itu bisa tahu dirinya seorang perempuan dan mengetahui juga kalau dirinya memang penasaran dengan gadis cilik itu.


"Kok kamu tahu kalau kakak ini perempuan sih heee.....?" sedikit ragu karena takut menyinggung perasaannya, Davina akhirnya melontarkan pertanyaan itu.

__ADS_1


"Karena saya bisa mencium aroma parfum yang kakak pakai, dan saya sangat tahu pasti kalau aroma seperti ini itu kebanyakan dipakai sama perempuan. Betul gak kak?!" kata gadis cilik itu sambil tersenyum manis.


"Oiya benar juga kamu, pintar banget sih kamu!!" puji Davina. Lalu ia menyodorkan lengannya untuk menjabat tangan gadis itu untuk berkenalan.


"Nama kakak Davina, panggil saja kakak Vina. Nama kamu siapa sayang?" tanya Davina ramah sambil menatap lekat wajah polos pedagang cilik itu.


"Saya Putri kak, rumah saya di seberang sana tepat dibelakang rumah praktek pengobatan alternatif pak Selamet." kata Putri sambil mengulas senyum memperlihatkan deretan gigi gingsulnya yang menambah manis wajahnya.


"Wow nama yang cantik sekali, secantik wajahnya. Kamu kok jualannya sendirian saja? dimana orang tua kamu?" karena penasaran Davina akhirnya bertanya.


"Orang tua saya sudah meninggal karena kecelakan kapal laut yang karam. Waktu itu usia saya baru lima bulan. Dan saya di besarkan oleh nenek sampai sekarang. Namun sekarang, nenek sedang sakit makanya saya yang gantikan jualan ini disini." katanya sambil tangannya tanpa henti membereskan barang dagangannya yang sempat acak-acakan. Tak ada guratan kesedihan di raut wajahnya, ia begitu ikhlas menjalani hidupnya yang nampak begitu keras di usianya yang masih terbilang sangat muda, namun ia begitu tegar menghadapinya. Ia nampak begitu cantik bagaikan bidadari kecil yang turun dari kahyangan.


"Kamu hebat sayang, kakak bangga dan senang berkenalan dengan kamu!" kata Davina kembali memuji.


Putri hanya tersenyum tanpa merespon dengan kata-kata. Ia masih asyik dengan pernak-pernik dagangannya yang masih belum tertata rapi.


Tiba-tiba ia terdiam seolah ada sesuatu yang di fikirkannya. Kemudian ia melirik kearah Davina yang asyik memperhatikan gerak-gerik Putri yang cekatan walau dirinya memiliki kekurangan.


"Kenapa Put?!, ada yang bisa kakak bantu?" tanya davina menawarkan bantuan.


"Tidak kak, terimakasih!. tapiii..." Putri tidak meneruskan kalimatnya, perlahan tangannya meraih lengan Davina yang duduk di sampingnya.


"Saya merasakan sesuatu yang aneh didalam diri kakak, tapi Putri tidak tahu apa itu!" katanya sambil tangannya terus mengelus lembut telapak tangan Davina.


Sesaat Davina diam, fikirannya melayang mencerna setiap kalimat yang di ucapkan gadis kecil yang baru dikenalnya. Namun ia merasa begitu dekat dan nyaman berada disisinya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Davina penasaran.


bersambung

__ADS_1


like dan komennya yaaa.... terimakasih... lopeyu...🥰🙏🏻


__ADS_2