Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Sepertinya cemburu...


__ADS_3

Terlintas di benak Davina sebuah ide. Bagaimana caranya agar ia bisa pergi meninggalkan lelaki tua itu tanpa membuatnya tersinggung.


"Awh!, kenapa perutku tiba-tiba sakit ya?" kata Davina pelan.


Lelaki itu menatap Davina cemas, "Kamu kenapa?, mana yang sakit?, apa perlu saya panggilkan dokter pribadi saya agar dia datang kesini sekarang, kebetulan tempat prakteknya tidak jauh dari sini!", kata lelaki itu cari perhatian.


Tangannya hendak menyentuh tangan Davina, namun dengan cepat Davina menghindarinya dengan berpura-pura lagi sambil memegangi kembali perutnya.


"Aduuuh maaf pak, tiba-tiba perut saya sakiiit sekali, maaf saya sudah tidak tahan lagi. Permisi saya kebelakang dulu" tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu, Davina langsung pergi.


"Oiya silahkan..silahkan!, apa perlu saya antar?" katanya sambil menatap Davina iba, masih tetap cari perhatian.


"Terimakasih pak, tapi tidak usah. Saya bisa sendiri!" jawab Davina. Kemudin ia pergi meninggalkan lelaki itu yang nampak bingung dan kecewa namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


--------×××---------


Langkah Davina sengaja dipercepat supaya ia bisa cepat sampai di kamarnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika seorang lelaki tampan yang sedari tadi memperhatikannya menghalangi langkahnya. Sambil tersenyum ramah ia menyapa Davina.


"Kamu mau kemana?, saya baru saja mau menghampiri mejamu, namun keduluan sama Pak Yoga heee..." katanya sambil tersenyum penuh makna. Davina pun tersenyum, namun hatinya masih was-was karena takut bos nya keburu datang.


"Oh maaf, saya mendadak ada urusan jadi saya permisi dulu ya!" kata Davina sopan, namun jujur saja jantung nya terasa mau copot ketika melihat senyum serta tatapan pria itu yang menawan.

__ADS_1


"Tunggu sebentar!, apa boleh saya minta nomer ponselmu dulu? yaaa... mungkin suatu saat kalau saya perlu sesuatu mengenai proyek kita, saya bisa dengan mudah menghubungi kamu. Pliiis... ya! tulis di sini saja!" katanya sambil menyodorkan ponselnya.


Tidak ada alasan lagi, akhirnya Davina mengetikan nomernya dengan harapan supaya lebih cepat urusannya dan secepatnya bisa pergi ke kamarnya.


"Terimakasih telah mau menerima hadiah kecil dari saya, ya mungkin tidak seberapa. Namun saya harap ini awal dari pertemanan kita. Dan saya sangat berharap bisa dekat lagi dengan kamu!", sambil menerima kembali ponselnya yang di sodorkan Davina. Tiba-tiba...


"Ehem..."


Terdengar suara dehaman tepat di belakang Davina berdiri.


"Deg!"


"Pak Raa...dith, maaf pak! tadi saya sudah menunggu bapak di meja 39, tapiii..." sejenak Davina diam, ia melihat sorot mata bos nya yang nampak tidak bersahabat. Ia tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.


"Sekarang kamu mau kemana?" tanyanya ketus. Dari sorot matanya menandakan ketidaksukaannya melihat Davina dekat dengan lelaki lain. Davina hanya diam, ia bingung mencari alasan.


"Ayo ikut aku!" sambil sedikit menarik lengan Davina yang masih terlihat mati kutu.


Fachri yang dari tadi menyaksikan adegan drama antara Davina dan bos nya hanya bisa tersenyum, ia sudah tahu karakter Radithya, yang baginya siapapun tidak ada yang boleh mengusik atau mengganggu miliknya, sekalipun itu seorang pelayan rumahnya, ia akan mati-matian mempertahankannya. Apalagi ini seorang Davina, yang pastinya ia adalah salah satu aset pribadi berharga baginya.


"Sepertinya kamu telah menemukan mainan baru, lihat saja Dith, bagaimana perasaanmu kalau mainanmu itu saya rebut", selintas seringai licik nampak di bibirnya.

__ADS_1


Kemudian ia pun berlalu meninggalkan tempat itu.


---------×××××××-----------


"Sekarang kamu sudah berani membantah perintahku ya?" kata Radithya sambil menatap tajam Davina dari atas sampai bawah. Ia merasa kesal karena Davina sudah mulai tidak patuh.


"Dan ini apa?" sambil menunjuk gaun yang dipakai Davina. "Sejak kapan kamu mempunyai model baju seperti ini?, sudah kubilang kan kalau kamu harus pakai gaun yang tadi saya kasih!" kata Radithya tegas.


"Maaf pak, tadi saya sudah coba menghubungi bapak untuk menanyakan gaun warna apa yang tadi bapak kasih, soalnya ada dua gaun yang saat itu datang bersamaan, dan saya lupa mengingatnya mana yang dari bapak" terang Davina mencoba menjelaskan.


"Apa!, kamu mendapatkan gaun lain dari siapa hah? kok kamu tidak bilang. Pantesan saja kamu lebih memilih memakai baju ini ketimbang memakai baju pemberianku. Dan ini apa?, kok saya baru lihat!" katanya sambil menunjuk kalung berinisial D yang dipakai Davina.


"Jangan-jangan kamu menerima sogokkan dari rekan bisnisku ya agar mereka bisa mendapat kucuran dana dariku lewat kamu, iya kan?, kamu sudah diberi apalagi hah, cepat jujur padaku!" dengan sinisnya Radithya berkata pedas seolah ia sedang menginterogasi seorang kriminal.


Mata dan telinga Davina terasa panas ketika mendengar semua tuduhan tak berdasar itu. Ia merasa kali ini harga dirinya terusik. Ia sama sekali tidak terima, dengan beraninya ia menatap kembali tatapan tajam bos nya sambil berucap.


"Sedangkal itukah otak anda, pak!" sambil pergi berlalu meninggalkan bos nya yang masih menatap tak percaya dengan apa yang di ucapkan Davina barusan. Sejenak ia termenung sampai terdengar suara Pak Jo memanggilnya.


bersambung


mohon tinggalin jejak yah, dengan like dan komennya. makasih🙏🏻🙏🏻🙏🏻😘

__ADS_1


__ADS_2