
Rasa penasarannya seolah semakin memenuhi kepalanya. Davins merasa ada sesuatu yang mencurigakan dan ia harus segera menyelidikinya.
Perlahan ia melangkah ke arah jendela yang berada didepannya, sedikit menyibakkan tirai kedua netranya menangkap sekilas sesosok bayangan hitam yang melewati jendela kamarnya.
Davina terkesiap dan jantungnya hampir saja copot manakala samar-samar ia melihat wajah bayangan sosok itu.
"Sepertinya aku pernah lihat lelaki itu, tapi dimana ya?" gumam Davina dengan tatapan mata tajam mengawasi setiap gerak gerik lelaki itu. Ia tidak mau gegabah mengambil tindakan, mengingat malam itu benar-benar sudah larut dan sepertinya semua penghuni rumah sudah terlelap tidur dan hanya dia saja yang masih terjaga.
Davina hanya mengawasi gerak-gerik lelaki itu, ia penasaran dengan apa yang akan di lakukannya. Dan anehnya, sepertinya lelaki itu bukan untuk mencuri sesuatu karena ketika ia melewati barang-barang antik yang berada disana, ia sepertinya tidak tertarik. Dan itu membuat Davina semakin penasaran.
"Aneh, sepertinya ia bukan mau merampok rumah ini." batin Davina. Matanya masih tetap awas mengawasi gerak-gerik pria aneh itu.
Tiba-tiba terlihat lelaki itu mengambil sesuatu dari dalam tas selendang nya, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil yang di bungkus kain merah. Perlahan ia membukanya dan mengeluarkan sebuah botol kecil.
Tak lama nampak lelaki itu diam dan berdiri tepat di depan kamar Radithya, sebelah tangannya meraba pintu kamar Radithya. Sesaat tak ada aktifitas lain selain menyentuh pintu itu. Aneh dan benar-benar aneh. Itu yang ada di dalam fikiran Davina saat itu.
Selang beberapa menit lelaki itu terdiam, namun tak lama ia bergeser kesebelah kiri dengan gestur tubuh merunduk dengan sebelah tangan bersedekap di dada seolah sedang melakukan penghormatan terhadap seseorang.
Tiba-tiba angin terasa berhembus begitu kencang, tirai jendela yang tadinya nampak tenang tiba-tiba melambai-lambai tertiup angin dan anehnya hanya di ruangan itu saja yang terasa anginnya begitu kencang. Dan lagi-lagi Davina menyaksikan keanehan di luar nalar.
Tubuh Davina mendadak gemetar, jantungnya berdegup kencang dan matanya membulat lebar. Sesaat ia hanya diam terpaku menyaksikan keanehan tersebut, sampai tiba-tiba suara ponselnya berdering pelan.
Dengan cepat Davina meraihnya dan melihat hanya nomer tanpa nama saja yang tertera di layar.
"Siapa malam-malam begini menelponku?, angkat jangan ya?!... iiiih... bikin nambah takut saja!" batin Davina sambil menatap layar ponsel yang masih berdering pelan.
Sedikit ragu akhirnya ia menjawab panggilannya.
"Halo, si..siapa ini?!" tanya Davina pelan.
"Terimakasih telah di jawab, kamu tidak perlu tahu siapa saya yang pasti saya akan menolong kamu dan teman kamu yang sekarang ada dalam bahaya!, tapi sebelumnya saya ingin membuat perjanjian dahulu dengan kamu, karena saya pun butuh pertolongan kamu!. Bagaimana?, kamu bersedia?!" tanyanya. Sesaat ia menghentikan kalimatnya.
"Maksud kamu apa, tolong jangan membuat saya tambah bingung!" akhirnya kalimat itu terlontar dari bibir Davina yang sedikit gemetar.
"Kamu tidak punya banyak waktu!, sekarang jiwa teman kamu sedang dalam bahaya!. Jadi cepat ambil keputusan dan segera kita buat perjanjian, karena hanya saya yang bisa menolong kamu dan juga teman kamu!" katanya tegas dan penuh intimidasi.
"Baik!, apa yang harus saya lakukan sekarang!. Tapi ingat!, berhubung saya tidak mengenal kamu jadi saya pun berhak menolak permintaan kamu, apalagi yang bersifat membahayakan diri saya sendiri!" kata Davina memberanikan diri.
"Baiklah, soal perjanjian itu saya pegang omongan kamu tadi dan saya percaya kalau kamu orang yang baik!. Sekarang fokuslah ke masalah kamu sekarang, saya merasa ada orang yang berniat jahat terhadap teman kamu!. Ambillah benda yang berada diatas meja itu dan bukalah!, tebarkan isinya perlahan di depan pintu dan ingat jangan sampai terlihat orang itu!. Dan jika terlanjur di ketahui orang itu, lemparkan benda yang berbentuk tali yang di simpul dengan bunga yang ada di kotak itu!" katanya. Sesaat nampak hening seolah ia memutus percakapan.
"Halo... kotak apa maksudnya?, halo... halo...!" berulang kali Davina memanggilnya, namun tidak ada jawaban lagi disana.
Davina melihat layar ponselnya yang nampak panggilan sudah tidak berlangsung. Kemudian ia melirik ke arah meja yang di sebutkan penelpon misterius tadi. Dan benar saja, ada sebuah kotak kecil.
"Eh apa itu, sepertinya aku pernah lihat benda itu. Ahhhh... iya...iya.., itu kotak yang ada di tempat Putri jualan tadi. Tapi kenapa bisa ada di sini ya?!, perasaan tadi tidak ada." gumam Davina sambil menghampiri mejanya dan meraih kotak itu.
Perlahan ia membukanya, dan ternyata benar isinya sesuai dengan apa yang dikatakan si penelepon misterius tadi.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini logikaku aku kesampingkan dulu, mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Putri kalau di dunia ini ada yang dinamakan dunia ghaib. Ok!, aku coba!" kata Davina sedikit berapi-api, namun tak bisa di pungkiri kalau jantungnya masih saja berdegup kencang.
"Bismillah, semoga saja ini bisa membantu!" katanya lirih.
Kemudian ia bangkit menuju pintu, perlahan ia membukanya. Namun sebelumnya ia telah mempersiapkan terlebih dahulu benda yang tadi di arahkan si penelepon misterius tadi.
Davina membuka botol kecil yang berisi serbuk yang berwarna hitam yang baunya begitu menyengat dan hampir saja membuat Davina bersin dan batuk-batuk kalau saja ia tidak menahannya sekuat tenaga sebelum serbuk itu tertabur semua.
Namun karena baunya yang begitu menyengat di hidung membuat Davina benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi, aromanya benar-benar menggelitik hidungnya sehingga membuat Davina tak kuasa lagi menahan rasa ingin bersin.
Akhirnya ia pun bersin beberapa kali sehingga membuat lelaki aneh itu terkejut dan menolehnya. Sesaat mereka beradu pandang. Tiba-tiba angin kencang berhembus seolah mengarah ke Davina yang terduduk didekat pintu.
Namun dengan cepat Davina teringat perkataan si penelepon miaterius tadi, lalu ia mengambil ikatan simpul serta bunga yang ada didalam kotak itu dan melemparnya kearah lelaki itu.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan disana, terdengar suara raungan yang begitu menggelagar serta hentakan-hentakan yang memekakkan telinga. Davina begitu ketakutan, dengan cepat ia masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamar.
Entah apa lagi yang terjadi di luar kamarnya, yang jelas kegaduhan serta suara-suara aneh itu perlahan menghilang. Dan anginpun kembali berhembus normal.
Davina masih diam, dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi. Sekilas ia tadi melihat sebuah bayangan hitam yang tinggi menjulang dengan sepasang mata merah menyala yang memandangnya dengan tajam.
Perlahan ia sandarkan tubuhnya dibelakang pintu, ia coba pejamkan matanya serta mengatur deru nafasnya yang memburu supaya bisa kembali normal. Dan berhasil, ia bisa sedikit tenang. Kemudian ia bangkit perlahan mendekati ranjangnya.
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi ini?, kenapa saya harus menghadapi masalah di luar nalar seperti ini?!" kata Davina dalam hati.
Davina merasa letih, tubuhnya ia rebahkan diatas ranjangnya dan tak lama iapun terlelap tidur.
"Tetap tidur, dan bangkitlah ragamu! jangan khawatir, saya hanya ingin meminjam ragamu sebentar!"
Sekilas tidak ada keanehan disana, namun tiba-tiba asap tebal membumbung tinggi memenuhi seisi ruangan kamar, lalu perlahan menyelimuti tubuh Davina. Dalam sekejap tubuh Davina hilang entah kemana.
Setelahnya keadaan didalam kamar kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
----------------×××××××--------------
Pagi itu cuaca begitu cerah, sinar mentari dengan lembut memasuki setiap celah yang mencoba menghalangi sinarnya. Semilir angin laut serta kicauan burung laut menambah keindahan suasana pagi itu.
Radithya dan pak Jo yang dari tadi telah terbangun nampak sedang duduk didepan halaman rumah pak Ba, sementara pa Ba sendiri saat itu sedang keluar rumah.
"Davina belum bangun, Jo?" tanya Radithya merasa aneh karena Davina belum juga keluar kamar padahal pagi waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.
"Iya, tidak biasanya ia bangun telat. Apa perlu saya bangunkan pak?!" tanya pak Jo sambil melirik kearah bosnya.
"Iya, coba kamu bangunkan dia!" katanya sambil meraih cangkir minuman yang tersaji didepannya.
Pak Jo pergi melangkah menuju kamar Davina, perlahan ia mengetuk pintu beberapa kali namun hening dan tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Tiba-tiba terselip perasaan cemas di hati pak Jo, kemudian ia kembali menemui bos nya setelah beberapa kali ia coba mengetuk pintu namun tidak ada jawaban juga dari Davina.
__ADS_1
"Pak, saya sudah berkali-kali mengetuk pintunya namun tidak ada jawaban dari dalam. Saya takut terjadi apa-apa sama dia!" kata pak Jo sambil menatap lekat bosnya.
Radithya sesaat diam, tanpa berkata sepatah katapun lalu ia melangkah menuju kamar Davina.
Ia coba beberapa kali mengetuk pintunya, namun sama saja tidak ada jawaban dari dalam membuat ia semakin cemas.
"Bagaimana pak, apa kita buka paksa saja pintu ini?" tanya pa Jo memberi saran.
"Tidak!, jangan dulu!. Kita tunggu pak Ba pulang!" kata Radithya walau sejujurnya ia juga memeliki pemikiran yang sama yaitu ingin membuka paksa pintu kamar itu, namun ia masih memiliki etika karena ia sebagai tamu disana.
Sesaat tidak ada percakapan diantara keduanya, sampai terdengar suara mobil pak Ba parkit di depan pintu gerbang. Mereka langsung beranjak dari kursi dengan kompak menuju pak Ba yang baru keluar dari mobilnya.
"Pak, ada sesuatu yang aneh. Kali ini menimpa Davina, sampai sekarang ia belum juga bangun. Dan sudah saya coba ketuk pintunya berkali-kali, namun tidak ada juga jawaban darinya. Saya takut terjadi apa-apa padanya.!" kata Radithya panjang lebar dengan nada sedikit gugup.
Nampak pak Ba mengkerutkan sedikit dahinya, tanpa memberi jawaban lalu ia pun berlalu menghampiri kamar Davina.
Perlahan ia coba mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Lalu ia berkata:
"Nak, tolong ambilkan kunci serep yang ada di laci nakas, ambil semuanya!" kata pak Ba sambil melirik kearah pa Jo. Dengan sigap pak Jo mengambil kunci yang berada di laci nakas.
Tak lama, pak Ba mulai membuka kamar Davina.
Nampak posisi kamar begitu rapi seolah tidak pernah dipakai tidur. Dan alangkah terkejutnya mereka karena Davina tidak berada disana sedangkan kamar bisa terkunci dari dalam.
Pak Ba memeriksa jendela kamar yang berteralis dan sangat tidak mungkin untuk bisa keluar lewat jendela.
Radithya dan pak Jo hanya bisa saling pandang, mereka benar-benar bingung dengan apa yang telah terjadi.
"Kemana dia Jo?, kenapa pintu kamarnya bisa terkunci dari dalam sedangkan dianya sendiri tidak ada di dalam, aneh!" setengah berbisik Radithya bertanya pada pak Jo.
Terlihat pak Ba mendekati meja yang nampak tergeletak sebuah kotak kecil yang telah kosong. Ia meraihnya sambil mengamati benda itu. Tak lama terdengar gumaman kecil.
"Rupanya kalian." gumam pak Ba sambil pergi berlalu meninggalkan mereka berdua tanpa berkata sepatah katapun, menambah daftar heran yang mengisi penuh kepala mereka.
----------xxxxx------------
Di sebuah gedung megah yang nampak begitu kumuh dan tak berpenghuni, terlihat dua orang perempuan dengan seorang anak kecil sedang berdiri menghadap jendela. Mereka adalah Davina, Putri dan neneknya.
Sayup-sayup terdengar suara denting jarum jam menunjukkan waktu sudah pukul 12 siang. Sepertinya hanya jam tua itu saja yang tersisa di bangunan tua itu yang masih setia memberikan keterangan waktu di setiap harinya semenjak tragedi tsunami yang banyak menelan korban jiwa.
Tiba-tiba Davina mundur kebelakang beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat, matanya terpejam sementara bibirnya komat-kamit seolah sedang mengucapkan sesuatu yang tidak begitu jelas terdengar.
Nenek merangkul pundak Putri seraya berucap :
BERSAMBUNG
like dan komen nya yaaa.. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻😘
__ADS_1