Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Tanda merah


__ADS_3

Semenjak keluar dari kamar mandi tadi, Davina hanya berdiri didepan cermin memandangi dirinya yang berbalut handuk. Ia sangat terkejut ketika ia baru menyadari bahwa ada banyak tanda merah disekitar leher dan dada bagian atas. Belum lagi lengan yang masih terasa linu akibat cengkraman tangan bosnya yang kuat. Ia kembali berfikir mengingat apa yang terjadi semalam.


"Semalam si bos begitu memaksa untuk menyentuh tubuhku, sebenarnya dia itu kenapa sih?, kalau memang dia mabuk karena alkohol, pastinya dari mulutnya akan tercium bau alkohol, tapi kok ini engga ya?" Fikir Davina mencoba menelaah apa yang sebenarnya terjadi pada bos nya semalam sampai dia tidak bisa mengendalikan hasrat birahi kelaki-lakiannya.


"Aaaah bikin pusing saja!, kenapa si segala sesuatu yang berhubungan dengan dia selalu saja bikin pusing?. Sedikit memoncongkan bibirnya akibat kesal, lalu Davina cepat-cepat memilih pakaian kerjanya.


"Tapiiii..... eh tunggu!...tunggu!... bagaimana ini?" sambil mendekat kearah cermin, meneliti satu persatu tanda merah yang nampak jelas di lehernya yang sangat gak mungkin kalau harus ditutupi plester semua. Bisa-bisa habis satu pak baru bisa menutupi semuanya, fikir Davina.


"Berarti kali ini aku harus memakai baju yang bisa menutupi semuanya. Tapi yang mana ya?" Kembali Davina bingung, kali ini ia kebingungannya didepan lemari pakaiannya bukan didepan cermin lagi.


"Ya sudahlah, aku pakai baju ini saja!" Akhirnya Davina pun dengan segera memakai pakaiannya walaupun ia sudah dapat menerka apa yang akan dikatakan bosnya nanti jika ia melihat kostum yang ia kenakan sekarang.


tuuuut....tut....


Terdengar suara panggilan telepon, Davina langsung menjawabnya.


"Iya Hallo pak!" jawab Davina

__ADS_1


"Hei, kamu ngapain dulu si? lama banget! sudah tahu kita akan ada meeting, cepat kemari sekarang!" kata Radithya yang sudah muncul lagi sifat juteknya. Davina yang sedang mencoba menutupi tanda-tanda merah dileher serta sedikit luka di bagian lengan dan pipinya hanya bisa menggerutu dalam hati. "Iya pak siap!, saya segera kesana!"


"Huh, dasar bos songong!, aku tuh lama gara-gara perbuatan gak ada akhlak kamu kemarin. Masa iya harus mengikuti meeting dengan leher dan wajah babak belur begini, bisa heboh nanti." gerutu Davina sambil bergegas menuju pintu keluar.


-----------xxxxxx----------


"Sepertinya ada yang sengaja ingin menjebak saya kemarin, apa kamu sudah menanyakan soal ini sama dia?" tanya Radithya memecah keheningan. Ia heran dan masih belum mengerti tentang apa yang terjadi semalam, yang ia ingat dan baru bisa menyadari nya adalah ketika ia sudah berada di kamar mandi, selebihnya hanya bayang-bayangan sekilas yang melintas dalam benaknya, membuat ia penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Kamu sudah tanya Vina soal awal kejadian kemarin?" lanjutnya penasaran. Pak Jo hanya bisa menggelengkan kepala karena ia belum sempat menanyakan secara detil kronologis kejadian nya.


"Kamu kenapa, meriang?" tanya bosnya heran sekaligus penasaran karena tadi pagi ia masih melihat Davina baik-baik saja. Begitupun dengan pak Jo yang melongo melihat penampilan Davina yang aneh.


"Heee... gak pak, saya baik-baik saja kok!" kata Davina sambil membenarkan posisi syal yang melingkar di lehernya. Tak lupa ia pun merapihkan baju rajutan tebal buatan tangan ibunya yang nampak kusut karena terlalu lama dilipat dilemari yang sengaja Davina bawa jika ia kedinginan di suatu tempat.


"Saya hanya kepengen pakai baju ini saja pak, agak sedikit kedinginan juga sih, heeee...., gak apa-apa kan?" kata Davina cengengesan dengan gestur tubuh seolah sedang kedinginan, membuat bos nya sedikit geram dengan alasan Davina yang tidak masuk akal itu. Pak Jo hanya geleng-geleng kepala tanpa berminat ikut mengomentari penampilan Davina yang seperti hendak pergi kemping ke gunung salju.


"Kamu sudah lupa ya dengan peraturan soal penampilan kamu ketika kerja!, JANGAN PERNAH MEMAKAI PAKAIAN YANG TIDAK ADA DIDALAM LEMARI KHUSUS PAKAIAN KERJAMU!!!...., masa kamu belum mengerti juga?" bentak Radithya geram dengan nada suara penuh penekanan.

__ADS_1


"Iya saya tahu pak, tapiiii..." sejenak Davina menghentikan kalimatnya karena ia merasa canggung untuk menjelaskannya, mengingat itu sangat memalukan baginya.


"Tapi apa?" masih dengan ekspresi juteknya ia melihat Davina dengan tatapan tajam.


"Tapi saya malu pak, karenaaa.... aaahhh sudahlah pak, ngapain si harus ngurusin penampilan saya segala? Kan yang penting acara meetingnya bisa sukses tanpa kendala apapun. Ribet amat sih!" kata Davina keceplosan memberi alasan saking kesal dan bingung mencari jawaban, kadang ia merasa jengkel kalau sudah berurusan dengan pakaian dan penampilan yang harus serba perfect dimata bosnya. Berbanding terbalik dengan sifat Davina yang simple dan cenderung gak neko-neko dalam urusan penampilan, yang penting baginya ia merasa nyaman saja.


Radithya penasaran, ia tidak begitu saja menerima alasan Davina yang tidak masuk akal. Kemudian ia mendekat kearah Davina yang masih merapih-rapihkan syalnya yang dirasa panjang sebelah.


Tiba-tiba Radithya menarik syal yang dipakai Davina, nampak dengan jelas beberapa tanda merah kebiru-biruan dileher Davina serta di pipi kiri Davina seperti bekas gigitan.


"Hei, kenapa dengan lehermu itu? kamu alergi ya? atau kena gigitan nyamuk? kok besar-besar amat! banyak lagi sampai merah-merah gitu?" tanya Radithya penasaran yang membuat Davina makin ilfil saja. Ia semakin cemberut.


Pak Jo yang dari tadi hanya diam, kali ini dia bangkit dan mendekati Davina karena penasaran dengan apa yang dikatakan bosnya.


bersambung


__ADS_1


__ADS_2