Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Rencana baru Fachri


__ADS_3

Malam semakin larut, terlihat tiga penghuni kamar yang terlelap tidur dengan posisi yang berbeda. Radithya tidur di ranjangnya, sementara pak Jo tidur dikursi dekat ranjang dengan posisi tangan telungkup ke ranjang disamping bosnya tidur.


Dan Davina tidur di sofa empuk dekat jendela. Ia begitu pulas sampai-sampai dengkurannya pun terdengar keras.


---------xxxxx---------


cit...cit...cuit....cit...cit...cuit...


Terdengatr suara burung berkicau dari luar jendela, cahaya mataharipun masuk disela-sela gorden yang menjuntai indah.


Mata Radithya terlihat berkedip dan mulai terbuka perlahan, karena silau dengan cahaya matahari yang masuk lewat jendela.


Perlahan ia bangun, nampak pak Jo disisinya masih terlelap tidur, sementara Davina pun masih asyik mendengkur.


Iya coba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, kepalanya sedikit pusing. Bergegas ia pergi kekamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal.


ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Radithya keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Rambutnya terlihat basah. Dan bagi siapapun yang melihatnya, terutama kaum hawa, pasti ia akan terpesona dengan ketampanannya.


Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecilnya, ia menghampiri pak Jo untuk membangunkannya. Ia menepuk punggung pak Jo pelan.

__ADS_1


"Oooh bapak sudah bangun?, maaf saya telat." katanya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang silau dengan sinar matahari yang masuk keruangan.


"Kamu pergilah mandi!, biarkan dia tetap tidur. Sepertinya ia kecapean. Setelah itu kamu datang kesini lagi, sekalian pesan sarapan buat kita bertiga!" kata Radithya sambil menunjuk ke arah Davina yang masih terlelap tidur. Pak Jo pun pamit keluar ruangan.


-------xxxxxxxx----------


"Iiiiih... kemana sih si Fachri, di telpon gak diangkat-angkat". Claudia nampak cemas, dari tadi ia terlihat mondar-mandir sambil sesekali melirik ponselnya.


tok.... tok... tok....


Terdengar suara pintu diketuk dari luar, nampak Fachri telah berdiri didepan pintu dengan nampan makanan yang sengaja ia buatkan untuk Claudia.


"Bagaimana ini?, pokoknya saya gak mau tahu kalau sampai kejadian semalam sampai merusak reputasiku!, ah... tidak!-tidak!.. aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum Radithya memanggilku. Si asisten kampung itu pasti sudah cerita yang sebenarnya pada Radith. Aku harus pergi sekarang!" kata Claudia nampak panik. Bergegas ia menghampiri lemari dan memasukkan pakaian-pakaiannya kedalam koper.


"Hei, kamu tenang dulu!, tidak akan terjadi apa-apa selama kamu masih mau bekerjasama denganku". Kata Fachri terlihat santai.


"Kalau kamu sampai pergi dari sini sekarang, justru itu akan menimbulkan kecurigaan dari mereka." lanjut Fachri sambil menyeruput kopi instant nya.


Claudia nampak diam seolah ia sedang berfikir. Dan memang ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan Fachri, kalau ia sampai menghilang pada saat ini, sedangkan masih ada jadwal presentase produk nya yang harus digelar, pasti itu akan menimbulkan kecurigaan Radithya.


"Ok!, baiklah. Tapi pastikan saya aman!, dan ingat!, jangan pernah sok akrab denganku didepan orang-orang itu, kalau perlu anggap saja kita tidak saling kenal! Mengerti!" katanya tegas. Mungkin itu jalan satu-satunya baginya agar ia bisa selamat.

__ADS_1


Dengan seulas senyum, ia menjawab : "ok dan


secepatnya kita susun rencana baru!" kata Fachri dengan senyum sinisnya. Tangannya terkepal kuat.


-----------xxxxx-------------


Pak Jo masuk ke kamar Radithya diikuti oleh dua orang pelayan hotel yang membawa menu sarapan pagi. Setelah mereka meletakkannya diatas meja. kemudian merekapun pamit.


Sempat mereka melirik Davina yang masih tertidur pulas, namun dengan cepat Pak Jo bisa membaca fikiran aneh mereka dengan satu kalimat telak: "Kalian teruskan pekerjaan kalian, anggap saja mata kalian tidak melihat apa-apa jika kalian masih betah bekerja disini!. Ini hotel milik sahabat Pak Radithya, jadi kapanpun ia bisa meminta beliau untuk tetap memperkerjakan atau memberhentikan kalian kapanpun!" sambil tersenyum ramah namun dengan tatapan mengintimidasi. Akhirnya kedua pelayan itu pergi pamit tanpa berniat berlama-lama disana.


Davina menggeliat, telinganya samar-samar mendengar sebuah percakapan. Matanya terbuka pelan. Ia putar bola matanya kekiri kekanan untuk mengenali ruangan tempat ia berada sekarang.


"Hoaaaamh"... dengan mata yang masih terasa sepet, tanpa sadar Davina menguap keras. Ia mencoba bangun, badannya terasa pegal. Lalu ia mencoba meliuk-liukan pinggangnya yang sedikit kaku kekiri dan kekanan agar rasa pegalnya sedikit berkurang.


"Cepat kamu mandi sana!, ini sudah jam berapa hah?", tuh kunci kamarmu!" kata Radithya membuat Davina tersentak kaget. Dengan segera Davina bangun, ia sangat malu karena dilihatin oleh dua pria tampan dalam kondisi bangun dari tidur dan rambut acak-acakkan.


"Kenapa aku bisa keduluan bangun sama mereka si?, bagaimana coba kalau aku tuh tadi tidurnya mataku melek sebelah, atau sambil ngiler.... iiiiih.... malu...malu..., aku harus cepat-cepat pergi dari sini!" kata Davina dalam hati. Bergegas ia pergi keluar kamar tanpa menoleh lagi, namun tak lama ia kembali lagi karena kuncinya ketinggalan.


bersambung


like n komennya yaaaaa 😘🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2