
Ngapain masih berdiri disitu? Mau balas dendam sama tiang itu ?" Kata Radith dengan nada meledek.
Wajah Davina terlihat masam, walau sedikit malu tapi ia tetap berusaha tersenyum, sambil mengusap pelan dahinya yang masih terasa panas.
" Bagus, kamu datang tepat waktu!, Untuk hari ini kamu boleh beradaptasi dahulu dengan semua karyawan dan pelayan disini, sambil mempelajari daftar tugas yang harus kamu lakukan selama menjadi asisten pribadi."
Bergerak tangannya menyodorkan sebuah map berwarna biru, sambil meneguk jus nya yang terlihat sangat menyegarkan jika di minum disaat cuaca sedang panas.
Davina hanya bisa menelan salivanya karena sejujurnya ia sangat kehausan karena sejak makan bersama ibunya tadi ia belum sempat minum karena keburu ada yang jemput.
"Tolong ambilkan minuman jus seperti ini satu lagi, ada orang yang sedang kehausan disini. Cepat yah!"
Kata Radith entah ditujukan untuk siapa kalimatnya itu yang jelas tiba-tiba Davina merasa malu sendiri karena sempat memperhatikan minuman yang menggoda itu.
"Eh...tunggu-tunggu, apa dia menyuruh pelayannya membuatkan minuman itu untukku juga yah? Kok dia bisa tahu sih? apa dia bisa baca fikiran orang yah?"
Gumam Davina dalam hati sambil melirik Radith yang masih tetap fokus dengan laptopnya, seolah tidak menganggap kalau Davina itu ada.
"Ini jus nya, Tuan!" Kata pelayan itu sambil meletakkan jus itu di meja. Radith hanya mengangguk pelan tanpa menoleh.
Sesaat keheningan terasa, hingga pada akhirnya Radith menoleh kearah Davina yang masih mematung.
"Gak mau duduk?, Tuh cepat minum jus nya biar otakmu gak beku!" Kata Radith yang selalu bermulut pedang kalau bicara.
__ADS_1
Davina perlahan menghampiri kursi kosong yang berada tepat di depan Radith, sedikit canggung kemudian ia mengambil jus yang telah di sediakan untuknya.
"Saya minum, Tuan."
Tanpa menunggu jawaban Radith, Davina langsung meraih gelas jus itu dan meminumnya langsung tanpa fikir panjang.
Tiba-tiba nampak perubahan ekspresi muka Davina sesaat setelah meminun jus itu.
Keningnya mengkerut, pipinya sedikit gembung karena menampung banyak jus yang tidak langsung ia telan, bibirnya terlihat mengerucut lucu dan kedua bola matanya membuka lebar dan perlahan berputar ke kiri dan ke kanan seolah sedang berfikir tentang rasa aneh dari jus itu.
Radith yang melihat reaksi Davina seperti itu tak kuasa menahan tawanya, ia kembali tergelak melihat kesengsaraan Davina dengan ekspresi lucunya itu.
Davina masih tetap di posisinya, ia bingung apakah jus itu harus tetap ia telan atau di buang saja.
"Itu jus wortel, bayam, seledri dan sedikit rempah, sangat baik untuk kesehatan. Bukan jus buah-buahan saja yang harus kamu tahu tuh,!. Terang Radith.
Mulai sekarang kamu harus terbiasa meminum minuman sehat ini, dan ka....." belum juga Radith menyelesaikan kalimatnya, Davina sudah menghambur ke sudut ruangan yang terletak tidak seberapa jauh dari tempat duduk Radith.
Tanpa fikir panjang lagi, ia munt*hkan seluruh beban yang ada didalam mulutnya, ia benar-benar sudah tidak tahan lagi menahan jus aneh itu berlama-lama di mulutnya.
"hooek..uhuk..uhuk" Tubuh Davina membungkuk dengan tangan yang memegang kran air untuk membasuh mulutnya yang terasa kesat.
"Cih... minuman apaan si ini, rasanya kok aneh banget sih. Apa dia sengaja mau meracuniku yah?" Fikir Davina sambil mengelap mulutnya dengan tisue.
__ADS_1
Masih tersisa senyuman di bibir Radith, pandangannya kembali ke laptopnya.
" Tuh minum!" Matanya menunjuk ke sebuah air mineral, Davina langsung meminumnya tanpa basa-basi lagi.
Radith menoleh kearah Davina yang masih berdiri dan terlihat masih sedang mengecap-ngecap lidahnya merasai jus aneh itu yang seolah masih menempel di lidah.
" Ini surat perjanjian kerja yang harus kamu tanda tangani, serta seluruh tugas dan tanggung jawabmu selama jadi asistenku, dan ingat! Seluruh aturan yang tertera bisa berubah kapan saja. Kamu hanya tinggal menjalaninya saja, paham!" Kata Radith tegas tanpa menghiraukan Davina yang terlalu lebay di matanya.
Davina hanya mengangguk pelan sambil mengamati sederet tugas, peraturan serta semua hal yang berhubungan dengan si Tuan Muda, ia hanya melihatnya sekilas tanpa meneliti, fikirnya hanya buang-buang waktu saja kalau harus membacanya satu persatu.
"Ahh.. paling isinya juga peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan, kalaupun ada yang kurang setuju juga, memangnya aku bisa protes? Ahh percuma saja. Paling rakyat kecil mah bisanya cuma manut saja tanpa kuasa protes ,Huhh!"
Bisik hati Davina pasrah sambil menandatangani surat perjanjian kerja tersebut tanpa fikir panjang.
Tersungging senyum penuh misteri dibibir Radithya, ia sudah menduga kalau Davina akan langsung menandatanganinya tanpa di telaah terlebih dahulu, dan itu adalah sebuah keuntungan baginya.
"Sepertinya kamu telah mengerti semua, kalau begitu kamu boleh istirahat!". Sambil berlalu Radith pergi ke kamarnya yang entah dimana keberadaannya karena saking luasnya rumah itu.
Davina hanya bisa mendesah sambil memandang kosong ke ujung taman itu.
" Mari nona saya antar ke kamar anda!" Kata pelayan itu membuyarkan lamunannya, Davina mengangguk pelan kemudian ia pun mengikuti langkah pelayan itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
---) komentar dan like nya saya tunggu yah kak, trimakasih🙏🙏😍😘